Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 398. Uang Suap.


__ADS_3

Keesokan harinya, Sabrina telah bersiap. Ia akan memastikan tanda-tanda yang mencurigakan di Aretha. Sabrina membawa beberapa alat yang mungkin saja berguna untuk membantu mengungkap kebenaran.


"Sabrina, kau memikirkan apa?" tanya Artur.


"Ada apa, Honey? Mengapa seperti tengah memikirkan sesuatu? Segeralah habiskan sarapanmu, Honey." William menepuk bahu Sabrina dengan pelan.


"Ya ampun. Tanpa sadar aku melamun. Ayolah, Sabrina. Jangan terlalu ceroboh," kata Sabrina dalam hati.


Terlihat Sabrina menghembuskan napas panjang. "Aku was-was karena mewawancarai Xander Grup. Bisakah, nanti Honey berpura-pura sebagai Pamanku?" Sabrina berbicara dengan hati-hati. Takut akan menyinggung perasaan William.


"Kau ingin menyembunyikan statusmu?" Suara William terdengar tak enak di telinga.


Sabrina menggelengkan kepala pelan. "Hanya takut saja. Terlebih, ada yang mengincarku. Jika mereka tahu aku istri Presdir Xander Grup dan juga putri kedua dari Rendy Saputra Wijaya, apa yang akan terjadi? Pasti ada banyak kericuhan. Akan ada banyak manusia-manusia penjilat yang ingin merebut hati dan perhatianku."


"Sial*n! Benar juga! Yang ada malah bungaku semakin dikelilingi kumbang-kumbang yang semakin tergila-gila padanya!" rutuk William dalam hati.

__ADS_1


"Benar juga, Honey. Baiklah. Jika ada banyak yang bertanya tentang hubungan kita, maka aku akan mengatakan jika kau keponakanku. Lalu bagaimana dengan para investor Xander Grup yang beberapa hari kemarin mengetahui identitasmu?" tanya William gelisah.


Sabrina menarik sudut bibirnya. "Mereka ada dalam genggamanku. Bukankah mereka sudah menandatangani surat perjanjian kala itu? Di sana juga ada pantangan untuk mereka yang tidak boleh membocorkan identitasku. Jadi, jangan khawatir tentang mereka. Jika dilanggar, mereka akan menanggung akibatnya."


"Oke. Kekuasaan Wijaya memang tak bisa diragukan lagi. Ayah, jam berapa memiliki waktu luang?" tanya Artur. Ia menatap lekat ayahnya.


"Setelah kalian selesai pembelajaran saja. Agar tak mengganggu kegiatan kampus. Sesuka kalian ingin datang jam berapa. Yang terpenting, jika meluncur ke kantor ayah kalian menghubungi ayah terlebih dahulu. Ayah akan berusaha mengcancel jadwal dengan clien. Berapa orang yang ke kantor ayah? Mungkin, ayah perlu menyiapkan cemilan." William terkekeh. Mengingat persahabatan Artur dengan dua anak yang menurut William terlalu blak-blakan itu.


"Honey, mereka semua selalu membuat dompetku kering kerontang. Sungguh menyedihkan sekali dompetku selalu tipis, gara-gara satu anak yang mata duitan," sindir Sabrina. Ia juga mengerucutkan bibirnya maju ke depan.


Sabrina mendelik. Gadis itu menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Setelah mengingat kata-kata dari Artur, Sabrina nyengir kuda. Bisa-bisanya mulutnya begitu sombong. Senjata makan tuan. Niat hati ingin membuat Artur berpihak padanya. Nyatanya Sabrina justru semakin membuat Artur semakin kaya tanpa harus bekerja.


"Tapi, Artur. Aku kok tetap merasa aneh ya? Adalah, sesuatu yang seperti tidak sadar aku lakukan!" Sabrina mendesah resah.


"Apa memangnya?" tanya Artur.

__ADS_1


Sabrina berpikir sejenak. "Wah! Kau tidak hanya meminta uang saku padaku, Artur! Kau selalu aku traktir, ketika kita akan makan! Pantas saja, dompetku cepat sekali menipis!" Sabrina menepuk jidatnya sendiri.


"Artur, ayah tidak pernah mengajarimu untuk menilap uang orang lain," tegur William dengan mimik wajah yang serius.


Mendemgar teguran dari William, Artur membulatkan kedua mata. "Lo, Ayah! Artur tidak menilap uang Sabrina sedikitpun! Dia kok yang selalu membelikanku makanan! Aku tidak memintanya."


Sabrina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Memang sih tidak menilap. Hanya saja, kok aku merasa tetap ditipu ya? Udah dapat uang jajan, tapi jajan masih aku yang tanggung juga."


"Ya ampun! Mamak baruku ini bikin tensi darah naik! Pintar dalam akademis, tapi tetap saja bisa dibodohi!" rutuk Artur dalam hati.


"Hei, Mamak! Pikirlah pakai otak! Uang yang kau berikan padaku, itu adalah kerjasama antara kita! Jadi, wajar saja jika ketika aku makan kau yang bayar di kantin," kilah Artur.


"Kerja sama apa?" tanya William bingung.


Sabrina mendelik. "Tidak mungkin aku mengatakan, jika kerjasama itu adalah bentuk suapku terhadap Artur agar selalu mengikuti kata-kataku. Astaga! Aku terjebak kata-kataku sendiri!"

__ADS_1


__ADS_2