Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Tunangan Kontrak


__ADS_3

Elena terdiam ... Seakan ragu untuk menjejakkan kakinya disebuah rumah mewah nan megah didepan matanya. Menatap ragu lelaki yang berjalan angkuh kearahnya.


"Ingat ini adalah hari pertama dari pekerjaanmu. Jangan kecewakan aku," ucap Rendy.


Gadis itu mengangguk pasrah. Kemudian meneguk salivanya untuk mengurangi sedikit kegugupannya. Tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh sebuah tangan yang melingkar dipinggangnya. Membuat Elena terkesiap kaget.


"Supaya lebih terlihat nyata jika kau adalah tunanganku." Rendy menarik tubuh mungil itu menuju rumahnya.


Huft ... Ini semua aku lakukan supaya aku tidak dibuang. Aku harap keluarganya nggak nyeremin. Kalo dilihat dari nih orang sih nyeremin. Terus kalo aku gagal, bisa-bisa ku dibuang nih.


Glek ... Elena meneguk salivanya. Kemudian menarik nafasnya dalam-dalam. Rendy segera melangkahkan kakinya menuju rumah kedua orangtuanya. Sedangkan Kei menatap tajam kearah Elena. Seakan memata-matai setiap gerakan dari Elena.


Ceklekkk.


"Selamat datang Tuan Muda pertama," sambut para maid yang berbaris rapi menyambut kedatangan Rendy.


Waaaah ini sih gila. Mereka bahkan lebih dari 25 orang maid dan pengawal! Ini sih sultan.

__ADS_1


"Kakak!" seru seorang gadis yang berusia 23 tahun. Gadis itu memiliki paras yang cantik dengan rambut yang panjang dan hitam legam.


"Rania!" Rendy segera menyambut hangat pelukan sang adik perempuannya. Saling melepaskan rindu yang kian terpendam.


"Kakak aku rindu padamu. Mengapa kau tidak pernah berkunjung?" tanya Rania.


"Maaf kakak sibuk. Dimana ayah dan ibu?" tanya Rendy. Namun Rania justru terdiam menatap curiga kearah gadis yang ada disamping Rendy. "Oh kenalkan ini Elena. Elena ini adiku Rania."


Kedua gadis itu saling berjabat tangan. Rania memberikan sebuah senyuman untuk Elena. Membuat Elena juga menyunggingkan sebuah senyum. Namun tiba-tiba sebuah teriakan dari lantai dua, mengagetkan mereka semua. Siapa lagi jika bukan Ardan Wijaya. Hanya lelaki itu yang memiliki kuasa dirumah ini.


"Bocah bengek!" Teriak Ardan begitu dirinya tepat berdiri didepan Rendy, anaknya. "Setelah sekian lama kau baru ingat pulang kerumah?"


"Ayah ... Aku baru saja sampai. Apa Ayah tak merindukan aku?" tanya Rendy. "Lagipula, aku selama ini sedang sibuk mengurus bisnis Ayah. Apa Ayah tidak mendengar kehebatanku?"


Dasar sombong! Elena memutar kedua bola matanya. Mengumpat dalam diam melihat kesombongan Rendy. Hingga kedua iris mata Ardan menangkap sosok gadis yang berdiri dibelakang Rendy. Sedangkan Mariani, hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya itu.


"Siapa gadis dibelakangmu?" tanya Ardan penasaran. Pertanyaan dari Ardan cukup menyita perhatian mereka semua menuju kearah Elena. Gadis itu kini berdiri dengan tubuh yang gemetar karena mendapat serangan yang mendadak.

__ADS_1


"Ayah ... Kenalkan ini Elena. Tunanganku," ucap Rendy sembari menarik tangan Elena untuk mensejajarkan posisinya.


"Hah?" mereka semua seakan tersentak dari lamunannya. Tunangan?


"Apa maksudmu Nak?" tanya Ardan linglung. Mencoba untuk mengasah telinganya.


"Om Tante ... perkenalkan saya Elena. Tunangan dari Rendy." Elena mencoba berbicara sealami mungkin. Agar mereka semua tak curiga dengan kesepatakan yang ada diantara mereka.


Elena mengambil tangan Ardan dan menciumnya. Begitu juga dengan tangan Mariani. Tanpa melupakan sebuah senyum yang tulus tergambar dibibirnya.


Pintar sekali kucing kecilku ini. Dia berbkat juga. Bisa akting sealami itu. Good girl. Rendy menyunggingkan sebuah senyum seringai.


"Kapan kalian tunangan?" tanya Ardan. Kedua mata Rendy dan Elena sama-sama melebar.


Sialn aku dan Elena belum mendiskusikan hal ini! Habis sudah aku dan Elena.


Mati aku! Paman sama sekali tak mengungkit kapan kmi berdua tunangan*! Rutuk Elena dalam hati. Meratapi keadaannya yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2