
Bugh!
Jonathan mendaratkan pukulan tepat di pipi Rendy. Hingga sudut bibirnya terlihat darah akibat pukulan itu. Rendy tak membalas pukulan dari Jonathan. Sedangkan Monica dan Kevin saling menguatkan satu sama lainnya. Ardan dan Mariani juga hanya mampu membisu. Tak mampu berkata apa-apa lagi. Karena ini semua sudah diluar batas mereka. Terlebih, Ardan dan Mariani tau jalan hidup yang dipilih Elena hanya untuk membalaskan dendamnya kepada Steven. Bukankah Ardan adalah pemilik asli geng mafia Dark Knight? Tentu saja dia lebih bisa menggoyangkan kepemimpinan Rendy. Namun Ardan cukup dibuat kaget. Dark Knight berkembang lebih pesat dari sebelumnya. Kepemimpinan Rendy memang tak diragukan lagi. Berkat didikannya yang ambisius menjadikan Rendy juga ambisius seperti dirinya. Lelaki itu menghela nafas dalam-dalam. Ia tau seberapa besar anak sambungnya itu mencintai Elena.
"Kau sahabatku! Tapi kau mengingkari jnjimu, Rendy. Kau berjanji akan menjaga adikku. Lihatlah, lihtlah dia kini terbaring di ranjang pesakitan! Dokter mengatakan, dia tidak akan bisa hidup normal lagi! Lukanya mungkin sembuh, tapi tidak dengan paru-parunya! Dia tidak akan bisa hidup normal lagi. Dia ... Adikku yang hilang belasan tahun lalu. Dan kau seenaknya membiarkan dia terluka? Aku tidak akan membiarkan kamu menjalin hubungan lagi dengannya! Tidak akan pernah! Lihat, ini sudah 2 minggu Elena terbaring disana. Apa yang harus kami lakukan? Dia bahkan belum sempat mengetahui siapa orangtua kandungnya!" teriak Jonathan dengan lantangnya. Air mata lelaki itu mengalir dengan begitu deras tanpa bisa dibendung lagi.
"Jika kau belum puas pukul aku sekali lagi, Jonathan. Aku telah lalai," kata Rendy sembari berlutut di kaki Jonathan.
"Kau memang brengs*k!" Saat Jonathan mengangkat tangannya hendak menampar Rendy, sebuah suara mengagetkan mereka.
"Kenapa kau berlutut Rendy?" suara lemah itu berhasil membuat mereka semua menoleh kearah ranjang pesakitan milik Elena. Seketika Monica berlari memeluk Elena. Membuat Elena mendorong tubuh wanita paruh baya itu. "Rendy," panggilnya lirih.
Saat Rendy hendak mendekati Elena, Jonathan menahannya. Kedua netra mata itu menatap nyalang pada Rendy. Sehingga membuat Rendy kembali menundukkan kepalanya. Jonathan segera menghambur mendekati Elena. Kedua tangan Jonathan terulur hendak memeluk Elena, Gadis itu terlebih dahulu menepisnya dengan kasar.
"Kenapa kamu bengong?" tanya Elena dengan kedua sudut mata yang basah. "Kau tak mencintaiku lagi?"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu dengan cepat Rendy segera menghambur memeluk wanitanya. Mereka yang berada di sana tak ingin mengganggu Rendy yang tengah menenangkan Elena.
"Apa yang kau katakan? Aku selalu mencintaimu," ucap Rendy sembari mencium pucuk kepala Elena.
"Huhu kau tidak percaya padaku. Kau tidak mencintaiku lagi." Elena merajuk. Gadis itu mencengkeram erat tubuh Rendy agar tak menjauh darinya sedikitpun. "Aku harap kau mengerti mengapa aku meninggalkanmu. Dimana Lady? Rendy, dimana Lady!" Elena kembali histeris. Gadis itu melepaskan pelukannya. Namun kembali Rendy membenamkan wajah Elena kedalam dekapannya. Sedangkan Jonathan yang sudah tak sabar hendak memisahkan mereka. Kevin yang melihatnya segera menggelengkan kepalanya.
"Biar Rendy yang menjelaskan pelan-pelan," bisik Kevin kepada Jonathan dan Monica. Meskipun hati Monica hancur, wanita itu pada akhirnya menundukkan kepalanya.
"Danar, panggil Kei."
"Lady!" Elena berseru dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Queen." Kei mendekati ranjang pesakitan Elena. Mendudukkan Lady di kursi kosong di dekat ranjang pesakitan itu. "Kupikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi, Queen."
"Sudah kubilang, nyawaku ada 9 bukan? Meskipun ditendang sana sini juga masih hidup. Bagaimana lukamu? Kau pasti sangat kesakitan karena ulah mami bukan?" tanya Elena.
__ADS_1
"Mami?" tanya Monica maju mendekati Elena. Wanita paruh baya itu hatinya seakan dihujam belati saat mengetahui jika Elena memanggil wanita lain dengan sebutan mami.
"Mami sudah tewas, Danar sudah mengeksekusinya Sayang. Kau bebas! Kau bebas pergi tanpa bayang-bayang masa lalumu lagi. Kedatanganku waktu itu untuk melenyapkan The Queen untuk selamanya. Kau tau kan bagaimana cara Danar mengeksekusinya?" tanya Rendy dengan mengusap kepala Elena.
"Apa kau ingin memberiku sesuatu?" tanya Elena dengan wajah yang mulai mengembangkan senyumnya.
"Aku sudah mengambil organnya. Kau mau apa? Jantung? Hati? Ginjal? Atau mata?" tanya Rendy mendudukkn bokongnya di ranjang milik Elena. Mencoba untuk mendekati Elena yang sudah terlepas dari bayang-bayang masa lalu.
"Aku tentu saja mau semuanya. Kau tau bukan harga organ-organ vital itu sangat tinggi? Aku pasti bisa hidup dengan hasil penjualan organ mami itu. Bukankah dia yang sudah menghukum Lady dengan seburuk itu? Membuat punggungnya terluka dan pasti akan membekas bukan? Itu adalah aib nantinya untuk seorang gadis. Hahahaha lihatlah Lady! Aku sudah bilang bukan kita pasti akan terlepas! Dimana itu?" tanya Elena. Semua orang yang berada di sana kembali dikejutkan oleh barang yang ada di depan kedua mata mereka. Sebuah kotak dengan pita hitam yang terlihat elegan. Namun saat dibuka membuat mereka semua hendak ingin muntah. Elena masih mengabaikan kedatangan mereka semua karena bagi dirinya kematian mami adalah hal yang sudah lama ingin ia lakukan.
"Semua ini sudah membuktikan jika aku dan The Queen sudah berakhir. Tidak akan ada misi, tidak akan ada nyawa yang harus kuambil dari tangan ini lagi."
Ucapan Elena membuat mereka semua tersentak kaget. Tetapi tidak dengan Ardan dan Mariani. Mereka sudah mengetahui itu sebelum mereka menginjakkan kakinya di London.
"Rendy, apa maksudnya ini?" tanya Jonathan yang semakin tak mengerti. Terlebih, apa yang mendasari Rendy melakukan hal itu.
__ADS_1