
"Jika harus menjahitkan baju itu mungkin akan mahal biayanya. Sama saja kan?" Imbuh Monica.
"Ya sudah kita beli mesinnya saja." Kata Ani dengan entengnya.
"Ani ... Kamu gak denger apa yang aku omongin tadi?" Monica kembali menegakkan tubuhnya.
"Denger. Masalahnya kan cuma gak punya mesinnya kan? Ya kita beli sekarang yuk. Kamu kan mulai kerja jam lima sore."
"Hah.... Aku gak punya uang Ani."
"Aku punya kok. Pakai uangku dulu juga gak apa-apa."
"Aku gak bisa bayar Ani. Nanti kedepannya juga bakalan butuh biaya banyak bukan untuk praktek." Monica menggelengkan kepalanya perlahan menolak halus keinginan Ani meminjaminya uang terlebih dahulu.
"Kamu kan bisa bayar setelah lulus kuliah Mon. Setelah kamu sukses kamu kan bisa cicil hutangmu ke aku. Lagian kan aku tiap bulan dapat uang belanja. Kamu tahu kan aku gak pernah pakai uang buat belanja barang-barang mewah. Yah uangnya ketimbun di ATM jadinya. Itung-itung kamu bantuin aku habisin jatah bulanan aku deh. Soalnya mas Ardan pasti ngomel-ngomel kalau aku gak belanja apa-apa." Ani membujuk Monica untuk tetap menggunakan uangnya terlebih dulu. Ani sudah tak berfikir kalau Monica menganggapnya sebagai hutang atau apa. Lagian uang itu juga dari suaminya. Dia tak pernah memakainya untuk hal yang tidak perlu.
Kalau beli perhiasan dia sudah memilikinya saat menikah dengan Ardan dulu. Bahkan dia juga mendapat satu kotak perhiasan berlian dari ibu mertuanya. Mau beli baju? Tas? Sepatu? Bahkan dia memilikinya disetiap barang satu lemari penuh. Dan bahkan baju tidur juga satu lemari penuh. Jadi dia memiliki 4 lemari. Tak tanggung tanggung bahkan semuanya karya desainer terkenal. Dengan harga yang fantastis. Lalu apa lagi yang akan dia beli? Dia merasa semuanya sudah sangat berlebihan. Jadi uang bulanannya pun dia biarkan terus mengembang di ATM nya. Karna untuk orang desa seperti dirinya percuma membeli barang-barang yang tidak penting.
Monica terlihat menimbang-nimbang usulan Ani. Tugas prakteknya jauh lebih penting sekarang.
"Baiklah aku terima usulanmu beb. Terima kasih ya sudah mau membantuku. Nanti setelah aku udah mapan aku janji bakalan balikin uangmu." Monica memeluk tubuh Ani.
"Tentu. Sekarang kayaknya kita perlu langsung beli mesinnya deh. Daripada buang-buang waktu bukan?"
__ADS_1
"Ah benar juga. Ayo kita pergi sekarang Ani. Aku cari yang standart aja deh. Gak usah yang mahal-mahal. Apa bekas saja ya?"
"Hei.... !!! Kalau kau beli bekas gak usah saja aku pinjemin uangnya !!" Ani melotot kearah Monica.
"Hehe... Becanda becanda...." Kata Monica mengakhiri perdebatan kecilnya bersama Ani.
Kau anak yang pintar Monica sayang sama kemampuanmu yang gak bisa berkembang jika karna keterbatasan ekonomi. Toh uang dari mas Ardan juga banyak di ATM ku. Belum kupakek karna memang belum perlu. Sekarang waktunya sudah tepat untuk menggunakannya. Yah walaupun untuk membeli ini masih bakalan sisa banyak sih seenggaknya aku udah bantuin kamu.
Mereka memasuki toko serba ada. Disana ada banyak perlengkapan untuk menjahit dan juga bahan-bahannya. Memang berkualitas menengah kebawah seperti keinginan Monica. Namun setidaknya untuk bahan Ani berpikir untuk mendapatkan dengan kualitas terbaik. Begitulah pikiran berdebat. Saat disampaikan ke Monica keinginannya. Pertama Monica menolak setelah berdebat sekali lagi dimenangkan oleh si beruang alias Ani. Monica tak enak hati jika terus-terusan memakai uang sahabatnya itu namun mau bagaimana lagi. Toh dia juga tak punya uang untuk membeli kebutuhannya sendiri.
