
"Itu terakhir kalinya aku bertemu dengannya. Kami lost contak. Karena Rosita mengganti nomor ponselnya. Aku mencarinya kerumahnya. Tapi kedua orangtuanya bilang, Rosita dibawa pergi suaminya," tersenyum miris memikirkan hidupnya.
"Tante Rosita sudah meninggal," ucapan Ardan membuat Smith tersentak.
"Apa? Apa maksudmu? Kau jangan bercanda Ardan !!"
"Apa diwajahku terlihat seperti sedang bercanda paman?" Ardan menunjuk wajahnya sendiri.
"Ka...kapan?" tanya Smith terbata. Genangan air bening itu tak dapat dia hindarkan. Wanita yang sangat dia cintai. Ternyata lebih dulu meninggalkan dunia ini.
"Sekitar tiga tahun yang lalu. Saat umur Rianna masih tujuh belas tahun," Ardan menyandarkan kepalanya ditembok.
"Rosita," gumaman lirih keluar dari mulut Smith.
"Kalau gitu aku dan Rianna, masih keluarga?"
"Iya benar. Dia adik sepupumu Ardan. Aku tidak tau lagi harus bagaimana. Aku hampir membunuh anak kandungku sendiri,' menatap nanar kedua tangannya.
"Heh...sepertinya paman langsung mendapat karma,"
__ADS_1
"Maafkan paman Ardan. Paman nggak bisa jadi contoh yang baik buat kamu. Oh ya kamu nggak ngabarin ayah tiri Rianna?"
"Buat apa? Rianna udah dibuang sama mereka,"
"Apa maksudmu? Bukankah lebih baik ayah tiri Rianna juga tahu keadaannya,"
"Apa paman mau Rianna tambah menderita?" Ardan menoleh ke arah laki-laki paruh baya yang duduk disampingnya.
"Apa maksudmu? Bagaimana mungkin aku menginginkan anakku menderita ?! Jangan konyol Ardan. Aku tau aku salah menempatkan Rangga untuk mengeksekusi Rianna. Tapi itu sebelum aku mengetahui Rianna anakku !! Darah dagingku !!"
"Sebentar, aku mau bertanya pada paman," Ardan memperbaiki posisi duduknya.
"Tanya apa?"
"Tentu saja menceraikannya !! Apa lagi?" jawab Smith dengan berapi-api.
"Nah itu paman tau jawabannya,"
"Ardan Wijaya !! Jangan main-main denganku !!"
__ADS_1
"Aku tidak bermain-main dengan paman !! Tapi kenyataannya begitu,"
"Kenyataan apa? Dasar brengs** jelaskan saja point pentingnya!!"
"Ya ampun paman !! Bukankah almh. Tante Rosita hamil diluar nikah? Lalu menikah dengan laki-laki lain. Menurut paman bagaimana keputusan laki-laki itu begitu mengetahui istrinya hamil dengan laki-laki lain?!"
Mata Smith membulat. Benar apa yang dikatakan Ardan. Pasti akan emosi jika seorang laki-laki mengetahui istrinya menikah dengannya tetapi hamil dengan laki-laki lain.
"Disitulah Rianna menderita. Ayahnya nggak pernah mengakui Rianna sebagai bagian dari keluarga. Dan ayah tiri Rianna juga menikah lagi. Dan mereka tinggal bersama disatu rumah,"
Penuturan dari Ardan membuat pertahanannya runtuh. Smith menangis sesenggukan. Hidup Rianna tidak semulus pipinya yang mulus dan bersih. Bahkan dalam kandungan pun ayah kandungnya ingin melenyapkannya. Kemudian berakhir dirumah ayah tiri. Ditinggal ibu kandung yang menjadi pelita terakhirnya. Sekarang ayah kandungnya ingin melenyapkannya untuk yang kedua kalinya.
"Bahkan Rianna mengalami depresi karna ditinggal mamanya untuk selamanya," kembali penuturan dari Ardan membuat jantungnya kembali dihujam belati. Depresi katanya?
"De...depresi?"
"Benar paman. Rianna baru kembali dari Ausy beberapa Minggu yang lalu. Dia baru saja sembuh dari depresinya selama dua tahun berobat di ausy. Dan paman menghancurkan kembali kebahagiaannya, yang baru diraihnya dua Minggu,"
"Ya Allah Ardan !! Huhuhu...aku ayah yang kejam. Bagaimana mungkin anakku mengalami hal yang begitu mengenaskan," mengatupkan kedua tangannya kemudian mengusap kasar wajahnya. Wajah yang mulai menua itu telah basah oleh air mata penyesalan. "Katakan keluarga mana yang membuat Rianna hidup bagai dineraka !!"
__ADS_1
"Keluarga Hutomo !! Aku sudah menggulingkan perusahaan mereka. Mereka sedang mengalami krisis. Dulu rianna hidup dalam kubangan depresi. Sekarang Rianna sedang ada didalam jembatan hidup dan mati,"
Dada Smith semakin sesak. Dialah awal dari sebuah tombak runcing yang sedang menghunus pedang dikehidupan anak kandungnya sendiri.