
"Kemana Sabrina?" tanya William dengan gelisah. Terlihat Ryu berjalan menuju ke tempatnya. "Bagaimana? Kau mendapat info, Sabrina telah menghilang kemana? Apa dia pulang ke rumah?" Mendadak William menjadi gelisah.
Ryu membungkukkan badannya. "Maafkan saya, Tuan. Menurut info, Nona Sabrina kemarin malam tidak pulang di kediaman Wijaya. Entah itu milik orangtuanya, maupun milik kakek dan neneknya. Begitu pula dengan keluarga Wijaya yang lainnya. Saya sudah menyelidiki, jika Nona Sabrina tidak berada dalam lingkup keluarga besarnya."
William memejamkan kedua matanya. Semenjak kejadian di kantor kemarin, Sabrina tak menampakkan batang hidungnya. William gamang. Jika keluarga Wijaya tahu jika Sabrina menghilang, maka tamat sudah riwayatnya.
"Aku harus bagaimana, Ryu?" tanya William. Suaranya terdengar parau.
Ryu mematung. Pasalnya, ia sendiri juga tak mengetahui perihal masalah kemarin. Antara Artur maupun Sabrina. Ryu melirik William, sesekali dilihatnya pria duda beranak satu itu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Begini saja, Tuan. Jika Nona Sabrina tidak kembali dalam tenggat waktu tiga hari, kita bisa berkunjung ke kediaman Wijaya. Memang beresiko. Akan tetapi, siapa yang tahu mereka menyembunyikan Nona Sabrina," kata Ryu.
William mematung. Meresapi, semua kata-kata Ryu. Jika difikir, memang benar. Setidaknya mereka tahu, keadaan di keluarga Wijaya. Dari kejauhan, terlihat Artur berjalan memasuki rumah. William menyipitkan kedua matanya.
"Dari mana saja kau?" tegur William.
"Seperti biasa, Ayah. Jalan-jalan, menghirup udara segar. Ngomong-ngomong, gadis bar-bar itu masih belum pulang? Ah, Ayah lihat kan? Artur saja, seorang lelaki masih tahu diri untuk pulang. Sedangkan gadis yang selalu Ayah bangga-banggakan itu, dia bahkan tidak pulang sehari semalam. Siapa yang tahu, dia pulang ke rumah kekasihnya," ejek Artur.
Sabrina, sekalian saja kau tidak pulang untuk selamanya. Membuat hidupku dan hidup Ayahku, menjadi tenang. Artur membatin.
"Artur, sebenarnya apa yang terjadi waktu itu? Kenapa Sabrina bisa semarah itu?" tanya William penasaran.
Deg.
Artur mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. "Jadi, Ayah tidak percaya pada Artur? Begitu?" Artur bangkit berdiri.
"Bukan begitu, hanya saja ayah harus meluruskan! Apa yang sedang terjadi diantara kalian berdua? Ayah bahkan sudah mengintai kediaman keluarga Wijaya. Tapi nyatanya, tidak ada pergerakan sama sekali. Sabrina seolah menghilang tanpa jejak!" Intonasi suara William meninggi.
__ADS_1
"Jadi, maksud Ayah. Karena Arturlah, yang membuat Sabrina menghilang begitu?" Artur menatap nyalang ke arah William.
"Apa kau tahu, jika keluarga Wijaya mengetahui Sabrina menghilang, apa yang akan terjadi pada kehidupan kita? Bisa saja kita tetap hancur, Artur! Sabrina adalah generasi keempat, keluarga Wijaya! Putri kedua di keluarga inti Wijaya! Apa kau pikir, aku bisa baik-baik saja? Tidak! Jika dia tetap menghilang, kita akan habis, Artur! Picik sekali pikiranmu, Artur!" Bentak William.
Seketika tubuh Artur terjatuh di sofa. Remaja itu mengerjapkan kedua mata. Benar, jika Sabrina masih tidak ditemukan bisa-bisa keluarganya tetap hancur.
Si jal*ng itu, kemana? Sialan, ada atau tidak ternyata si jal*ng, memang pembuat masalah. Benar-benar sebuah kesialan, mengenalnya! Artur mengumpat dalam hati.
"Tidurlah, sudah malam. Ryu pulanglah. Besok kita harus meeting pagi," ucap William seraya ia bangkit berdiri.
Pria itu berjalan menuju kamarnya. Di dalam kamar, William tak bisa menepiskan rasa gelisah dan gundah gulana. Pria itu benar-benar kacau, untuk saat ini.
"Sabrina, kau dimana?" gumam William.
Semenjak itu, genap sudah Sabrina menghilang dalam kurun waktu 4 hari. William dibuat berantakan. Ryu bahkan telah mencari ke setiap penjuru, akan tetapi hasilnya nihil.
Brak.
"Aku sudah membayar kalian mahal! Tapi lihatlah, kalian tak bisa menemukan jejak seorang bocah! Kenapa waktu itu, kalian mengatakan adalah orang profesional? Hanya mencari seorang bocah, nyatanya kalian tak bisa menemukannya!" William meremas dadanya.
Sedangkan di sudut ruangan, seorang rrmaja pria duduk dengan lesu. Wajahnya terlihat pias. Sabrina masih menghilang. Bagaimana nasib mereka kelak? Ah, mengapa bisa begini? Bocah remaja itu menggigit bibir bawahnya.