Barang mereka akan diantar oleh si empunya toko. Karna mereka membeli banyak barang disana. Setelah dirasa selesai Ani mengantarkan Monica ke cafe milik Kevin.
"Sampai ketemu besok ya beb !! Makasih banget hari ini." Senyum Monica tersungging dibibir kecilnya. Menampakkan gigi-giginya yang putih bersih.
"Oke hati-hati !!" Monica melambaikan tangannya. Mobil Ani sudah melenggang jauh menyusuri jalanan ibu kota yang mulai gelap.
"Dari mana saja nona muda Wijaya. Hem...?" Ardan sudah duduk di sofa ruang tamu dengan kaki terangkat satu keatas pahanya.
Aduuhhh kenapa aku bisa lupa menghubungi sang macan hari ini. Lihatlah sekarang dia ... Cih kenapa aku bisa lupa ya.... Seperti masih gadis saja kesana kesini bebas.
"Emmmm... Itu mas maaf aku lupa menghubungi mas ardan aku tadi pergi beli peralatan dan mesin jahit buat tugas praktek. Aku pergi sama Monica kok dan emmm... Monica juga beli peralatan dan mesin jahit juga. Tapi.... Pakai uangku dulu mas.... Maaf ya mas Ardan tolong jangan marah ya."
"Hah...." Ardan membuang nafas berat sesuai yang dikatakan oleh pengawalnya. Istrinya memang membeli semua itu untuk tugas prakteknya sebenarnya tak masalah jika Ani juga membelikan Monica hal yang sama. Dia hanya mengetes kejujuran istrinya sekaligus kesal. Karna dia saja yang suaminya sampai-sampai dilupakan. Dan malah asyik berbelanja. Tapi kemudian dia mengukir sebuah senyum.
__ADS_1
Ke.... Kenapa lagi mas Ardan? Kenapa perasaanku gak enak ya.... Glekkk
"Sepertinya kamu harus dihukum !!!"
"Ap... Apa?"
"Kenapa? Mau membantah? Tahu tidak kesalahanmu apa? Hem?" Ardan menatap istrinya tajam. Seakan berkata akan kumakan kamu.
"Em... I...iii...iya mas. Aku salah gak minta izin dulu sama mas." Ani menundukkan kepalanya.
"Hemmm... Ayo mandilah terlebih dahulu. Aku akan menyiapkan baju tidurmu." Ardan menarik tangan istrinya.
Aaaahhhh benar kan !!! Aku tahu hukuman macam apa ini !! Hukuman yang bikin kamu senang kan ?!!! Aaahh aku capek...
Tak ada jawaban dari bibirnya yang hampir saja dia lontarkan untuk Ardan bagaimanapun dia tahu kesalahannya. Tapi memangnya harus dihukum seperti itu ?! Haaahhhh Ani menghela nafas panjang.
Mentari pagi menyembul malu-malu dari bilik peraduannya. Sinarnya sedikit merasuk ke dalam kamar melalui sela-sela jendela. Ani mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia terlelap tengah malam. Meraba sosok disampingnya telah raib. Menandakan suaminya telah berangkat duluan. Dia benar-benar malas untuk bangun hari ini. Rasanya seluruh tubuhnya remuk.
Dasar mas Ardan ngasih hukuman yang begituan... Ckckck males banget musti ngampus. Mana banyak banget lagi yang mesti dicek hari ini buat praktek nanti. Tinggal hari ini sih ngampusnya... Apa ijin satu hari saja ya.... Enggak deh kayaknya Monic bakalan ngamuk banget.
Ani mencoba untuk bangun. Dengan malas dia menarik selimutnya yang menutupi tubuh polosnya ke kamar mandi. Semua sendi tubuhnya benar-benar seperti mau patah. Ardan benar-benar memakan habis tubuhnya tadi malam.
__ADS_1