
"Syukurlah kita bisa keluar dari situasi itu , Elena. Sekarang mari kita benar-benar berbelanja. Eh disana ada butik. Ayo traktir aku beli sebuah gaun," kata Lady dengan menyeret Elena.
"Tenang saja ada sultan Elena disini." Elena membusungkan dadanya seakan dia bngga jika hari ini dia akan mentraktir Lady.
"Wah ... Elena. Gaun disini keren-keren. Kau sudah berjanji padaku, untuk mentraktirku bukan?" goda Lady pada Elena.
"Tentu saja. Hari ini panggil a ...." Elena tiba-tiba membisu saat mendengar sebuah suara yang begitu dia kenali.
"Yo ... Siapa ini? Bukankah ini gembel yang telah ditendang oleh keluarga Vanhoutten?" tanya seorang gadis yang meghampiri keduanya dengan sangat angkuh. Seketika Elena berubah menjadi tatapan yang begitu dingin.
"Yo ... Bukankah ini dia pewaris keluarga Vanhoutten? Mengapa penampilannya seperti jal*ng diluar sana hah?" Elena memandangnya dengan sebelah mata. Karena ia tahu seperti apa Sonia. Dia tahu betul, gadis itu pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Kau kurang ajar!" Sonia mengangkat tangannya untuk mendaratkannya di pipi Elena.
__ADS_1
Trakk.
Kedua mata Sonia membulat. Saat tangannya ditepis oleh seorang gadis dengan tatapan yang begitu dingin dan tajam. Siapa lagi jika bukan Lady yang selalu ada di belakang Elena.
"Siapa kau? Beraninya tanganmu menyentuh tanganku?" tanya Sonia. Dia masih begitu angkuh dan sombong.
"Siapa dia itu tidak penting. Yang jelas dia jauh lebih baik darimu dalam hal berpakaian Sonia. Ayo Shirly, kita pergi dari sini. Moodku sudah hilang sekarang." Elena berbalik hendak meninggalkan butik itu tetapi justru Sonia malah memprovokasinya.
"Sonia? Ada apa denganmu? Kau menjadi perhatian di butik ini!" seseorangpun mendekati Sonia. Seorang wanita paruh baya bersama dengan seorang wanita tua yang sudah sepuh.
"Lihat Ma. Siapa yang kita temui kali ini? Elena. Si gembel yang keluar dari kediaman Vanhoutten," kata Sonia sembari menunjuk kearah Elena.
Kedua wanita yang baru saja bergabung itu terkesiap kaget. Namun, seorang wanita sepuh itu mencoba untuk mendekati Elena. Sebuah kerinduan yang sungguh luar biasa pada cucunya yang telah lama hilang. Dengan segera Elena memundurkan langkahnya menghindari wanita tua itu.
__ADS_1
"Elena?" panggil dengan lirih wanita tua tersebut.
"Aku sudah tidak lagi dalam keluarga Vanhoutten. Mengapa kalian bahkan tak ingin membiarkan aku untuk hidup di duniaku sendiri. Mengapa kalian tidak menganggap Elena yang kalian kenal itu sudah mati? Sehingga jika kita tidak sengaja untuk bertemu, kita bisa saling tidak mengenal bukan?" Kini ekspressi dari Elena sangat susah untuk dibaca.
"Elena mengapa kau begini Nak? Ini nenek sayang," kata wanita tua itu dengan nada lirihnya.
"Sonia! Kau bilang aku tidak mampu untuk membeli gaun di butik ini bukan? Pelayan! Aku ambil 3 baju yang dipilih temanku tadi. Aku bayar pakai ini!" Elena mengeluarkan sebuah kartu black card yang sedari tadi dia sembunyikan.
Tingkah dari Elena justru semakin membuat mereka semua terkejut. Pasalnya selain kartu yang limited edition tersebut, tingkah Elena benar-benar berubah. Sonia yang tidak terima, segera memberikan isyarat kepada tiga bodyguardnya untuk memberikan pelajaran kepada Elena. Karena Elena sebelumnya tak menyadari hal itu, tamparan yang begitu keras benar-benar mendarat di pipinya.
"Ini sebagai balasan atas sikap kekurangajaranmu ada nenek. Kau hanya duri dalam daging. Aku yakin kau pasti menjadi simpanan om om di luar sana bukan? Heh jangan sok alim kau! Kau baru beberapa waktu mengatakan jika kau tidak membutuhkan harta bukan? Mari kita lihat siapa yang ada di belakangmu? Kau ternyata memiliki muka dua, Elena! Katakan siapa om om yang telah menidurimu?" tanya Sonia dengan meremehkan.
"Siapa yang kau bilang om-om?" sebuah suara bariton yang khas di telinga Elena membuat Elena segera menoleh.
__ADS_1