"Tuan William. Bagaimana jika kita datangi saja, perusahaan Tuan Rendy? Siapa yang tahu, jika Nona Sabrina disembunyikan oleh mereka?" usul Ryu.
Bocah remaja itu bangkit. Seperti memiliki harapan baru. "Ayah, benar juga. Bukankah kita sudah mencari kemana-mana? Siapa yang tahu, justru ia bersembunyi di kediaman Wijaya?" Artur mengepalkan kedua tangannya. Mengapa tidak kepikiran kesana? Senyum sinis terbit di bibir Artur.
"Ryu, siapkan mobil. Kita kesana sekarang!" William bangkit. Disusul Artur dan Ryu di belakang.
__ADS_1
Selang 40 menit, mobil memasuki perusahaan Rendy. Dengan hati yang berdebar, William melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan. Rendy yang melihat kedatangan William, tersenyum penuh arti. Di belakang berdiri Kei, yang masih menatap mereka dengan tatapan mengerikan.
Rendy bangkit. Ia memeluk sohibnya itu. "Hai, William. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu dan Sabrina?" tanya Rendy.
Satu pertanyaan dari Rendy, membuat wajah tiga orang itu pias seketika. Mengisyaratkan, Sabrina tidak disembunyikan oleh mereka.
"Em, baik. Ngomong-ngomong, Sabrina hebat sekali. Kedatanganku kemari, hanya ingin bertanya. Sabrina, bahkan tahu soal perusahaan? Aku baru mengetahuinya," kata William.
Pria itu berusaha menetralkan degupan jantungnya. Mencoba berbicara setenang mungkin. Ya, hanya itu. Tidak ada pembicaraan lain, selain memuji kelebihan Sabrina.
"Kau tahu, Will. Dia yang akan menjadi penerusku. Penerus perusahaan besar. Aku dan Elena mendidiknya sebaik mungkin, dan semua berlaku sejak dini. Dia berbeda dari gadis lainnya. Dia sudah mewarisi apapun yang aku miliki. Termasuk, IQ diatas rata-rata. Kau tahu, kau adalah pria paling beruntung bisa memiliki anak perempuanku. Dia adalah cintaku. Tentu saja, aku sudah membekalinya, dengan apapun itu. Supaya jika suatu hari dia dicampakkan, maka dia masih bisa bangkit berdiri." Rendy menginterupsi. Seolah mengatakan, dia tidak membutuhkan bantuan dari pria manapun.
Jantung William bertalu-talu. Seolah-olah, Rendy sedang menyindirnya. Pikiran William semakin rumit. Ini bisa menjadi akhir dari hidupnya. William menatap lekat sosok sahabatnya itu. Terlihat serius atau bahkan, tatapan mata Rendy sedang menel*njanginya? Ah, William semakin resah.
"Oh, hei Will. Kenapa wajahmu terlihat lesu begitu?" tanya Rendy. Seketika membuat William, tersadar dari lamunannya.
"Tidak. Aku hanya kaget saja, saat Sabrina bisa menggantikan tugas sekretarisku. Kausl sedang sibuk? Aku ingin mengajakmu makan siang. Sudah lama, kita tidak bertemu." William mengalihkan topik pembicaraan.
"Em, gimana ya Will? Aku masih ada banyak pekerjaan yang menggunung. Mungkin lain waktu, aku dan Elena akan mengundang kalian," ujar Rendy. Pria itu menepuk bahu William.
William menghela napas. "Ya, baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu." William bangkit. Diikuti Artur dan Ryu. "Sampai jumpa, Ren!" William menjabat tangan Rendy.
"Baiklah, hati-hati." Raut wajah Rendy berubah. Saat William sampai di ambang pintu, Rendy kembali membuka suara. Kata Rendy, "William, aku harap kau tidak mengecewakanku. Jangan sampai kau menyesal, ketika Sabrina telah menghilang. Dia putriku yang berharga. Jaga dia, dan jangan kau sakiti dia. Ingat, jika kau menyakitinya, bukan hanya aku yang akan turun tangan. Dia mungkin hanyalah seorang istri untukmu, tapi kau tidak tahu. Seberapa tingginya, dia dimata dunia. Ini sebuah pesan. Untukmu menjaga Sabrinaku."
William termangu. Hingga akhirnya pria itu memilih pergi. Bagi William, itu bukan hanya sebuh pesan. Melainkan peringatan, jika Sabrina memiliki pengaruh untuk dunia. Saat melihat William telah raib, Rendy segera menghubungi Danar.
"Bagaimana keadaan Sabrina?" tanya Rendy.
__ADS_1
"Anda memang tidak salah, melihat kemampuan seseorang. Nona Sabrina, berhasil menaklukkan pertahanan Genji. Setelah dari Jepang, kami akan menuju ke Timur Tengah. Nona Sabrina, tertarik dengan tank angkatan perang milik salah satu kerajaan di Timur Tengah. Apa Anda memberikan izin?" suara Danar terdengar diujung telepon.
"Maniak senjata, telah memilih. Aku bisa apa? Lakukan persiapan," titah Rendi.