
Promo bentar. Novel untuk Dion dan Agnes sudah terbit ya author usahakan up 2 hari sekali. Azalea ya 3 hari sekali. Mutiara up tiap hari. Terima kasih.
"Pa Paman?" tubuh keduanya mematung. Sejak kapan hal mengerikan ini berlangsung.
"Siapa yang berani menginjakkan kakinya tanpa izin kerumahku!" Emosi Smith memuncak. Kilatan penuh amarah tergambar jelas dinetra abu-abu milikya.
"Satu hal yang pasti infonya mungkin menyebar. Dia sudah tau resiko bergabung dengan William. Dan inilah akhir yang dia pilih."
"Lalu bagaimana ini Ardan. Dia mati disini, kalau polisi melacaknya maka habislah aku," ucap Smith dengan nada yang sedikit bergetar.
"Ada cctv? Biar Arnold yang mengurusnya. Sekarang ayo kita selesaikan masalah utama." Ardan segera menarik Smith yang sempoyongan. Namun karena rasa sayangnya begitu besar pada Rianna, Smith lebih memilih diam dan mengikuti langkah keponakannya itu. Rianna adalah permata hatinya. Segalanya dalam hidupnya saat ini. Tak akan sanggup jika benar dirinya harus kehilangan Rianna selamanya.
Kini keduanya memasuki mobil. Didalamnya terdapat Kaisar yang sudah duduk manis di jok kemudi.
"Kaisar, Jesslyn sudah bersama istriku kan? Lita juga bersamanya kan?" tanya Ardan seraya memasang sabuk pengamannya. Smith pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Tentu tuan muda. Sesuai perintah anda." Kaisar mengangguk dengan mantap. Meyakini sepenuh hati jika tugas telah dilaksanakan dengan baik.
"Kita ke markas besar. Aku akan memberikan tugas kepada Arnold untuk mengurus sesuatu yang menjijikkan di rumah paman."
"Sesuatu yang menjijikkan?" protes Smith.
"Memangnya apa lagi? Apa aku harus mengatakan mantan kekasih paman begitu?" goda Ardan.
"Tutup mulutmu sial*n. Keponakan macam apa kamu?"
"Dari pada bingung begini apa perlu ya paman si jal*Ng itu aku berikan ke artur? Dia akan senang bukan?" Ardan melirik kearah kaisar. Laki-laki itu secara perlahan menjalankan mobilnya untuk segera berlalu dari kediaman Smith. Laki-laki itu menatap rumahnya dengan tatapan yang horor.
"Tunggu. Kau bilang akan memberikan mayat itu pada artur? Kau gila Ardan! Dia mati di rumahku. Bagaimana bisa kau dengan gampangnya memberikan mayatnya ke Harimau peliharaanmu itu. Tidak! Bisa-bisa aku dipenjara sampai mati."
"Paman, sudahlah. Nikmati saja permainan tuhan ini," sahut Ardan dengan begitu entengnya.
"Kau gila!" tanpa rasa bersalah Smith terus-menerus memberikan makian untuk kebengisan keponakannya itu. Padahal dirinya bisa saja gila juga.
__ADS_1
******
"Persiapan?"
"Delapan puluh persen tuan muda."
"Arnold pergilah ke alamat ini. Bawa mayatnya ke markas dan jangan sampai ada yang tau. Berikan ke artur."
"Baik tuan muda." Membungkukkan badannya kemudian berlalu meninggalkan markas. Kini Jack dan Kaisar bersatu lagi. Satu kesatuan yang tak lepas dari misi bersama. Smith hanya mampu menatap sosialisasi itu dengan seksama. Pikirannya melayang kepada putri semata wayangnya.
Kini lautan manusia terlihat jelas ketika mereka berdua memasuki area markas. Smith masih belum mengerti kenapa keberadaan markas milik Ardan bahkan bisa memanipulasi matanya. Ya, seingatnya tadi mereka melewati sebuah gang kecil yang kumuh. Lalu setelah keluar dari dalam gang itu, terhamparlah pandangan yang menyejukkan kedua matanya. Pemandangan yang banyak pepohonan yang rindang.
"Kita bertemu lagi malam ini." Ardan memulai pembicarannya bersama anggota geng mafia miliknya. "Setelah sekian lama akhirnya kita bertemu lagi. Malam ini kita bangkitkan semangat kita yang menggelora. Musuh sudah mengibarkan bendera perang. Sekian lama aku yakin kalian sudah memilih jalan masing-masing. Namun aku tidak akan memaksa kalian untuk mengikuti pertikaian berdarah kali ini. Tapi jika kalian masih ingin bertarung sekali lagi mengikuti perintahku silahkan. Ingat ini mungkin akan menjadi sebuah pertumpahan darah. Mungkin salah satu dari kalian akan mati saat pertarungan ini berlangsung. Tetapi jika kita diberikan kemenangan, aku akan memberikan aset 50% dari Ꭰᥲʀκ͢☢Ӄᴎ͟͞ɪ͟͞ԍ͟͞ʜ͟͞ᴛ]™ untuk kalian semua. Sebagai bentuk apresiasi kesetiaan kalian."
Smith melongo mendengar penjelasan dari keponakannya. Lima puluh persen itu tidak sedikit. Dirinya paham betul bagaimana sepak terjang Ꭰᥲʀκ͢☢Ӄᴎ͟͞ɪ͟͞ԍ͟͞ʜ͟͞ᴛ]™ selama ini. Kegelisahannya saat ini bukan tiada beralasan. Dan situasinya berbanding terbalik dengan mereka yang bersemangat untuk mengikuti pertarungan kali ini. Riuh gemuruh itu memekakkan telinga siapa saja yang tak mengetahui tentang dunia hitam. Namun tidak bagi mereka yang siap mati untuk pemimpin mereka.
Semangat mereka layaknya api yang kian membara. Pasukan yang berpendirian teguh itu pada akhirnya harus bersiap mati kapanpun. Miris memang. Terkadang hidup tak harus selalu memakai hati dan perasaan untuk kehidupan yang keras ini.
__ADS_1
*****