
"Aku sudah memperingatkanmu beberapa waktu yang lalu. Nyatanya kamu masuh belum kapok juga, Nona Ara?" Sabrina melayangkan tatapan yang menusuk.
Ara yang mengetahui kenyataan, memilih menundukkan kepala. Tak ingin memperpanjang masalah yang ada. Bisa-bisa ia dipecat. Jika ia dipecat, maka tamatlah riwayatnya.
"No-Nona Sabrina. Ma-maafkan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya mohon." Ara menjatuhkan diri di depan Sabrina. Tubuhnya bergetar hebat.
Sabrina memutar kedua bola mata. Sadar jika Ara akan menyesal. Bukankah semua orang selalu begitu? Mungkin jika dirinya miskin, Sabrina akan terus diinjak-injak. Tetapi jika semua orang tahu Sabrina berasal dari keluarga konglomerat, maka yang ada semua orang bagai penjilat.
"Bukankah aku sudah memberikanmu kesempatan saat itu? Kenapa kau sekarang masih saja ingin menggoda William? Sudahlah. Pergi ke HRD dan ambil pesangonmu. Aku tidak akan membiarkan perusahaan ini ternoda lagi. Cepat! Julia!" Sabrina mengelukan nama Julia.
Itu artinya kini Julia yang akan bertindak dan mengambil alih keadaan. Benar saja, Julia segera menarik tangan Ara. Tentu saja wanita itu memberontak. Namun, tentu saja Ara kalah tenaga. Mengingat sosok Julia yang sering berlatih beladiri. Tenru saja makian dan cacian runtut didapat Ara. Kini tinggallah William dan Sabrina.
__ADS_1
"Honey?" William membuka suara. Sabrina menoleh. Sorot mata Sabrina menatap tajam William.
"Sebelumnya aku tidak ingin memecatnya. Semua orang berhak memiliki kesempatan kedua. Sayangnya dia adalah wanita yang tidak tahu diri. Aku sudah berbaik hati untuk tak mempermasalahkan apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Sayang dia tak pantas mendaatkan kesempatan kedua. Lihatlah. Dia nyatanya memilih nekat dengan resiko kehilangan pekerjaan. Padahal di luaran sana ada banyak yang ingin bekerja di sini. Ngomong-ngomong, enak ya bisa cuci mata." Sabrina menatap sinis ke arah William.
Tanpa berkata-kata Sabrina beranjak meninggalkan tempat itu. Wanita itu berjalan menuju lift presdir. Itu berarti Sabrina menuju ruangan William. Sabrina meninggalkan William begitu saja.
"Aku harusnya juga marah. Kenapa dia masih saja menyembunyikan pernikahan ini? Ini lucu sekali. Padahal aku kan ingin pernikahan ini diakui. Kenapa dia ingin menyembunyikannya? Aku yakin dia keceplosan tadi. Sabrina, apa yang sedang kau pikirkan?" William membatin galau.
"Tutup pintunya," titah Sabrina masih dengan tatapan yang membunuh.
William menurut. Ia menutup pintu meski pria itu merasa sedikit horor dengan Sabrina.Setelah menutup pintu, William berjalan menuju Sabrina berada. Gadis itu duduk di kursi kebesaran milik William. Sabrina mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan William. Tatapan Sabrina mengunci pada dua kotak makanan yang ada di meja kerja William.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang perlu menjelaskan tentang makanan ini." Sabrina menatap William.
Sedangkan pria yang ditatap menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Dia memberikan itu. Aku tidak memintanya, Honey. Dia sendiri yang tiba-tiba menyodorkannya padaku dan menaruhnya di meja ini. Lalu dia tersandung sesuatu dan ambruk padaku. Aku mau mendorongnya. Sayangnya kalian keburu datang."
Sabrina menatap dua kotak makanan yang terlihat menggiurkan. Gadis itu menyambar dua tepak makanan dan menciumnya. Sabrina memastikan sesuatu. Dia mengeluarkan satu jarum yang ia sembunyikan di balik pahanya. Di mana jarum tersebut telah disimpan seaman mungkin. Agar tidak melukai paha Sabrina. Gadis itu lalu menusukkan di makanan yang ada di dalam tepak.
"Honey, kamu ngapain?" William menatap Sabrina bingung.
"Siapa yang tahu dia memasukkan racun." Sabrina menjawab santai.
"Hah?"
__ADS_1