
Sinar mentari pagi menyapa dunia. Sedari saat pertama kali Elena memejamkan kedua matanya, sejak saat itu pula dia tak mampu memejamkan kedua matanya. Ada perasaan gelisah dan khawatir menyelimuti hatinya. Terlebih Lady yang seakan menghilang tanpa jejak.
Kenapa aku gelisah begini? Kemana Lady? Mengapa tidak seolah tidak ada jejak sedikitpun darinya? Apakah dia sedang melanjutkan misi dari mami? Nggak itu nggak mungkin. Jika Lady ada misi, pasti aku akan ikut serta. Sepertinya aku harus kembali ke markas.
"Elena, ada apa denganmu? Sepertinya kau baru saja melamun." Rendy baru saja keluar dari kamar mandi. Untuk beberapa saat lamanya lelaki itu berdiri diambang pintu. Menatap tajam kearah Elena yang seakan gelisah.
"Tidak apa-apa. Hari ini aku harus ke kampus. Aku lagi sebal disana, semua berlagak sok kaya. Bagaimana pekerjaanmu, Rendy?" tanya Elena mencoba menyembunyikan masalahnya.
"Ada yangnharus kuurus. Aku dan Kei harus ke luar kota. Sedangkan perusahaan diambil lih oleh Danar. Kau tidak keberatan bukan aku tinggal selama 3 hari?"
"Aku sudah biasa kau tinggal. Bang toyib kan nggak pulang karena lagi cari uang. Ha-ha-ha." Gelak tawa Elena membuat Rendy menghela nafas lega. Pasalnya lelki itu begitu khawatir tentang keadaannya yang sejak tadi melamun.
__ADS_1
"Elena katakan jika kau tidak ingin aku pergi jauh darimu bukan?" goda Rendy.
"Rendy, setelah kau kembali dari pekerjaanmu, ada sesuatu yang ingin kusamaikan. Aku akan mengatakan yang sebenarnya bagaimana masa laluku padaku. Jadi, segeralah kembali," ucap Elena dengan malu-malu. Terlihat dari kedua pipinya yang merona merah muda.
Aku harus memutuskan hubunganku dengan The Queen. Maka aku bisa hidup bersama dengan Rendy. Begitu pula Lady, aku akan membawamu pergi juga Lady. Karena aku sudah menganggapmu seperti keluargaku sendiri. Kata Elena dalam hati.
Baguslah dia akan jujur kepadaku. Rendy mengulas sebuah senyuman untuk Elena. Mungkin sebentar lagi mereka bisa bersatu dalam janji suci.
****
Setelah mengatakan hal itu Rendy berlalu dengan Kei yang mengemudikan mobilnya. Sejenak Elena mematung. Kini hidupnya telh berubah semenjak bertemu dengan lelaki tempramental itu. Rendy telah mengubah hidupnya.
__ADS_1
Ini bahkan lebih baik dari hidupku sebelumnya. Aku berharap kedepannya kami akan selalu bersama.
"Yeah waktunya ke kampus! Hidup baru i'm coming!" Elena berlari kecil masuk ke dalam rumah. Bak bocah remaja yang tengah jatuh cinta untuk pertama kalinya, Elena berputar bersiul dan bersenandung ria.
Gadis itu segera menyambar ponselnya yang berada di atas nakas. Kemudian sesekali membuka isi pesan dari ponselnya. Hingga tak kala ada satu pesan dari sahabatnya Lady, Elena dengan semangat membukanya. Gadis itu tak sabar untuk segera bertukar cerita dengan Lady tentang kebahagiaannya kini.
Namun saat dirinya membuka sebuah foto dimana sahabat tercintanya itu tengah bersimbah darah, tubuh Elena menegang. Sekali lagi kedua iris matanya menatap layar datar itu. Ya, tubuh mungil itu telah berakhir di tangan seorang eksekusi. Elena ambruk. Dunianya terasa runtuh.
Kling.
Satu buah pesan kembali diterimanya. Elena yakin, mami sudah mengetahui apa yang terjadi padanya. Pupus sudah. Kini harapan dan impiannya telah lenyap tak tersisa.
__ADS_1
"Rendy, maaf. Aku harus memilih salah satu diantara kalian."
Setelah bergumam, Elena bangkit dan segera bergegas. Memanfaatkan waktu sebisa mungkin untuk segera pergi. Meskipun ia harus pergi dengan hati dan harapan yang hancur.