
Like lebih dari 500 aku up banyak ya sayang 💖 Bab berikutnya season kedua ya 😂😂😂 Rendy Badboy 💖💖
"Papa!" teriak Rianna.
Seketika mereka semua menoleh kearah sumber suara. Terlihat Rianna berdiri dengan didampingi oleh Rangga yang tengah membawa senjata. Bahkan penampilan dari Rangga kini banyak sekali noda darah yang menempel dibajunya atau bahkan diwajahnya.
Smith segera melepaskan tubuh William. Kedua sudut matanya nampak basah karena dirinya sangat khawatir dengan Rianna. Dengan langkah yang gemetar lelaki paruh baya itu berlari kearah Rianna. Begitu pula dengan gadis itu segera menghambur kepelukan sang papa.
Sesaat Rangga mengawasi pergerakan William. Dengan segera lelaki itu mengarahkan senjatanya kearah lelaki yang bertopeng itu. Kemudian melesatkannya tanpa ampun ketubuh lelaki itu.
Dor dor dor!
Seketika suasna berubah kembali menjadi mencekam. Suara yang begitu memekakkan telinga itu kini berhenti. Mereka semua yang ada disana langsung melihat sesosok tubuh William yang tengah meregang nyawa.
"Terlalu lama. Lebih baik cepat dihabisi bukan?" tanya Rangga tanpa dosa.
Ardan menghela nafas. Kini semuanya telah berakhir lebih buruk dari yang dia bayangkan. Karena mereka semua yang tak ada sangkut pautnya dengan masalah antara dia dan William turut menjadi korban. Dirinya menatap pilu kearah para mayat yang saling tergeletak begitu saja dengan bersimbah darah.
__ADS_1
"Ya sudahlah. Toh rencana licik memang pada akhirnya akan kalah bukan? Kita pulang saja dan ceritakan dirumah. Aku begitu khawatir dengan istriku. Mengenai mayat-mayat disini lempar saja kekandang Artur. Aku rasa harimau dikandang Artur semua butuh makan lebih banyak." Ardan pun melangkahkan kakinya meninggalkan lautan bara itu. Menyisakan mayat-mayat atau yang tengah meregang nyawa sekalipun.
*****
"Mas Ardan!" Mariani segera menghambur kepelukan suaminya itu. Ardan segera memeluk istrinya yang terlihat begitu gelisah itu. Mencoba memberikan kekuatan untuk istrinya.
"Sayang ... Kamu kenapa?" tanya Ardan dengan lembut.
"Aku takut Mas Ardan kenapa-napa. Kamu nggak apa-apakan Mas?" tanya Mariani dengan memutar-mutar tubuh Ardan.
"Setelah ini tolong berhentilah Mas! Aku nggak sanggup kalau aku harus jantungan setiap hari! Mas mau kan janji sama aku? Nggak akan ngulangin hal ini lagi kan?" tanya Mariani dengan nada yang bergetar.
"Iya Sayang. Mas janji." Ardan menghela nafas dalam-dalam. Seakan berjanji jika hal ini akan menjadi terakhir kalinya dirinya bersangkutan dengan Dark Knight.
Setelah ini aku berjanji padamu sayang. Tidak akan ada yang kedua kalinya. Aku tak mau kau sepanik malam ini. Semoga saja ini menjadi terakhir kalinya untukku. Kata Ardan dalam hati.
****
__ADS_1
Beberapa bulan berlalu ...
Suasana yang riuh dan panik menyelimuti kamar Ardan Wijaya. Lelaki yang berusia 39 tahun itu terlihat begitu panik. Dengan kecepatan angin, Ardan membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
"Pelayan! Cepat bantu aku!" Teriakan Ardan menggema diseluruh ruangan kamar itu. Beberapa pelayan berbondong-bondong untuk membantu Ardan.
"Mas Ardan kemari!" Teriak Mariani dari dalam kamarnya. Membuat Ardan segera melesat menuju ranjang dimana istrinya berada.
"Iya Sayang ... Perutmu sakit banget ya?" tanya Ardan dengan suara yang bergetar.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Ardan, Mariani justru menarik rambut Ardan dengan begitu kuatnya. Membuat Ardan meringis kesakitan. Namun meskipun begitu, Ardan tetap tak bergeming dari tempatnya.
"Mas Ardan ... Aku mau melahirkan. Hiks sakit ... Maaf ya Mas Ardan aku jambak dulu rambutnya. Ini sakit ..." keluh Mariani masih tetap mwnarik rambut Ardan.
"Tenang saja Sayang. Ini nggak sakit kok," ucap Ardan sambil meringis kesakitan.
Sabar Ardan sabar ... Botak botak dah. Inget demi anak lu. Batin Ardan sembari menahan sakit mencoba menguatkan dirinya.
__ADS_1