
Bagi yang belum menang, sabar ya. Nanti author adakan lagi. Bagi-bagi hadiah. Bukan hanya buku, tapi bisa yang lainnya. Yuhu. Terus baca ya.
"Kamu mau kemana?" tanya William. Pria itu berbicara dengan santainya.
"Em, a-aku mau taruh ini di atas nakas," ucap Sabrina sambil membalik badan.
William menarik sudut bibirnya. Sabrina terlalu polos. Nyatanya pikiran buruk, yang dulu mengganggu William hanyalah semu. Sabrina masih remaja yang polos dan ceria. Terlalu suka blak-blakan. Seperti saat pertama kali gadis itu menyatakan cinta.
"Ah, kau memang rumit untukku. Padahal kau yang lebih dulu menyatakan cinta padaku. Sabrina, kau benar-benar menggemaskan." William membatin sembari memakai pakaian.
"Siapa sebenarnya Lexi?" tanya William.
"Oh, teman satu kelas. Dia mahasiswa baru." Sabrina duduk di tepian ranjang. Lanjutnya, "Aku juga sama sekali tidak mengenal. Hanya pernah berselisih paham."
"Apa dia tahu identitasmu sebagai putri keluarga Wijaya?" William kini telah selesai berganti pakaian. Wangi maskulin menguar menusuk hidung Sabrina. Pria itu mendudukan bokongnya di samping Sabrina.
"Entah. Tapi, dia pernah berusaha membobol dataku. Apa dia termasuk orang yang perlu dicurigai perihal teror itu?" Sabrina mendadak curiga.
__ADS_1
Lanjut Sabrina, "Aku tidak tahu. Yang jelas, dia masuk list daftar orang yang kucurigai. Tapi, Lexi berasal dari keluarga konglomerat. Aku tidak yakin, mereka melakukan hal yang sekeji itu. Teror di perusahaanmu. Bukanlah sesuatu yang wajar."
William mendadak tidak suka akan pembelaan yang dilakukan oleh Sabrina. "Kau berusaha melindungi Lexi?"
Sabrina menatap William dengan raut wajah yang bingung. "Melindungi apa? Sama sekali tidak. Kenapa Uncle berfikir begitu? Sudah aku bilang, aku dan Lexi bermusuhan."
Tanpa sengaja kedua mata Sabrina menemukan luka lebam di wajah William. Segera saja wajah Sabrina mendadak pucat. Diraihnya wajah William tanpa sungkan. Mengamatinya lekat-lekat untuk memastikan luka lebam tersebut.
"Uncle masih berlatih dengan Paman Danar?" tanya Sabrina penuh penekanan.
William terpana menatap wajah Sabrina dari dekat. Wajah mulus tanpa cela. Ditambah bibir ranum berwarna merah muda yang terlihat menggairahkan. Kecantikan Sabrina terpahat alami. Sungguh memanjakan kedua mata William.
"Ouh, sakit. Kenapa kau memukulku?" rengek William.
"Ish! Tadi aku panggil, Uncle nggak nyahut. Uncle mukanya bonyok begini, masih ikut berlatih?" tanya Sabrina.
Wajah keduanya kini berjarak dekat. Bahkan deru napas keduanya begitu terasa. Entah Sabrina sadar atau tidak. Yang jelas, keduanya benar-benar mengikis jarak.
__ADS_1
"Bukankah aku harus memantaskan diriku bersanding denganmu? Aku tidak ingin, menjadi orang yang tidak berguna untukmu," bisik William.
Deg.
Jantung Sabrina berdetak lebih kencang. Kata-kata William membuat kedua pipinya merona seketika. Rasa hangat kini menelusup masuk ke dalam hatinya. Sabrina segera memalingkan wajah. Tak ingin terlalu lama menatap sang suami. William menarik kembali dagu Sabrina. Lalu menatap dalam iris biru itu penuh kehangatan.
"Sekarang, aku yang akan berjuang memastaskan diri. Kau benar-benar berbeda jauh dari pandanganku, Sabrina."
William mendekatkan wajahnya ke arah Sabrina. Perlahan, tapi pasti. Bibir keduanya menyatu dengan lembut. Terasa sekali Sabrina sempat terjingkat kaget. Ketika gadis polos dalam hal percintaan itu mendapatkan serangan ciuman pertama.
Sepanjang malam iring-iringan ledakan terdengar memekakkan telinga. Puluhan drone yang diterbangkan membawa satu granat mini. Seketika mansion megah nan mewah itu porak poranda. Disusul dengan bara api yang berkobar menerangi sekitar. Belum lagi, potongan-potongan tubuh terkapar begitu saja akibat ledakan. Jangan lupakan teriakan memilukan nan histeris dari segala penjuru arah.
Sepasang suami istri saling merangkul di kejauhan. Menatap hasil karya yang begitu sempurna. Senyuman puas tak luput dari keduanya.
"Tidak perlu repot-repot bertempur. Bukankah, begini saja mereka sudah mendapati neraka sendiri?" Rendy menerbangkan satu drone lagi.
Setelah berada di lokasi pilihan Rendy, Elena memencet tombol bertuliskan ON di sebuah remot kecil. Hingga tak berapa lama timbullah sebuah ledakan besar. Elena menatap puas ke arah lautan darah dan api.
__ADS_1
"Menyenangkan. Tidak perlu bersusah payah. Beraninya mereka mengusik kehidupan putriku! Ingin membalas dendam? Jangan bermimpi!" Elena tersenyum sinis.