Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 421. Rayuan


__ADS_3

"Lo, Sabrina. Kenapa jalanmu begitu?" tanya Artur. Ketika ia sudah duduk di ruang makan. Sedangkan Sabrina baru saja turun dari lantai atas.


"Mungkin karena berkelahi tadi malam, Artur. Kamu bisa kan, izinin aku sehari aja?" Sabrina memegangi punggungnya. Berjalan perlahan menuju ruang makan. Mendudukkan bokongnya di samping Artur yang sudah mulai sarapan.


"Izin sehari? Bisa kok. Uang sakunya dong." Artur menyodorkan tangannya.


Seketika membuat Sabrina mencebikkan bibirnya. lOh astaga, Artur! Bisa-bisanya kau bersikap begini? Ayolah. Nanti deh aku kasih. Sekarang lihat aku. Aku sakit begini teganya kau padaku, Artur!"


"Ck! Ya sudah. Aku anggap utang deh. Kalau begitu aku pergi dulu ya!" Artur segera meneguk susunya. Lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Meninggalkan Sabrina dengan sejuta pikiran rumitnya. Sabrina menghela napas berat. Ingin rasanya segera menghukum Aretha palsu. Tetapi ia ingat, jika punggungnya terasa mau patah. Pada akhirnya membuat Sabrina mengurungkan niatnya. Di ruang makan, Sabrina menerawang. Kini tak terasa hidupnya berangsur mulai tenang.


"Semoga saja, semuanya akan tetap baik-baik saja."


Sabrina mengusap wajah. Ia pun tersenyum tipis mengingat percintaan panasnya bersama William semalam. Sungguh saat ini ia bahagia. Pada akhirnya ia bisa menjadi istri William sepenuhnya. Seutuhnya. Bukan lagi hanya istri di atas kertas. Oh, senangnya.


"Honey? Artur sudah berangkat?" tanya William.


"Sudah, Honey. Kok bawa tas kerja? Honey, kau bekerja hari ini?" tanya Sabrina penasaran.

__ADS_1


William tersenyum. Lalu mencubit pipi Sabrina pelan. "Harus dong. Masa iya pemimpinnya malah suka bolos? Sebagai contoh. Sekalipun aku ini atasan, aku juga tetap patuh pada peraturan. Kenapa, Honey? Kau keberatan aku pergi bekerja hari ini?"


Sabrina menekuk wajah. Kedua matanya menyorot wakah William dengan sendu. "Aku berpikir. Kita akan menghabiskan waktu bersama. Mengingat kita telah melwaati banyak hal. Kenapa Honey tidak cuti saja? Kita bisa menghabiskan waktu seharian ini bersama, Honey."


"Honey, maafkan aku. Nanti aku akan mencari waktu yang pas untuk bulan madu kita. Sudahlah, jangan cemberut begitu. Suamimu ini mau berangkat bekerja loh. Bukan mau pergi mencari bini baru. Aduh!" William meringis mendapati satu cubitan di perut. Pria itu mengusap-usap perutnya dengan pelan.


"Kapan rencananya? Aku tak sabar ingin jalan-jalan denganmu, Honey. Aku juga kan ingin pergi berkencan di akhir minggu," rajuk Sabrina.


"Kencan? Tadi malam kan kita sudah kencan di atas ranjang, Honey. Kenapa kok masih bingung? Sudahlah, Honey. Sabar dulu ya. Tunggu aku menyelesaikan berkas-berkas perusahaan yang baru. Setelah selesai, aku janji akan membawamu bulan madu. Supaya aku juga bisa bersantai, Honey. Ayo dong senyum. Masa kalah sama aku, Honey." William menoel dagu Sabrina. Menciptakan semu jingga di kedua pipinya. Melihat sikap Sabrina, William semakin ingin menggodanya. Sayangnya, waktunya telah habis.

__ADS_1


"Kenapa, Honey? Ya sudahlah. Aku maafkan kali ini, Honey. Tapi kuharap, Honey menepati janjinya padaku. Jika setelah Honey menyelesaikan urusan, sebaiknya Honey segera membawaku pergi berbulan madu. Jangan sampai aku tersulut amarah, Honey," ancam Sabrina.


"Tentu. Aku sudah berjanji berulang kali. Jangan takut begitu, Honey. Jangan lupa, aku mencintaimu." William segera mendaratkan satu kecupan di bibir Sabrina. Kembali membuat semu berwarna jingga muncul di kedua pipi Sabrina.


__ADS_2