
Sesosok laki-laki tampan nan gagah, baru saja keluar dari dalam mobilnya. Terlihat laki-laki tersebut begitu mempesona para kaum hawa. Tak sedikit gadis-gadis yang segera melongo melihat kedatangannya.
"Ryu," panggil laki-laki yang mempesona itu. Seorang laki-laki lain dengan setelan serba hitam atasan dan celana hitam itu mendekat.
"Ya, Tuan Muda William." Ryu, begitu panggilannya.
"Anak itu membuat ulah lagi. Katakan, apa yang harus aku lakukan? Aku begitu hebat dalam hal bisnis. Sayangnya aku begitu gagal dalam hal mengurus anak," papar laki-laki tampan yang ternyata bernama William.
"Tuan Muda. Anda membutuhkan pendamping," jawab Ryu dengan sekenanya.
"Ryu, kau juga butuh pendamping. Menikahlah maka aku akan membelikanmu rumah. Bagaimana?" tanya William yang menduduki kursi Presdir itu.
"Mohon maaf, Tuan Muda. Saya menolak. Saya telah bersumpah untuk terus mengabdi pada Anda seperti ayah saya yang mengabdi dengan tulus keada Tuan besar." Ryu mengalah. Hanya itulah satu-satunya yang menjadikan alasan agar dirinya terbebas dari godaan tuannya.
"Dasar kau. Aku yakin, kau akan menjadi perjaka tua karena terus mengikutiku. Kau tidak takut?" ledek William.
"Maaf, Tuan Muda. Hidup saya untuk Anda." Ryu beringsut. Seperti mengetahui akan terjadi sesuatu. Lelaki itu mencoba untuk menghindari amukan dari majikannya.
Prang!
Seperti dugaan, majikannya melempar sebuah barang. Untung saja beberapa detik yang lalu Ryu menggeser tubuhnya. Jika tidak, maka bisa dipastikan akan ada benjolan di kening milik Ryu.
"Kau begitu paham akan diriku, Ryu. Tapi kau tidak peka pada dirimu sendiri. Cabut sumpahmu atau kau akan menyesal!" sentak William bangkit. Kemudian lelaki itu menyambar kacamata hitam miliknya. "Saatnya ketempat raja hutan kita. Dasar anak bengal. Usianya sudah 17 tahun, tapi kelakuan macam setan."
Jika anaknya setan berarti anda adalah bapaknya setan. Gerutu Ryu dalam hati.
"Ryu, apa kau sedang mengumpatiku?" tanya William yang terus berjalan di depannya.
"Saya tidak berani." Ryu memilih mengalah. Bukan karena takut, akan tetapi cukup malas jika harus terus berdebat dengan majikannya.
__ADS_1
****
"Kau yang mengganguku lebih dulu, Artur! Jika tidak, mana mungkin aku memukulmu?" tanya seorang gadis yang berparas cantik serta bersurai hitam legam yang dikuncir kuda. Kedua iris mata yang berwarna biru, menambah nilai keindahan yang ada di dalam dirinya.
"Kau gadis preman! Bagaimana mungkin kau meninjuku? Aku hanya bercanda saja. Tapi kau memukulku betulan!" seru bocah remaja yang bernama Artur itu.
"Diamlah kalian berdua! Kalian disini untuk menuntut ilmu. Bukan untuk beradu tinju! Apa kalian ini preman jalanan yang tidak mengerti tata krama dan sopan santun? Nilai kesopanan kalian berdua minus! Tenang saja, aku sudah memanggil orangtua kalian berdua untuk kemari. Agar mereka tau, seperti apa anak mereka ketika di sekolah! Artur, aku benar-benar heran. Apa kau tidak bosan bertemu denganku? Mengapa aku terlalu sering mendisiplinkanmu?" seoramg wanita baya berbicara dengan nada yang tinggi.
"Bu, siapa juga yang tau jika aku ini akan mendapat sebuah tinjuan? Lagipula Bu, anak ini yang harus lebih didisplinkan bukan saya!" Artur menunjuk pada seorang gadis cantik di sebelahnya.
"Eh, kau kadal buntung. Beraninya kau mengadu begitu? Kau yang kurang ajar. Aku pikir kau memang butuh kedisiplinan, Artur. Bukan aku," ucap gadis itu dengan menampilkan wajah yang sedih.
