Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 59


__ADS_3

"Em..... Kenapa mas Kevin ke sini?" Tanya Ani yang akhirnya memilih membuka suara karna dua sejoli itu sama-sama membisu.


"Jemput Monica." Tegas. Begitulah kevin menjawab tanpa basa basi.


"Apa?" Tanya Monica.


"Aku mau jemput kamu. Aku yakin kamu pasti belum makan kan? Ayo mumpung aku masih senggang kita makan yuk?"


Begitu mendengar kata MAKAN Monica merubah raut wajahnya.


"Makan?" Monica memperjelas maksud kedatangan Kevin.


Aduh apa gue terlalu terburu buru ya? Dasar Kevin kenapa ****** dipiara coba. Gak dengerin omongan Ardan dan pak Herman. Kayaknya level bucin gue tambah parah deh.


"Iya... Kalau kamu gak mau makan berdua sama aku kamu bisa kok ngajak Ani. Kita bisa makan bareng." entah sedang grogi atau apa jantungnya benar-benar tak bisa dikontrol. Dia terus berpacu.


"Kalau mas Kevin mau ngajak aku makan aku gak punya uang. Jadi gak bisa maaf ya. Tapi kalau mas Kevin bilangnya mau traktir boleh deh makan bareng."


Gubrakkkkk.... lah aku pikir malah kamu tolak Mon Mon. Apaan sih kamu tuh? Kenapa jujur banget sih. Kayaknya kalau kalian jadian bakalan jadi pasangan tergila.

__ADS_1


Ya ampun gemesin banget sih....


"Aku traktir dong. Masa cowok ngajak cewek makan bayar sendiri-sendiri gak lucu kan?"


"Hehe untung tahu malu ya." Monica terkekeh.


Kamu Mon yang seharusnya tahu malu !! Ani memutar bola matanya kesal. Membiarkan kedua orang bodoh itu berbicara satu sama lain.


"Udah deh kayaknya aku gak bisa makan bareng kalian. Ngantuk banget. Udah ya bye."


Ani ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban monica dan Kevin. Membiarkan para bucin itu menyelesaikan masalah mereka sendiri.


"Eh jangan dong aku udah terlanjur izin loh sama Ardan. Masa iya gak jadi."


"Hemmmm ya udah deh. Jangan nyesel loh kalau duitnya habis." Monica memberikan peringatan kepada Kevin.


"Hahahaha emang kamu minta berlian? Kalau buat makan sih gak bakalan habis juga. Kayaknya nyukupin kamu dengan makanan aja udah cukup kali ya. Gak pernah minta aneh-aneh."


"Hahahaha bisa aja mas Kevin pakek nyukupin aku dengan makan emang gak bakalan butuh uang semua orang kan butuh uang."

__ADS_1


"Hehe kamu mau gak kalau aku cukupin ? Aku bakalan nurutin apa pun yang kamu minta dan butuhkan." kini mimik wajah Kevin berubah serius.


"Hehe ya maulah. Masa iya gak mau. Semua orang kan kepengen hidup cukup mas. Walaupun saat ini aku kekurangan tapi masih ada yang lebih membutuhkan kok."


"Monica .... Maksud aku. Kamu mau gak jadi milikku? Nanti aku bakalan cukupin semua kebutuhan kamu sama adik-adik kamu."


Monica terdiam ada raut tak biasa diwajah bosnya itu. Tanpa mereka sadari sedari tadi banyak yang melihat kearah mereka berdua. Bahkan saat Kevin menyatakan perasaannya semua masih menatap lekat. Terlebih Jessica yang sudah mengepalkan tangan. Seolah-seolah protes tentang kedekatan sang lelaki tampan bersama gadis yang biasa.


Monica berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun Kevin berlari berusaha mengejarnya. Namun tangannya segera ditepis oleh Monica.


Monica apa perasaanku ini benar-benar akan tak bertuan?


Kevin berjalan gontai. Menertawai usaha bodoh dan konyolnya hanya untuk mengejar cintanya.


*****


"Heh.... Tenang saja Dion akan aku pastikan mereka menjual perkebunan itu. Marzuki masih berada disini. Mungkin akhir pekan nanti dia akan pulang kedesanya. Kamu kembalilah kesana. Pak Herman urus sisanya. Pastikan mereka mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Yaitu hukuman." Seringai menakutkan diwajah Ardan. Sosok laki-laki yang jika dihadapan sang istri menjadi ciut nyali. Namun jika sang istri tak ada. Maka dia akan berubah menjadi sosok yang berbeda.


 

__ADS_1


__ADS_2