
"Honey, kau sudah bangun?" tanya William.
Mendengar penuturan dari William, semua orang menoleh ke arah ranjang pesakitan. Terlihat Sabrina telah membuka kedua matanya. Gadis itu mengulum senyuman.
"Bagaimana keadaanmu, Honey? Kau membutuhkan apa? Katakan sesuatu, Honey. Biar aku tahu, kau sedang membutuhkan apa," cecar William.
"Bantu aku untuk duduk," pinta Sabrina.
"Duduk? Apa boleh? Kau sedang terluka, Honey. Tetaplah berbaring, Honey. Aku akan memanggilkan dokter untukmu." William mengabaikan permintaan Sabrina. Hal itu membuat Sabrina memutar kedua bola matanya kesal.
William memencet tombol untuk memanggil dokter. Semua orang hanya mampu melihat sikap William yang posesif itu dengan senyum yang terbit di bibirnya. Tak lama kemudian, seorang dokter dan dua perawat muncul. Mereka memeriksa keadaan Sabrina dengan teliti.
__ADS_1
"Luka itu tidak dalam, Tuan. Jadi Anda jangan khawatir terlalu berlebihan. Nona Sabrina bahkan sekarang sudah sadar bukan?" tutur dokter itu.
Hal itu membuat William mencebikkan bibirnya. "Apa aku salah khawatir kepada istriku sendiri? Jangan-jangan Dokter jomlo ya. Makanya julid banget sama aku. Sudah, Dok. Terima kasih. Silahkan keluar ya. Pintu keluarnya di sana." William menunjuk ke arah pintu. Membuat semua orang yang ada di sana menahan tawa.
"Baiklah, Tuan William. Kami permisi!" Dokter itu segera berlalu. Diikuti dua perawat yang mengekor di belakang dokter tersebut dengan setia.
"Ayah! Itu nggak sopan! Bagaimana bisa Ayah berkata begitu kepada dokter yang telah berjasa memeriksa Mama?" ejek Artur. Ia cukup malu dengan kata-kata yang dilontarkan oleh William.
"Sabrina, apa yang kau rasakan sekarang, Nak?" tanya Elena. Ia mengusap lembut pucuk kepala Sabrina dengan penuh kasih sayang.
Sabrina mengulum senyuman hangat. "Aku sudah lebih baik, Ma. Bukankah aku sudah terbiasa terluka? Mama jangan khawatir lagi ya. Maafkan, Sabrina. Tadi Sabrina sedikit lengah."
__ADS_1
"Syukurlah, jika keadaanmu sekarang lebih baik. Tuh, suamimu. Bikin malu saja. Dia itu terlalu khawatir. Padahal jelas-jelas hanya ada satu luka tembakan. Sebelumnya saja mamamu dulu malah lebih parah. Dokter saja sampai diusir," ejek Rendy. Ia bahkan melirik ke arah William yang masih saja mencebikkan bibirnya.
"Honey! Sudah aku bilang, aku baik-baik saja. Ini luka kecil. Nanti ada Julia yang juga bisa meracik obat agar tidak menimbulkan bekas pada lukanya. Jangan pasang wajah begitu. Artur, terima kasih ya. Kau bisa melindungiku berulang kali. Aku tak menyangka, kau sekarang hebat dalam bela diri campuran. Aku benar-benar terkejut, Artur!" ucap Sabrina dengan antusias.
"Tentu saja. Paman Danar sudah menjadikan aku pria yang gentle man. Dengan begini, aku tidak takut lagi jika ada yang mencari masalah denganku. Pasti akan sangat gampang untuk membalas serangan balik. Kau juga hebat, Sabrina. Dalam keadaan seperti itu, kau terluka dan sekarang malah kondisimu masih sangat baik. Kau menakjubkan," puji Artur.
"Honey! Kau tidak memujiku juga?" celetuk William.
Mendengar pernyataan dari William membuat Sabrina tergelak lepas. Entah mengapa sikap William sekarang sangat berubah jauh dengan yang dulu. Pria itu kini menjadi hangat dan penuh kasih. Berbeda dengan yang dulu di mana William merupakan sosok yang dingin dan tak tersentuh. Sabrina menatap William dengan senyuman manisnya.
"Kau suamiku. Tentu saja kau yang terhebat, Honey," tukas Sabrina.
__ADS_1