Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 310. Cinta Yang Nekat


__ADS_3

William menatap kepergian gadis yang baru saja menyatakan perasaannya. Lelaki paruh baya itu meneguk salivanya. Betapa konyolnya dirinya. Ditembak anak gadis yang seumuran anaknya. Hebatnya lagi, entah kenapa jantungnya berdegup lebih kencang.


"Sial, jangan aneh-aneh William. Dia anak sahabatmu. Huft, sepertinya besok aku harus ke makam Sella."


William menatap langit. Kenangan masa lalu itu kembali menguar di permukaan. Ketika itu ia melakukan hal yang diluar batas. Ia yang sedang taruhan bersama kawan-kawannya pada akhirnya jatuh cinta kepada korbannya sendiri. Dan lebih hebatnya lagi, ia memaksanya untuk meyakinkan apa yang disebut itu cinta. Disaat dirinya bahkan masih sekolah. Ia secara tidak langsung menghancurkan masa depan kekasih hatinya dan juga dirinya.


Hamil diusia muda, membuat mereka berdua kalang kabut. Tetapi karena William ingin melanjutkan sekolah, ia memutuskan untuk meminta kekasihnya menggug*rkan kandungannya. Pada akhirnya kekasihnya menanggung sendirian. Semenjak itu ia telah berpisah dengan kekasih hatinya, Sella yang lebih memilih anak yang dikandungannya.


Suatu ketika saat dirinya telah lulus SMA, dia berfikir untuk mencari Sella. Tetapi nihil. Yang ia temukan hanya bocah yang berusia 1 tahun. Artur. Jantungnya seakan berhenti. Menatap lekat sosok kecil yang seperti foto copy dirinya. Seketika tubuhnya melorot. Sella telah meninggal dunia. Karena ia mempertahankan bocah kecil nan tampan itu. Rasa cintanya terhadap Sella belum sirna hingga detik itu.


"Sella telah meninggal dunia. Dia pendarahan hebat karena memang belum waktunya ia melahirkan. Usianya masih sangat muda, jadi rawan akan pendarahan. Dokter sudah mengatakannya, tetapi Sella tetap ingin mempertahankan janinnya. Hingga saat inilah. Terlahir anak tampan ini. Sebagai pertukaran nyawa Sella. Dia pernah mengatakan, jika anak ini mirip sekali dengan ayahnya. Ternyata benar. Dia hanya memiliki hidung Sella. Selebihnya ia milikmu. Seperti cintanya yang selalu menjadi milikmu."


Deg. Sejak saat itulah, ia begitu mencintai Artur. Menjadikannya satu-satunya jantung hatinya. Bahkan ia melewatkan perjodohan dengan anak bisnis papanya. Ia ingin menebus kesalahannya. Menebus cinta yang dipertahankan oleh Sella untuknya. Dan itulah terakhir kalinya ia jatuh cinta. Selebihnya ia tak akan menemukan lagi wanita seperti Sella. Setidaknya dulu ia telah berjanji begitu.


"Aku harus menjawab apa nanti?" gumam William yang masih mematung di tempatnya setelah pengakuan dari Sabrina.


******


"Uncle?" panggil Sabrina pada William. Saat ini lelaki itu tengah menatap langit yang tanpa bintang. Lelaki itu menoleh sekilas. Selebihnya ia kembali menatap langit tanpa bintang.


"Apa kau bisa menjawab hal yang aku sampaikan kemarin?" desak Sabrina.


"Nak, kau harus paham berapa usiamu dan berapa usiaku. Pergilah, papamu nanti akan mencarimu."


"Tidak! Aku tidak akan pergi. Jawablah Uncle. Aku benar-benar serius tentang cinta yang telah tumbuh di hatiku."


"Cinta? Tapi cintaku milik dia. Siapapun tidak akan bisa menggantikannya. Dia bahkan bertahta disana untuk sekian lamanya. Nak, sudahlah. Simpan kata-katamu kemarin. Karena kita tidak akan pernah bersama."

__ADS_1


"Tapi cinta ini telah bersemi sejak pertama kali kita bertemu. Aku sungguh-sungguh! Aku bisa membuktikannya padamu, Uncle," desak Sabrina.


"Kau adalah gadis yang muda. Kau bisa mencari yang lebih ketimbang diriku. Kau bahkan bisa menjalin dengan siapapun. Tolong, jangan kau ulangi kata-kata itu kepadaku. Kita berbeda, dan aku juga tidak bisa bersama dengan wanita manapun. Karena cintaku tak akan pernah padam." William segera pergi meninggalkan Sabrina.


"Aku akan buktikan kata-kataku! Kau jangan pernah meremehkan perasaan orang lain kalau kau tidak tau seberapa besar rasa itu untukmu!"


Deg.


Sella, kenapa aku harus mendengar hal itu lagi? Saat itu, aku memintamu untuk menggug*rkan janinmu. Kenapa dia sangat mirip denganmu?


William membeku sembari menutup matanya.


William menatap langit tak berbintang dengan gamang. Ia terlihat begitu gelisah. Siapa yang tak mengenal gadis bernama Sabrina. Ia begitu cantik dengan tubuh yang semampai. Berkulit putih bersih dan bersurai hitam legam. Gadis dimana ia menjadi bintang di sekolahnya. Tiba-tiba menyatakan perasaannya padanya. Bahkan berkali-kali ia menyatakannya.


