
******...
Gleeek... Ani menelan salivanya sendiri. Kemudian pintu kamar dia tutup rapat-rapat. Mendengar perintah dari sang suami dengan ultimatum yang mengerikan baginya. Ardan tersenyum. Ternyata istrinya benar-benar takut jika dia akan dihabisi diatas ranjang.
"Kenapa hmmm?"
"Gak papa kok mas". Ani kembali melangkahkan kakinya memasuki kamar. Ardan tersenyum penuh kemenangan.
"Sana katanya mau nyiapin makan malam?"
Apa? Bukankah kau sendiri yang mengancamku.
"Ah tidak kok mas. Aku akan menunggu selesai mandi habis itu kita turun buat makan malam."
"Bukannya kau sendiri yang bilang mau pergi kedapur? Ayo sana pergilah kedapur."
"Enggak mas aku nungguin mas selesai mandi setelah itu kita turun bareng."
"Kau takut?"
Ani terdiam. Karena memang benar dia takut jika Ardan akan menghabisinya diranjang.
"Heh ya sudah tunggu aku disini. Awas kau minggat."
Heh tuan muda anda benar-benar seorang boss ya. Seenaknya saja ngomong. Huh.
Kring kring kring dering ponsel Ardan berdering. Ani melongok kan kepalanya melihat siapa yang menelpon Ardan malam-malam begini. Dion?
Ceklek.... Ardan telah selesai mandi. Dengan handuk yang masih melilit dipinggang. Ani langsung memalingkan wajahnya. Kini rona wajahnya benar-benar merah.
"Kenapa sayang? Ini milikmu loh. Gak pingin lihat ha?" Ardan menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Enggak. Mas tadi hpmu bunyi. Dion telfon?"
__ADS_1
"Dion?" Kenapa bocah itu? Disambarnya benda pipih yang berada disamping istrinya itu.
Deg deg deg.... Buset mas Ardan keker banget ya. Glekkk ya kini mereka berada di jarak yang dekat namun belum termasuk intim. Karna letak ponsel Ardan tepat berada disamping istrinya. Meskipun begitu rasanya jantung Ani semakin berdebar saja seakan jantungnya mau loncat keluar.
Ardan memencet kembali nomor Dion.
"Ada apa kau nelfon malam-malam begini hah?"
"Eh eh eh bro Napa galak amat woy. Santai lah bro pengantin baru bukannya bahagia malah sewot aja."
"Lah udah tau lagi ganggu pengantin baru masih nyuruh santai ha? Cepet ngomong kalau gak penting aku matiin."
"Sialan. Mentang-mentang udah ada yang dikeloni aja lu belagu. Sini yok gabung Kevin udah otewe nih."
"Nggak aku sibuk."
"Sibuk Napa sih bro? Udah lama loh kita gak nongkrong. Semenjak lu lagi berjuang demi cinta ku. Nah ini kan lu udah nikah. Nongkrong lah sesekali. Jangan-jangan lu susis ya? Suami takut istri." Terdengar diseberang suara cekikikan.
"Kau tahu aku sudah punya istri. Napa masih ganggu? Aku sibuk sama bini. Gak tau ini udah malam? Lu pan jomblo jadi gak usah mikirin aku sibuk ngapa sama istriku kan lu jomblo ngenes." Ardang langsung mematikan telponnya saat mendengar suara diseberang telpon mengumpatnya dengan serapah.
"Tunggu sini aku mau ganti baju dulu ya."
"Mas....Kalau mas mau keluar gak apa-apa kok. Lagian emang mas jarang banget ngumpul sama temen dan aku gak mau dibilang terlalu ngatur suami."
"kalau kamu ikut aku bakal pergi. Aku gak mau ninggalin kamu sendiri."
Deg deg deg.... Ternyata mas Ardan lebih betah dirumah daripada keluyuran gak jelas padahal punya uang banyak. Kini matanya mengikuti Ardan dia menuju lemari pakaiannya. Tapi aku gak enak sama temen mas Ardan gara-gara aku dia gak bisa nongkrong bebas sama temennya.
"Kenapa bengong ? Lagi mikirin apa sayang hmmm?"
