
Ani terdiam dia tahu saat ini memang dia sudah sah menjadi istri Ardan atau lebih tepatnya menantu keluarga Wijaya. Tentu saja semua orang tahu. Bahwa setiap pernikahan akan menanti hadirnya malaikat kecil di kehidupan rumah tangga. Namun bagi Ani yang belum menyiapkan hati untuk sebuah pernikahan tentu saja dia masih ragu. Bukan karna dia tak ingin memberikan keturunan untuk suaminya. Namun dia takut jika dia akan mengalami hal yang sama seperti pernikahan yang sebelumnya. Dimana Johan meninggalkannya saat Rendy masih berusia satu setengah tahun.
Bukan hanya meninggalkan dirinya dan anaknya bahkan meninggalkan luka yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. Akan tetapi melihat dari kesungguhan Ardan dan keluarganya dia mungkin masih bisa mempertimbangkannya.
"Apa aku boleh mempertimbangkannya? Karna pertama aku harus membicarakan hal ini dengan mas Ardan Pi." Ucap Ani meragu. Namun dia tidak menolak keinginan dua orang sepuh dihadapannya itu.
"Tentu saja nak. Tapi mami dan papi sangat berharap Lo." Kata greetha sembari tersenyum dia tahu tubuh menantunya itu kini kaku. Mungkin dia kaget karna tiba-tiba mereka berdua membahas masalah yang termasuk intim itu. Sebenarnya mereka bisa saja bersabar namun mengingat usia Ardan dan juga usia mereka berdua tentu keinginan segera hadirnya malaikat kecil menjadi misi penting mereka.
"Terima kasih mami dan papi mau mendengarkan. Aku takut jika apa yang aku katakan melukai hati papi dan mami. Sebenarnya aku juga memikirkan hal itu mi tapi Ani rasa kami berdua belum terburu-buru mengenai hal itu. Lagipula kami masih ingin menikmati momen untuk saling mendekatkan diri satu sama lain. Maaf mi bukan maksudku untuk ....."
"Sudah jalani saja. Papi pikir kamu belum siap." Papi menghela nafasnya lega karna menantunya itu ternyata sudah menerima anak lelakinya. Dia sangat khawatir jika perjalanan cinta mereka belum juga terkuak namun ternyata dirinya salah. Hubungan mereka berangsur membaik. Dua bulan sudah mereka menjalani kehidupan sebagai pasangan suami dan istri. Dia tersenyum setidaknya dia akan tenang jika meninggalkan anaknya bersama orang yang dicintainya.
"Aku dan mas Ardan hanya butuh waktu Pi. Lagian hubungan kami sudah berangsur membaik. Jadi papi gak perlu pusing-pusing nyuruh aku untuk segera hamil. Kalau sama yang diatas sudah dikasih ya Alhamdulillah kalau belum ya ditunggu dan bersabar mungkin Allah belum ngasih rejeki." Kata Ani menjelaskan agar mertuanya itu memahami alur kisah percintaannya dengan Ardan yang dijodohkan.
"Iya sayang." Greeta mengusap kepala menantunya itu dengan lembut. Dirinya sudah salah sangka terhadap menantunya. Dia berpikir jika menantunya itu tak akan mau hamil. Namun dia salah hubungan mereka sudah lebik baik dari sebelumnya. Bahkan menantunya itu juga mengatakannya dengan tenang. Tak ada tatapan mata yang penuh dengan kebencian seperti dulu lagi. Kemudian imbuhnya. "Ayo kita makan malam bersama. Nunggu Ardan pasti pulangnya malam."
"Iya mi." Kemudian mereka berjalan kearah meja makan disana sudah tersedia berbagai masakan. Ada bakso. Udang lobster bumbu Padang. Ayam goreng. Cumi oseng pedas manis. Kemudian nasi kuning dan nasi putih.
__ADS_1
"Wah mi kok ada bakso?" Tanya Ani. Tentu saja dia heran. *Itu tak mungkin mami yang masak bukan *?
"Iya mami yang bikin loh. Kata Ardan kamu suka banget sama bakso jadi mami punya pikiran buat bikin bakso sendiri. Lagian beli diluar juga belum tentu sehat dan higienis. Kalau papimu paling suka udang lobster bumbu Padang." Terang mami panjang lebar.
Hah? mami bikin sendiri hanya untuk seorang menantu sepertiku? Pasti repot banget.
Ani cukup terharu pasalnya ternyata mami bahkan sampai rela membuat bakso untuknya. Padahal dia bahkan tak tahu apa yang disukai oleh mertuanya itu.
"Ya ampun mi. Kenapa mami pakek acara repot-repot bikin bakso buat aku? Kalau beli kan lebih praktis." Sahut Ani. Dia merasa tak enak hati karna sang mami malah repot-repot memasak untuknya.
"Sekali-sekali sayang. Lagian mami juga gak ada kesibukan kok." Ujar greetha.
"Apaan sih papi? Enggaklah cuma mami tinggal masak doang papi ributnya minta ampun. Kan mami juga pengen nyoba resep bakso."
"Tapi papi kan masih main catur mi. Kenapa gak nunggu selesai permainannya."
"Aduh Pi. Lagian kan mami juga masak udang lobster bumbu Padang kesukaan papi. Kalau mami nunggu papi selesai main caturnya gak bakalan jadi ini semua." Greeta menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar sebal dengan tingkah suaminya itu.
__ADS_1
Ani gemas gemas greget mendengar pasangan yang sudah sepuh itu berdebat. Dia terkekeh mendengar rengekan sang papi mertua.
"Huh...." Papi mengerucutkan bibirnya. Masih ngambek karna pas seru-serunya bermain catur malah dengan seenak udelnya sang istri berlenggok kedapur. Setelah mendengar telpon dari Ardan bahwa sang menantu akan mampir kerumah utama.
"Ayo Pi kita makan. Jangan cemberut gitu dong nanti gagahnya ilang lo". Kata Ani berusaha mencairkan suasana.
"Oh benarkah? Walaupun papi sudah umur segini papi masih kelihatan gagah ?" Kata papi sembari membusungkan dadanya. Ani dan mami pun tertawa tertahan mendengar papi bersemangat. Kemudian dengan lantangnya dia berbicara. "Sayang ayo ambilkan aku makan." Mengulurkan piringnya kearah istrinya.
"Iya iya..... Ayo nak kamu makan juga. Tuh bakso kamu. Makan bakso kamu dulu sehabis itu baru makan nasi."
"Iya mi. Oh iya Ani punya temen mi dia doyan banget makan. Pasti kalau aku ajak kemari dia pasti langsung ambil sebakul. Pasti tamat semua makanan disini." Ani kemudian menyendokkan kuah bakso kemulutnya.
"Oh ya? Tapi kenapa tadi gak kamu ajak sekalian kemari? Kan enak kita bisa makan bareng."
"Dia gak mau mi. Katanya malu. Padahal kan aku bakal seneng kalau dia ikut kemari."
"Iya mami juga seneng kalau ada yang suka sama masakan mami. Mami suka banget mencoba resep-resep baru gitu. Ya karna dirumah mami juga bosen terus nak." Mami pun selesai mengambilkan lauk untuk suaminya.
__ADS_1
"Ya udah kapan-kapan kamu ajak saja dia kemari. Mungkin mami bakal bahagia ada yang mau mencoba resep-resep aneh mamimu. Biar gak ganggu papi terus."
"Papi!!! Itu resep baru tau bukan aneh!!! " Greetha meninggikan suaranya.