"Kamu memang cantik, tapi bagaimana aku bisa menerimamu? Perbedaan kita terlalu jauh. Sedangkan kau terlalu sempurna untukku."


"Tu-tuan, perusahaan sedang tak stabil. Bisakah anda segera menuju kemari?" tanya seseorang di seberang telepon.


"Apa? Jack please jangan bercanda. Ini nggak mungkin," desah William.


"Anu tu-tuan. Ada yang menjebol rahasia perusahaan," ungkap Jack.


"Hah? Oke aku kesitu dengan Ryu!" seru William. Lelaki itu segera menyambar jaket yang ada di sofa. Ia segera bergegas menuju kantor miliknya.


Siapa? Siapa yang melakukannya? Selama ini aku bahkan tak memiliki musuh satupun. Batin William bergejolak.


Saat William tengah terburu-buru, Artur melihatnya. Ia segera menyusul William. Bukankah ini sudah malam? Bahkan jarum jam miliknya menunjukkan angka sepuluh malam. Artur yang khawatir segera mempercepat larinya.

__ADS_1


"Ayah! Ada apa?" tanya Artur sembari menahan tangan William.


"Artu perusahaan sedang kacau. Ayah harus kesana untuk melihatnya."


"Bagaimana kalau aku antarkan? Naik sepeda motor lebih cepat," tawar Artur.


William mengangguk dengan cepat. Kemudian ia menyusul Artur menuju sepeda motornya. Dengan cepat Artur segera melaju setelah William berada di belakangnya. Memang jalanan kian sepi karena memang sudah larut. Motor terus melaju. Tapi pikiran William gamang. Setaunya memang tidak pernah ada masalah dengan perusahaannya. Musuh? Ia selama ini tak pernah memiliki musuh. Sama sekali.


Siapa ya? Selama ini aku bahkan tidak memiliki musuh. Lantas mengapa ia ingin menghancurkan perusahaanku? Lucu sekali. Orang itu bahkan mencuri data perusahaan yang selama ini aman? Seberapa hebatnya hacker itu?


Saat sampai, terlihat Jack sudah menyambutnya dengan kekalutan yang luar biasa. Lelaki itu biasanya begitu tenang. William menyadari satu hal, jika kali ini bisa saja tamat riwayat perusahaannya. Artur hanya mampu mengekor William di belakang. Sungguh, ia tak mampu berbuat apapun.


"Bagaimana?" tanya William dengan suara parau.


"Seseorang yang mengaksesnya, tak bisa kami lacak. Tapi kemampuannya dalam meretas data perusahaannya tidak main-main. Pada awal perkembangannya seorang hacker melakukan serangan cyber hanya untuk kepuasan atau eksistensi diri di antara kalangan mereka. Tapi untuk hacker perusahaan kita, dia seakan ingin mematikan total aktivitas perusahaan ini," ucap Jack menjelaskan.


William tersentak. "Bagaimana bisa? Apa tidak ada cara untuk mengambil alih kendali? Jadi maksudmu dia bukan hanya mencuri data perusahaan, tapi dia bahkan berusaha melumpuhkan perusahaanku?"


"Be-benar Tuan. Kemampuan ini hanya beberapa cyber yang dapat melakukannya. Sekarang, perusahaan ini benar-benar tak memiliki kesempatan apapun," sahut Lexy. Sahabat sekaligus sekretarisnya yang lain.


"Microsoft Threat Protection, sebuah aplikasi pengaman siber yang dikembangkan perusahaan Bill Gates ini telah mendeteksi 60.000 email dengan tautan berbahaya . Angka itu sebanding dengan 2% dari keseluruhan email penipuan. Tapi, dari 60.000 email itu tidak ada data email yang menyerang perusahaan kita. Aku bisa memastikan, jika cyber ini hanya menargetkan perusahaan ini," imbuh Lexy. Kemudian setelah ia berhenti sejenak ia teringat sesuatu. "Apa kau memiliki musuh?"


*****


Disatu sisi, di pihak yang berbanding terbalik dengan apa yang dialami William yang tengah gelisah dan kalut seseorang tersenyum di depan laptopnya. Dengan santai ia memakan camilan chocochip yang menjadi kegemarannya. Ditambah secangkir susu coklat hangat menemaninya dalam melakukan sesuatu hal. Ia tersenyum miring. Sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja kayu miliknya.


"Uncle, aku sudah membuktikan satu hal. Aku tidak main-main sedikitpun. Kalau yang lain cinta ditolak dukun bertindak. Tapi aku berbeda, cinta ditolak aku akan membuktikan kemampuanku. Tentu saja yang berakhir dengan membuatmu tak berkutik. Kita lihat, sejauh mana kau bisa menolakku. Mungkin jika kau menerimaku, aku juga tidak akan berbuat nekat seperti ini. Ngomong-ngomong, data perusahaan ini aku apakan ya? Aku jual saja atau aku biarkan? Sudahlah, bukankah masih ada banyak waktu?"

__ADS_1


__ADS_2