Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 453. Rencana Perjodohan Steward.


__ADS_3

"Ada apa ini? Kenapa semua berkumpul di sini?" Artur masuk ke dalam rumah dengan raut waja yang bingung.


"Oh, Artur! Cucuku! Selamat, selamat! Kau akan memiliki adik!" Rendy berseru menyemarakkan suasana hatinya.


Mendengar itu, Artur melebarkan mata. Lalu berjalan mendekati Sabrina yang tengah dikelilingi banyak orang. "Ma? Benar, Mama hamil?"


"Iya, Artur. Em, apa kau tidak senang?" tanya Sabrina dengan takut-takut.


"Apa maksudmu, Ma? Bukankah dia adikku? Kenapa Mama sempat berpikir yang tidak-tidak? Ayolah, jangan berpikir yang aneh begitu." Artur mengusap air mata yang tampak mengalir di pipi Sabrina.


"Benarkah?" Kedua mata Sabrina berkaca-kaca.


Artur tersenyum. "Benar. Sebenarnya aku sudah curiga jika Mama sedang hamil." Artur melirik William yang tengah menggenggam tangan Sabrina. Lanjutnya, "Sayangnya, sepertinya Ayah tidak menyadarinya."

__ADS_1


Suara riuh tiba-tiba memenuhi ruangan. Tawa menggelegar dari para pembesuk mengusik William. Benar-benar menyebalkan bagi William.


"Artur, kurasa kau benar-benar seorang pengamat yang baik. Kau bisa memperhitungkan situasi. Bakat yang bagus." Rendy menganggukkan kepala.


Artur menggelengkan kepala. "Belum tentu, Opa. Artur hanya tak sengaja benar sesuai kenyataan saja. Karena memang tingkah Mama akhir-akhir ini sedikit aneh. Ditambah dengan wajahnya yang pucat dan seperti lemas aku bisa menebak jika kemungkinan Mama hamil. Tapi, kenapa Ayah tidak sadar?"


William mendelik. "Aku tidak sadar. Sabrina sangat ngotot tidak ingin ke dokter. Hanya saja hari ini dia sangat terlihat payah dan ayah pikir, dia tida baik-baik saja. Dia bahkan takut jika kehamilannya ini mengusik ketenanganmu."


Suasana mendadak aneh. Artur terdiam sejenak. Ditatapnya semua orang yang ada di sana. Lalu remaja itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Sabrina cemas menunggu jawaban dari Artur.


Elena tersenyum melihat ketegasan Artur. Diliriknya Steward, Amelia dan Kezio yang duduk di sofa dengan wajah yang datar. Wanita paruh baya itu menghembuskan napas.


Ah, rasanya mereka mirip Rendy jika ketiganya memasang wajah datar. Elena membatin.

__ADS_1


"Steward, kapan kamu menikah?" Pertanyaan dari Elena menyentak Steward.


"Apa-apaan sih, Ma? Steward sudah nyaman dengan kondisi ini. Tidak menikah juga tidak apa-apa. Lagian ada anak Sabrina nanti," tutur Steward.


"Mau menikah atau papa gulingkan perusahaanmu?" Suara Rendy seolah penegasan.


Bahkan, raut wajah Rendy berubah serius. Laki-laki berusia paruh baya itu mulai menampakkan aura mencekam. Di belakangnya, muncul Danar dan juga Kei berdiri di sisi kanan kirinya. Dua algojo Rendy juga memasang wajah datar. Artur yang melihat situasi tak enak mulai takut. Mengingat wajah Danar tak seperti biasanya ia temui.


Bukan hanya itu saja, di belakang Elena yang tengah duduk di sofa muncul seseorang. Lady, kaki tangan Elena yang juga memasang wajah datar. Steward mengalihkan pandangan. Ditatapnya wanita yang telah melahirkannya itu dengan wajah gugup. Elena sebelumnya tak pernah memperlihatkan wajah tanpa ekspresi. Dengan susah payah Steward meneguk ludahnya sendiri.


"Sekaya apapun aku, aku tidak mungkin bisa mengalahkan dua geng mafia besar. Sekalipun Sabrina telah memimpin dua geng mafia itu, tentu saja papa dan mama masih memiliki kekuasaan untuk memimpin dua geng mafia itu." Steward membatin dan memejamkan kedua mata. Tak lama, ia juga membuka kedua matanya.


"Sepertinya tekad mama dan papa sudah bulat ya?" Steward terkekeh sebagai pengakuan kekalahannya.

__ADS_1


"Papa akan menjodohkanmu dengan Fahmeeda Anggara. Putri dari Asya Farida Leonardo. Juga cucu dari Agnes Anggara dan Dion Leonardo. Ini mutlak. Karena ini juga permintaan dari Alm. Opa Ardan Wijaya. Sebagai pertalian kasih persahabatan Alm. Opa Ardan dengan Tuan Dion Leonardo. Kau tidak bisa menolak. Jika pun kau menolak, kau akan kutendang dari silsilah keluarga Wijaya!" tegas Rendy.


__ADS_2