Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 356. Ledakan


__ADS_3

William melongo melihat sebuah helikopter yang telah menunggu mereka. Sabrina berjalan angkuh bak model di atas catwalk. Sedangkan William, hanya bisa mengikuti Sabrina dari belakang. Sembari kedua matanya mengamati keadaan sekitar. Di mana, banyak sekali orang-orang yang memakai pakaian serba hitam.


picture by pinterest



"Ben, apa kau sudah menyiapkan semua kebutuhanku?" tanya Sabrina.


"Semua sudah kami siapkan, Nona Muda. Semua ada di dalam. Silahkan, Nona Muda," ucap Ben seraya membungkukkan badannya.


Sabrina menganggukkan kepala. Ia masuk ke dalam helikopter yang telah disediakan oleh Ben. William pun juga masuk ke dalam helikopter tersebut. Meskipun sebelumnya ia mendapat sorotan tajam dari Ben.


Helikopter mulai mengudara. Di dalam sana, Sabrina mengambil senjata laras panjang dan menempatkannya di belakang punggung. Lagi-lagi, William hanya mampu mengamati pergerakan Sabrina yang seperti tengah bersiap hendak berperang.


"Sabrina, apa aku menjadi bebanmu?" tanya William.


Sabrina menggelengkan kepala. "Tidak. Kenapa Uncle William bertanya begitu?"


Suara Sabrina sedikit meninggi. Mengingat, keduanya berada di helikopteer. William tak lagi menjawab. Situasi dan kondisi yang hanya akan membuat ia dan Sabrina saling berteriak. 


Dengan cepat, helikopter telah sampai di perusahaan Wiliam. Begitu mendarat, Sabrina dan William bergegas turun. Setelah mneurunkan penumpangnya, helikopter mengudara. Dari atas perusahaan, Sabrina memencet sesuatu di jam tangannya. Hingga keluar beberapa lebah kecil buatannya. Lebah-lebah tersebut terbang mengudara. Lagi-lagi William hanya mengamati sosok di sampingnya tanpa bersuara.


"Tas apa itu?" tanya William saat Sabrina membawa sebuah tas di punggungnya.

__ADS_1


"Untuk membantu pekerjaan." Sabrina mengambil sebuah teropong. 


Ia mulai mengamati sekitarnya. Lantas, sesekali Sabrina mengamati layar kecil yang ada di jam tangan miliknya. Merasa belum cukup, Sabrina mengeluarkan sebuah drone dan sebuah notebook. Setelah dua benda itu saling terhubung, Sabrina mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah benda berbentuk bulat, Sabrina lekatkan menggunakan lakban dan direkatkan di drone tersebut.


Setelahnya, Sabrina menerbangkan drone tersebut. William yang tak paham hanya bisa menunggu Sabrina di belakangnya. Drone telaah diterbangkan. Tak berapa lama, terdengar ledakan.


"Apa ini?" Wajah William terlihat memucat setelah terdengan ledakan.


"Gas terkompresi. Ledakan yaang rendah." Sabrina membuka suara.


Kembali, Sabrina mengambil drone yang lainnya. Lalu melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Gadis itu menerbangkan kembali drone yang baru. Ia telah memahami letak paraa musuhnya berada. Sabrina tersenyum menyeringai setelah suara ledakan menggema.


"Aku memberikkan salam pembukaan yang indah bukan?" Sabrina tertawa lirih.


"Astaga. Perusahaanku selesai sudah!" Williaam membatin lirih.


"Ini sudah malam, seharusnya aku pulang," kata seorang pria tua yang mulai bangkit dari tempatnya.


"Oh tidak bisa, Johan. Permainan belum berakhir. Ini belum kelihatan siapa yang menang lo," ucap pria tua yang masih saja betah di kursi rodanya.


"Hei! Ardan Wijaya! Sudah jelas-jelas kau itu yang menang. Ini aku tinggal raja doang lo! Dasar curang! Selalu saja aku yang kalah!"  teriak Johan.


