
Dua jam telah berlalu. Azumi terkapar tak berdaya dengan pakaian yang berantakan. Di saat Azumi sedang menahan amarah, Amelia datang perlahan. Gadis itu tersenyum dengan hasil karya yang telah dibuat anak buahnya.
"Masih hidup? Bandel juga ya kamu," ejek Amelia. Seringai menyeramkan terbit di bibirnya.
"Aku akan membunuhmu, brengs*k!" maki Azumi dengan lirih.
Gelak tawa terdengar nyaring di setiap sudut ruangan. Azumi semakin mengepalkan kedua tangannya. Ia sungguh membenci musuhnya itu. Sayangnya, ia kini menjadi lumpuh. Seluruh sendi seakan tak bisa digerakkan.
"Percuma. Kau hanya akan menderita. Karena aku sudah menyuntikkan satu cairan yang telah aku campur dengan racun. Rupanya cukup untuk melumpuhkan semua syarafmu ya. Kau suka penyiksaan ini? Begitulah keadaan sanderamu waktu itu. Benar-benar tak berdaya dan kau masih saja berani memanfaatkannya. Miris sekali kau," tukas Amelia.
__ADS_1
Amelia menghentikan kata-katanya sejenak. Menatap ekspresi musuhnya yang semakin kalut. Amelia cukup menikmati pemandangan yang ada di depannya itu. Tapi sayangnya, sesuai dengan pesan Sabrina ia harus menahan keinginannya untuk menyiksa Azumi.
"Beruntunglah. Kau masih bisa selamat. Hanya lumpuh saja tidak masalah bukan? Baiklah. Kau tidak mungkin bisa kabur dari sini. Aku pergi dulu saja. Ingat ya, kalian harus mengawasinya dengan baik. Sabrina yang akan mengambil alih dia nantinya," ucap Amelia sebelum akhirnya ia pergi dari penjara bawah tanah tersebut.
Elena menatap tak percaya pada gadis yang kini menekuk kedua lututnya itu. Bahkan gadis itu terlihat berantakan dengan banyak luka lebam di tubuhnya. Sungguh sangat miris keadaan gadis itu. Bisa dipastikan ia akan trauma dalam waktu yang lama. Tubuhnya terlihat bergetar. Ketakutan dan kelaparan dialaminya dalam waktu yang bersamaan. Sepertinya mereka memberikan makan seadanya saja.
"Aku yakin Sabrina pasti menyalahkan dirinya. Ia gagal dalam melindungi sahabatnya. Mu, segera carikan dokter untuk gadis ini," pinta Elena.
William menatap nanar ke arah gadis yang ketakutan itu. Menurut pemahamannya, dia adalah sahabat dari Sabrina. William menghela napas panjang. Ia tak percaya pada keadaan ini. Sangat miris baginya. Terlebih korban ditemukan dalam keadaan yang menyedihkan.
__ADS_1
"William, kau harus terbiasa dalam hal ini. Manusia yang serakah pasti bisa melakukan lebih dari ini. Nyawa tiada memiliki arti di tangan orang yang serakah. Untuk orang yang pernah berada di situasi itu, aku rasa ini adalah hal yang biasa. Hanya saja, kasus kali ini berbeda. Mereka begitu keji dengan melibatkan orang-orang yang tidak bersalah. Menurutmu jika bukan demi kekuasaan apa lagi? Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, William" Rendy menepuk pundak kokoh William. Mengingatkan jika ini adalah hal yang wajar.
"Aku akan mengingat hal ini, Rendy. Terima kasih ya. Semoga setelah ini, semuanya berakhir. Aku akan mengajak Sabrina pergi berjalan-jalan nantinya," sahut William.
"Bagus. Ayo, kita pergi." Rendy menarik mundur pasukan yang tersisa. Semuanya kini meninggalkan rumah yang telah porak poranda.
"Ngomong-ngomong, Rendy. Gadis itu dibawa kemana?" tanya William. Kini mereka telah berada di dalam mobil.
"Dia dibawa Elena ke dokter. Sepertinya keadaan mentalnya kena juga. Itu justru satu kondisi yang lebih parah daripada sakit fisik. Mungkin saja, dia akan sembuh untuk waktu yang lama. Aku akan memberikan bantuan untuknya nanti. Syukur semua sudah berakhir," ucap Rendy sembari menyandarkan kepala.
__ADS_1
"Aku yakin. Sabrina bahkan akan sedih setelah mendengar kabar ini." William memejamkan kedua matanya.