Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 186


__ADS_3

Kini keduanya telah menginjakkan kakinya di salah satu pasar Tradisional di pulau Dewata Bali yaitu Pasar Ubud. Rasanya belum terasa berlibur di Pulau Bali jika belum menginjakkan kakinya di pasar tradisional ini.


Kedua mata Agnes melebar begitu melihat bagaimana riuhnya pasar Ubud itu. Benar-benar bisa kalap nantinya. Agnes memang sangat menyukai belanja. Ingat bahwa Agnes adalah pewaris keluarga Anggara. Salah satu keluarga konglomerat dikota J. Tiba-tiba Agnes berbalik menghadap Dion. Dion yang menyadari sikap istrinya segera melepas kacamata hitamnya.


"Hei! Ingat ya kau sekarang suamiku. Jadi kau yang akan membayarnya nanti," jari telunjuk wanita itu bahkan menunjuk wajah Dion. Membuat Dion gemas akan kelakuannya yang absurd itu. Dion menahan tawanya, dilihatnya sang istri sangat antusias dengan berbagai barang yang terhampar didepan matanya. Dipakainya kembali kacamata hitam miliknya. Kemudian mengekor dibelakang Agnes. Mengikuti setiap gerakan dan jejak langkah kaki sang istri.

__ADS_1


Disisi lain sepasang mata yang menatap keduanya dari kejauhan. Siratan mata itu seolah mengisyaratkan sebuah perasaan cemburu. Terlihat sebuah kepalan ditangannya. Seakan pandangan didepannya itu membakar emosi jiwanya. Matanya menatap lekat kearah seorang wanita.


Hari ini aku akan menghabiskan uangmu. Enak saja kau tadi malam memintanya lagi. Sekarang giliranmu yang aku habisi. Kata Agnes dalam hati. Seulas senyuman tipis menghiasi bibirnya. Dia akan membalas semua rasa kesalnya dengan aktivitas belanja besar-besaran. Toh sekarang ada ATM berjalan yang akan senantiasa mengalirkan dana cuma-cuma untuknya. Siapa lagi jika bukan suaminya, Dion Leonardo.


Berbagai barang yang unik sebagai pusat oleh-oleh destinasi pulau Bali benar-benar menggelitik mata. Agnes masih setia memilih barang-barang yang akan dia berikan untuk semua orang yang ada dirumah. Begitupun sahabat-sahabat barunya. Rasanya sekarang dia lebih bahagia dari sebelumnya. Dia selalu saja sendiri. Sikap kasar dan cenderung blak-blakan terkadang membuat teman sesama perempuannya sedikit ilfil. Apalagi Agnes tidak pernah berkencan sekalipun dengan seorang pria dalam hidupnya. Membuatnya semakin dikucilkan sewaktu dikampus. Menurut teman-teman perempuannya dulu, berkencan dengan pria adalah sesuatu hal yang wajib. Agnes bahkan pernah dijauhi oleh semua teman anak gadis dalam satu kelas. Hanya karena Agnes menolak cinta dari seorang laki-laki yang populer dikampusnya.

__ADS_1


Satu persatu baju-baju pilihannya dia lemparkan begitu saja kearah suaminya. Sepertinya Agnes benar-benar kalap. Entah sudah berapa potong baju yang sudah dia pilih. Hingga membuat sebuah suara geraman yang dia sinyalir berasal dari tempat suaminya. Dengan segera dia berbalik. Kedua mata wanita itu melebar dengan sempurna. Pantas saja dia seperti mendengar suara auman seekor harimau. Ternyata itu adalah suara geraman dari suaminya. Secepat kilat menyambar beberapa potong baju yang menutupi wajah suaminya dan dia letakkan dikursi yang telah disediakan untuk pembeli yang lelah. Seketika tubuhnya merinding. Seluruh bulu romanya seakan berdiri semua.


"Kau yang benar saja!" teriak Dion kesal. Laki-laki itu bersungut-sungut kesal lantaran semua baju pilihan istrinya dilemparkan begitu saja kepadanya.


"Maafkan aku," menangkupkan kedua tangannya untuk memohon kepada Dion. Laki-laki itu bahkan saat ini masih membawa sebagian baju yang dipilih istrinya.

__ADS_1


"Kau mau membuatku mati sesak kehabisan nafas?! Kau melempar semua baju-baju itu dengan seenakmu. Bahkan kau melemparkan baju-baju itu juga kewajahku!" penampilan maskulin kini tak lagi menghiasi wajah laki-laki itu. Bahkan kacamata hitamnya pun hanya mencantol di satu bagian sisi kanan telinganya. Sedangkan di sisi telinga kirinya sudah terlepas. Jangan lupakan rambut yang sudah berantakan. Kini wajahnya tak ada bedanya lagi dengan saat dirinya baru bangun tidur.


__ADS_2