"Lo Pak tua ini bagaimana? Curang darimana? Aku adalah pria tua yaang jujur tahu! Bilang saja kau itu tidak mau mengakui kekalahanmu!" Ardan Wijaya tak terima.

__ADS_1


"Hei Pak Tua! Kau tidak lihat, pasukanku hanya tinggal raja saja. Lihat punyamu! Kau masih memiliki banyak ajudan yang tersisa! Aku sudah kalah 23 kali hari ini. Sudah, aku mau pulang! Istriku sudah menunggu." Johan Saputra hendak beringsut.


"Halah! Sok sok an bilang istri sedang menunggu! Padahal kau sedang lari dari kenyataan bahwa kau itu selalu kalah dariku bukan?" ejek Ardan.


"Oi oi! Lihat ini ponselku! Riri sudah menelponku dari tadi! Aku ini sabar lo, ngadepin orang yang selalu menghadapi kenyataan seperti kau ini! Sudahlah, besok lagi. Aku harus pulang ke rumah. Ini sudah malam. Dasar tak berbelas kasihan. Aku perlu waktu untuk perjalanan juga tahu! Soalnya aku sudah bilang Riri akan segera pulang dari sejam yang lalu!" Johan kini berteriak. Sudah dituruti permintaan Ardan sejak satu jam yang lalu, tapi masih juga ingin bermain lagi.


"Halah! Sok sok an memelas! Rumah kau sebelah rumahku, Pak Tua! Perjalanan apa lagi kau ini? Hanya belok saja. Halah, biarinlah si Riri kau itu. Kita selesaikan ini. Jangan jadi suami takut istri! Kita itu suami! Kenapa harus takut sama bini?" ejek Ardan.


"Mas Ardan," sebuah panggilan menyentak Ardan di kursi rodanya. Ardan menoleh ragu-ragu. Mariani berdiri dengan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya. "Masih mau lanjut? Nanti malam mau bobok di luar kamar?"


"He, ti-tidak, Sayang. Ini sudah selesai kok. Hei, Johan! Cepat pergi sana! Istrimu sudah menunggumu dari tadi. Masa kau tega mengabaikannya begitu. Nggak baik! Kalau bukan istri kita yang akan merawat kita di masa tua, siapa lagi? Sudah, sana pulang kau!" usir Ardan.


Johan mendelik. "Tahu ah! Mariani, aku pulang dulu. Suami kau ini, rantai saja. Biar sekalian tambah mengkeret! Dah, Mariani!" Johan melambaikan tangan dan hendak berlalu.


"Assalamu'alaikum," kata Mariani.


"Eh, wa'alaikumsalam," sahut Johan sambil nyengir kuda. Johan membalik tubuhnya. Namun, ada dua orang yang sedang dirindukannya berjalan ke arah mereka. Imbuh Jordan, "Lo. Kalian kemari? Danar? Resa?"


"Iya, Pa. Ada yang ingin dikatakan oleh Mas Danar sama Tuan Ardan," jawab Resa. Anak sambung Johan.


"Pa?" Danar mengambil tangan kanan Johan dan mencium khidmat. Sedangkan pria tua itu malah mencebikkan bibirnya.


"Nduk, cari laki mbok ya yang bener. Malah cari suami algojo begini," sindir Johan. Tiba-tiba kedua mata pria tua itu membulat dan menyunggingkan senyuman. "Eh, menantuku ini mah hebat. Kenapa lama nggak main ke rumah?" Sikap Johan berubah ketika segepok uang lembaran merah disodorkan oleh Danar. Johan lalu menyimpan uang itu ke dalam saku celana kainnya.

__ADS_1


"Danar ada banyak misi, Pa." Danar lalu menatap Ardan Wijaya. "Tuan Ardan, kedatangan saya kemari ingin memberikan kabar tentang Nona Sabrina," kata Danar.


"Masuk," titah Ardan Wijaya. Suasana tiba-tiba mencekam.


__ADS_2