Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 342. Emosi Artur.


__ADS_3

Pemenang kedua, nanti akan saya umukan ya. hehe. terus pantengin novelku ya😊😊


"Kalian mau kemana?" tanya Artur.


Kedua mata Artur berkilat amarah. Ia menatap tajam pada dua orang yang telah berpakaian rapi. Seolah Sabrina dan William akan pergi bersama. Otak Artur mulai berfikir. Kini kedua tangannya terkepal. Bukankah hari ini, hari Minggu? Apakah hari ini mereka berkencan? Pikiran Artur kini menjadi rumit. 


"Kami akan pergi. Kau baik-baiklah di rumah. Atau kau mungkin memiliki rencana lain," kata William.


Kata-kata William seolah menandakan Artur harus memiliki rencana sendiri. Artur melirik ke arah Sabrina yang berdiri di belakang William. Gadis itu tersenyum sinis, dan memberikan jari tengahnya kepada Artur. Sontak saja memicu emosi Artur.


"Apa Ayah akan berkencan dengannya?" tekan Artur.


"Hem." Jawaban William membuat emosi Artur semakin menjadi.


"Apa aku juga tidak boleh ikut?" Artur menahan emosinya. Jika ia nantinya diperbolehkan ikut, maka Artur akan menahan emosinya sekuat tenaga.

__ADS_1


"Tidak." William menggelengkan kepala.


"Kenapa? Bukankah aku ini anak Ayah?" debat Artur.


"Artur, jangan berdebat. Ayah dan Sabrina berangkat dulu. Kau boleh pergi bersama dengan teman-temanmu. Ayah tidak melarang." William memutar tumitnya. Kini ia membelakangi Artur.


"Tidak! Aku tidak mengijinkan kalian untuk pergi bersama! Jika kalian akan pergi bersama, maka aku harus ikut! Sabrina, apa yang kau lakukan? Kau pasti merayu ayahku kan semalam?" Dada bidang Artur terlihat naik turun. Menandakan emosinya yang hebat.


Sabrina mendelik. "Apa yang kau katakan? Merayu? Jaga bicaramu, Artur!"


"Artur!" William meninggikan suaranya.


Pria itu menatap tak percaya pada sang putra. Bisa-bisanya Artur merendahkan Sabrina di depannya. William membalas tatapan tajam Artur dengan kilatan emosi tiada terkira.


"Kenapa, Ayah? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Apa namanya jika dia tidak merayu Ayah? Nyatanya Ayah sekarang bertekuk lutut di depan wanita jal*ng itu!" bentak Artur.

__ADS_1


"Stop, Artur!" Kini Sabrina yang berteriak. Membuat William dan Artur menoleh ke arah Sabrina. Lanjut Sabrina, "Dua kali kau mengataiku ja*ng! Dulu dan saat ini! Kau tahu apa tentang hidupku? Seenaknya lidahmu mengatakan hal buruk tentangku! Apa kau pikir juga kau berani mengatakan hal itu kepada orangtuaku? Kalau kau berani katakan sana pada mereka, betapa jal*ngnya aku, Artur!"


William dan Artur terhenyak. Emosi kedua orang itu menyusut tiba-tiba. Digantikan oleh rasa was-was yang bergejolak. Mengingat Sabrina bisa saja menghilang kembali. William menatap sosok yang sedang emosi. Yang membuat hati William tertohok adalah, Sabrina menitikkan air mata.


"Papa dan mamaku tidak pernah mengajarkan aku hal buruk, seperti yang kau katakan. Mamaku adalah orang yang tegas. Kau pikir aku seperti dirimu? Kau tidak lihat, siapa kedua orangtuaku? Orangtuaku memiliki kekayaan yang tiada terkira. Lalu kau, Artur? Ayahmu hanya memiliki satu perusahaan kecil, yang bahkan bisa aku beli dengan menggunakan uang jajanku!" bentak Sabrina.


Kedua mata Artur membulat. Diiringi William yang terkesiap kaget. William membuang muka. Entah mengapa hatinya terasa sakit mendengar kata-kata pedas Sabrina. Sedangkan Artur, hanya mampu mengerjapkan kedua matanya. Sabrina menghapus air matanya dengan kasar.


"Nyatanya aku masih menghormatimu dan ayahmu. Tapi kau! Kau malah menghinaku dengan kata jal*ng! Apa kau tidak mengerti apa arti dari kata itu, ha?" Sabrina masih berbicara dengan keras.


Kali ini membuat Artur mati kutu. Ia tahu betul arti kata itu. Pikiran Artur mendadak rumit. Ia kini menjadi takut, jika keluarga Sabrina menarik saham yang diinvestasikan ke perusahaan William.


"Katakan padaku, Artur. Di usia yang sekarang ini, apa yang kau bisa? Jal*ng? Di usiaku yang sekarang, apa kau pernah melihatku dekat dengan seorang pria? Hei, jangan katakan kau tidak tahu. Kita selama ini satu sekolah dan sering bertengkar. Katakan padaku, Artur. Apa itu jal*ng? Apa aku termasuk di dalamnya? Jika kau memiliki otak, maka kau akan berfikir. Tetapi jika kau tidak memiliki otak, kau pasti akan mengalihkan pembicaraan," tegas Sabrina.


Hening melenggang. Ketiga orang itu terjebak dalam pikirannya masing-masing. Sedangkan Artur, termakan kata-katanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2