
Di satu sisi, Aretha tiba-tiba kedatangan tamu. Ketika itu anak-anak panti asuhan telah tertidur. Mereka tidak akan terbangun dalam beberapa waktu. Karena seseorang telah memberikan asap yang bercampur dengan obat tidur.
"Malam-malam begini ada tamu? Untuk apa sih? Lagian juga ini adalah panti asuhan kecil. Si*l!" gumam Aretha dengan berjalan cepat menuju pintu.
Ketika pintu terbuka, tiba-tiba saja ada yang membekap mulut Aretha. Bersamaan dengan itu, membawa tubuh Aretha memasuki mobil yang telah didesain khusus. Aretha hendak memberontak. Akan tetapi nihil. Perlahan tenaganya mengendur dan tak berapa lama ia tertidur.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Setelah dua jam perjalanan, mobil mulai memasuki rumah sederhana. Entah apa yang terjadi setelah masuk ke dalam, tiba-tiba lantai yang dipijak mobil turun ke bawah secara perlahan. Kemudian mobil itu menghilang. Selanjutnya, lantai yang tadi turun di bawah kini muncul lagi ke permukaan tanpa adanya mobil di sana. Sebuah jalan rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja.
Hingga kini satu tubuh dilemparkan begitu saja di lantai yang dingin. Tak hanya itu, dia dimasukkan di dalam sel tahanan serta tubuh yang dalam keadaan terikat. Seorang gadis duduk di kursi kebesarannya. Bersamaan dengan itu, ia menggerakkan tangannya. Lalu seorang pria mengambil ember berisi air yang telah disiapkan. Ia segera mengayunkan ember itu ke arah Aretha yang disekap.
Mendapati guyuran air, Aretha mengerjapkan kedua matanya perlahan. Samar-samar pandangan yang tadinya mengabur kini perlahan terlihat jelas. Tampak Aretha mulai memberontak kembali. Ia mulai menyadari sesuatu. Dirinya berada dalam cengkraman orang yang tidak ia ketahui dari mana. Gadis itu terlihat asing di kedua mata Aretha. Ia yakin, tidak memiliki musuh seperti wajah yang ada di depannya. Dia terlihat angkuh.
"Halo, Nona Aretha. Bagaimana tidurmu yang singkat itu? Apakah terasa nyaman? Kuharap tidurmu nyaman ya meski itu tidur yang singkat. Karena itu akan menjadi tidurmu yang terakhir." Kata-kata dari gadis asing itu membuat Aretha palsu merinding.
__ADS_1
Aretha palsu bahkan tak memiliki persiapan apapun. Karena memang ia tak memiliki rencana akan menyerang dalam waktu yang singkat. Pikiran Aretha kini melayang. Ia menebak itu adalah Sabrina yang sedang memakai topeng. Sayangnya, Aretha menampik dugaannya. Bukankah Sabrina sama sekali tak mencurigainya sebagai Aretha palsu? Atau mungkin dirinya kecolongan? Aretha membatin gelisah.
"Aku tebak. Kau adalah orang yang berasal dari organisasi hitam pembunuh bayaran bukan? Oh oh, kenapa wajahmu heran seperti itu? Tidak usah melotot-melotot kau. Aku sudah mengincarmu dari lama. Hanya saja belum sempat menemuimu. Kenapa? Kau kaget mengapa penyamaranmu bisa kuketahui?" selidik gadis yang ada di depan Aretha.
"Ka-kau siapa?" tanya Aretha dengan tergagap.
"Aku? Ha-ha-ha. Aku adalah dewi kematian. Aku ditugaskan untuk menghilangkan nyawamu. Sedangkan yang lain, mengurus teman-temanmu dan satu orang yang kalian sandera," tutur gadis itu.
"Melihat dirimu yang kaget, aku jadi kasihan. Kau pasti bingung bukan? Ah, perkenalan dulu lebih menyenangkan mungkin. Namaku Amelia. Adik dari Sabrina. Gadis yang kau incar nyawanya," ungkap Amelia.
Lagi, Aretha palsu terjingkat kaget. Tak menyangka jika dirinyalah yang justru masuk ke dalam perangkap Sabrina. Ia merutuki strateginya yang akan bermain halus. Nyatanya justru Sabrinalah yang bermain dengan sangat halus.
"Kau berurusan dengan orang yang salah, Azumi. Benarkan namamu Azumi?" Amelia tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Lepaskan aku! Ini semua karena kakakmu terlebih dahulu membantai para anggota kami! Aku hanya ingin membalas dendam! Apa yang salah jika nyawa dibayar dengan nyawa?" tantang Azumi.
"Ha-ha-ha! Benar sekali. Nyawa memang harus dibayar dengan nyawa bukan? Begitu pula dengan apa yang telah kau lakukan kepada gadis yang tidak bersalah. Kau menyiksanya tanpa ampun! Maka dari itu. Aku juga akan menyiksamu." Amelia menggerakkan tangannya.
Seseorang masuk ke dalam jeruji besi. Pria itu lalu berjalan mendekati Azumi yang masih tergeletak di lantai ubin dengan keadaan terikat. Azumi hendak memberontak. Nihil, pergerakannya sia-sia dan pria itu telah menyuntikkan sesuatu. Membuat tenaga Azumi lemas seketika.
"Apa yang kau lakukan padaku?" lirih Azumi.
"Bermain. Sudah kubilang, kau akan mendapatkan penyiksaan yang lebih dari apa yang telah kau lakukan kepada Aretha. Gadis yang bahkan tak memiliki kuasa apapun. Lalu kau? Apa yang kau lakukan benar-benar keterlaluan. Sebelum aku menyiksamu, ada yang akan bermain denganmu. Aku akan menghancurkanmu hingga tak bersisa." Lagi, Amelia menggerakkan tangannya.
Lima orang pria bergerak memasuki jeruji besi di mana Azumi tergeletak tak berdaya. Para pria itu menatap Azumi dengan keadaan lapar. Ingin segera memakan gadis itu.
"Lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Dua jam lagi aku kembali untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan. Melihatnya bersimbah darah sepertinya menyenangkan. Jadi bersenang-senanglah kalian!" Amelia bangkit dari tempat duduknya. Meninggalkan Azumi dengan para pria di sana.
__ADS_1