"Kalau mas keluar aku juga ikut mas. Gak apa-apa sekalian aku lihat-lihat kota Jakarta. Selama disini kan aku gak pernah pergi kemana-mana selain pasar tradisional sama kantor mas kerja."
"Hmmmmmm... Yasudah sayang setelah makan malam ya?"
__ADS_1
"Iya."
Ani masih terdiam ternyata Ardan mengajaknya disebuah klub malam.* Apa mas Ardan sering kemari*? Ardan mengernyitkan dahi pasalnya istrinya tak bergerak sama sekali.
" Ayo sayang..... Katanya kau ingin ikut aku?"
"Em.... Iya mas." Ardan mengulurkan tangannya. Dengan sennag hati Ani menyambutnya. Karna dia merasa takjub dengan dunia malam yang hanya dia lihat di tv selama ini. Kini dia malah menjejakkan kakinya kedunia malam itu. Saat memasuki club' itu Ani merasa terlalu berisik pasalnya musik tak jelas berjedag jedug ria sedangkan muda mudi berjoget ria mengikuti musik yang dimainkan. Ardan meremas tangan Ani.
"Hei bro sini." Dion melambai-lambaikan tangannya. Memang dionlah pemilik club' tersebut. Dia juga memiliki restoran dan cafe tempat trend berkumpulnya muda mudi sekarang ini.
"Kupikir gak jadi kesini."
"Hem". Ardan menjawab sekenanya.
"Eh mana istrimu? Kau bilang dichat tadi kau akan datang bersama istrimu?" Kevin memperhatikan Ardan dan kemudian celingak celinguk ke kanan dan ke kiri mencari seseorang.
"Heh.... Dia udah didepanmu ******."
"Mana?" Dion juga ikut penasaran daritadi matanya belum menangkap sosok istri Ardan Wijaya. Namun nihil tak menemukan sosok istri yang dinilai istri Ardan. Sedangkan didepan mereka hanya ada satu perempuan cantik nan mungil. Bertubuh ideal seperti kebanyakan perempuan.
"Ini keponakanmu ya bro? Uuuhh manis banget. Boleh dong kenalin." Dion mengerlingkan matanya nakal mengarah pada gadis dihadapannya. Namun gadis itu malah membuang muka. Shitt.
"Aku juga mau Lo bro dikenalin siapa tahu berjodoh." Kevin pun ikut menimpali karena gadis didepannya itu benar-benar tipenya. Kemudian mengambil Vodka dan meminumnya sedikit.
"Brengsek ini istriku. Memang siapa lagi yang datang bersamaku?" Ardan kesal karena dua cecunguk itu dengan bodohnya menggoda istrinya.
Bruuuuftttt..... Kevin yang saat itu tengah minum langsung menyemburkan minumannya. Untung saja Ani ditarik oleh Ardan kedalam pelukannya. Mungkin kalau tidak baju istrinya benar-benar akan basah.
"Hah?" Dion yang juga sama kagetnya membuat matanya membulat seketika bagaimana tidak laki-laki yang disampinya yang mengaku suaminya terlihat seperti pamannya daripada harus menjadi suaminya.
"Jangan bercanda bro." Kevin masih meminta jawaban Ardan. Seakan yang diucapkan Ardan adalah bohong. Memang saat Ardan menikah kedua sahabatnya itu sedang berada di luar kota karna Kevin harus menggantikan tugas Ardan sedangkan Dion menemaninya. Karna Kevin pasti membutuhkan teman diperjalanannya.
"Brengsek !!! Jadi kalian pikir aku ini udah tua gitu? Ini istri sahku yang kunikahi didepan penghulu!!!" Ardan meninggikan suaranya. Karna kesal terhadap kedua sahabatnya itu. Dan otomatis orang yang berada disekitar tempat Ardan menoleh kearah mereka.
__ADS_1
Ahhhh mas Ardannnnn. Tolong adakah disini lubang ? Rasanya aku ingin lari saja. Tolong mas Ardan jangan kekanakan. Ani menundukkan kepalanya dalam-dalam karna kini dia menjadi pusat perhatian banyak orang.