"Nenek sihir! Aku hanya mencoba mengagetkanmu," dalih Artur merasa tak terima.
"Diamlah kalian berdua!" sebuah suara yang begitu menggelegar. Kini membuat mereka semua menoleh kearah sumber suara. Siapa lagi jika bukan William?
Oh sialan! Apakah aku ini bermimpi? Oppa korea tampil! Gila oppa oppa ku sudah muncul. Lihat saja penampilannya. Benar-benar seperti oppa di tv! Gadis itu berseru dalam hati.
"Katakan pada saya, Bu. Jika anak nakal ini perlu hukuman. Maka saya dengan senang hati akan memberikan putra saya untuk di didik," ucap lantang William. Sedangkan Artur, hanya mampu meneguk salivanya. Pasti ayahnya saat ini sedang menahan amarah.
"Baik, Pak. Artur, kamu ibu skors selama 3 hari. Kamu belajar di rumah. Lain kali jangan mengganggu siswi lagi. Kamu sudah banyak sekali catatan kenakalanmu. Silahkan anda bawa pulang putra anda, Pak. Dan kamu Sabrina, silahkan bersihkan aula rapat sekolah ini. Sebelum selesai, jangan harap kau bisa pulang!" sentak bu Helena yang memiliki jabatan sebagai guru BP.
"Ba-baik Bu!" Sabrina menundukkan kepalanya.
Untunglah, dirinya masih bisa diselamatkan. Jika dirinya juga diskors, bisa dibayangkan bagaimana mamanya akan menghukumnya. Sang mama memang lebih disiplin ketimbang papanya yang sudah pasti sibuk dengan bisnis perusahaan.
Jika aku diskors, mama pasti akan membereskan leherku! Sabrina membatin.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu!" timpal William seraya mengangkat tangannya menarik telinga anak lelakinya.
__ADS_1
"A-ayah! Sa-sakit!" rengek Artur.
"Diam kau! Cepat minta maaf pada gadis yang kau usili!" bentak William.
Wah. Tak kusangka, oppa membelaku! Senangnya. Sabrina mengukir senyum. Sembari menjulurkan lidahnya mengejek Artur yang tengah meringis kesakitan.
"Ayah! Lihatlah! Wanita ular itu mengejekku!" rengek Artur yang tidak terima akan ulah Sabrina.
"Diamlah! Cepat minta maaf atau ayah akan melemparmu ke jalanan!" tegas William kepada putranya.
"Hei gadis uler! Maaf!" kata Artur seraya mendengus.
"Idih nggak ikhlas!" ledek Sabrina.
Hal itu membuat Artur membulatkan kedua matanya. Sontak saja remaja lelaki itu kembali semakin meringis kesakitan lantaran telinganya semakin ditarik oleh sang ayah.
"Oke! Aku minta minta maaf!" akhirnya lolos sudah kata maaf dari mulut Artur. Membuat Sabrina tersenyum penuh kemenangan.
"Aku rasa karena anak saya telah meminta maaf, masalah cukup sampai disini. Kalau begitu kami berdua permisi, Nona," pamit William pada Sabrina.
Nyess.
Sabrina menganggukkan kepalanya dengan senyum secerah sinar mentari. Tanpa dia sadari, gadis itu menatap lekat punggung William yang kokoh hingga sosok keduanya lenyap dari pandangan Sabrina. Jika ada pepatah yang mengatakan Jatuh cinta pada pandangan pertama, maka itu benar adanya. Kini rasanya hati Sabrina dipenuhi bunga-bunga yang seakan bermekaran.
"Sabrina! Cepat lakukan hukumanmu!" bentakan bu Helena membuyarkan lamunan Sabrina.
"Bu Guru! Aku jatuh cinta!" teriak Sabrina dengan berputar-putar di ruangan BP. Seakan dirinya lupa jika dirinya tengah berada di ruangan kepala sekolah.
"Dasar gadis preman! Cepat pergi!" bentak guru BP itu dengan intonasi yang tinggi. Sabrina pun segera menyadari dirinya berada dimana. Tetapi jangan lupakan senyum secerah sinar mentari tetap menghiasi bibir gadis itu.
__ADS_1
"Aku jatuh cinta!" teriaknya sembari keluar dari ruangan BP. Tentu saja hal itu membuat sang kepala sekolah melongo dibuatnya.
Jatuh cinta? Sinting! bu Helena mendengus kesal.