Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 435. Hukuman William


__ADS_3

"Kenapa, Artur?" Elena mengerutkan dahi.


"Entahlah, Oma. Terakhir kali bertemu aura gadis itu terasa tidak enak. Aku malas berada di dekatnya." Artur menyeka keringat dengan menggunakan handuk kecil.


Elena tersenyum. "Kamu bisa merasakan aura aneh dari Aretha?"


Artur mengendikkan bahu. "Aku tidak tahu, Oma. Aku hanya berfirasat jelek saja. Entah itu benar atau tidak. Aku sudah memperingatkan Sabrina, eh salah. Aku sudah memberitahu mama Sabrina tentang hal itu. Semoga mama sadar tentang kekhawatiranku."


"Ya. Sabrina merasakannya. Semua itu sudah aman. Ayo kita berangkat sekarang. Kondisi sudah aman. Jadi jangan berpikiran buruk lagi." Elena berkata dengan lembut. Lalu wanita itu bangkit dari duduknya. "Jangan membuat oma menunggu lebih lama lagi."


Artur yang bingung, hanya bisa menurut saja. Remaja itu berjalan menuju ke tempat Elena setelah cuci muka dan berganti pakaian. Ternyata Elena telah duduk tenang di dalam mobil. Saat Artur telah masuk ke dalam mobil, segera supir melajukannya menuju ke tempat Aretha dirawat.


Dalam perjalanan, Artur hanya bisa menebak-nebak apa yang akan dilakukan oleh Elena. Setelah beberapa waktu, mobil telah sampai di area parkir tempat Aretha dirawat. Artur mulai keluar dari mobil ketika Elena juga sudah keluar. Tanpa bersuara, Artur mengekor di belakang Elena. Keduanya terus berjalan hingga sampai di sebuah kamar. Elena lalu membuka pintu kamar tersebut.


"Halo, Aretha?" sapa Elena dengan lembut.

__ADS_1


Gadis yang kini terlepas dari tali itu menoleh. Tatapannya begitu datar. Akan tetapi saat mendapati Artur. Aretha melebarkan kedua matanya.


"Artur, di mana Sabrina? Kenapa tidak menjengukku?" Pertanyaan Aretha sontak membuat Elana bersorak.


"Ya Allah, Nak! Kamu sudah ingat?" Elena menjerit senang. Wanita parih baya itu berlari menuju ranjang pesakitan Aretha.


"Syukurlah, Nyonya. Karena kemarin Nona Sabrina mengatakan tentang pengobatan tiongkok. Akhirnya keadaan Nona Aretha sangat lebih baik dari sebelumnya. Meskipun kondisi Nona Aretha belum bisa dikatakan telah sembuh total dari traumanya. Namun ini lebih baik. Kalau begitu, saya permisi, Nyonya Elena." Dokter itu berlalu setelah menjelaskan kondisi Aretha.


"Syukurlah," lirih Elena.


Tangisan Elena terhenti. Ia menatap wajah Aretha dengan sendu. Rasanya hatinya ikut terluka melihat penderitaan Aretha. Gadis yang polos dan tak memiliki kesalahan justru harus menjadi korban dari kebiadaban manusia egois.


"Tante bernama Elena. Mamanya Sabrina," tukas Elena.


"Sabrina?" Mendengar nama Sabrina disebut oleh Aretha, Elena tersenyum. Lanjut Aretha, "Di mana dia, Tante?"

__ADS_1


"Dia sedang sibuk. Jadi, tante hanya mengajak Artur. Cepatlah sembuh. Nanti bisa berkumpul lagi bersama Sabrina." Elena berkata lembut. Akan tetapi ada yang membuat Elena terusik. Aretha menatap Artur dengan tatapan takut. Sedangkan Artur, menatapnya datar.


Di sisi lain, Sabrina dan Julia telah menginjakkan kaki di rumah. Sabrina yang masih kesal segera berlari menuju ke kamarnya. Dibuang semua belanjaannya dan menjatuhkan diri dengan kasar di ranjang.


"William gimana sih? Kenapa nggak tegas? Setelah Ara nanti, siapa lagi yang akan menggoda William?" Sabrina menggerutu. Saat Sabrina tengah memaki, terdengar suara langkah kaki seseorang. Sabrin yakin jika itu William.


"Honey?" William menyentuh pundak Sabrina dengan lembut dan hati-hati. Takut Sabrina akan lebih marah kepadanya. "Honey, kamu marah?"


Sabrina duduk. Lalu menatap William dengan tatapan tajam. Sabrina pun turun dari ranjang dan menarik tangan William hingga pria itu kini berada di luar kamar.


"Malam ini tidur di luar!" Sabrina pun menutup pintu dengan keras.


"Honey? Kenapa kau tega sekali?" William mengetuk ointu kamar berulang kali. Wajahnya kembali terlihat riang tatkala mendapati Sabrina membuka pintu kembali. Dengan senyum lebar, William pun berkata, "Honey, kau berubah pikiran?"


"Ge er! Ini selimut dan bantal makan sana!" Sabrina kembali membanting pintu.

__ADS_1


"Hah? Serius ini?" William melotot tak percaya.


__ADS_2