Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 72


__ADS_3

"Mama gak apa-apa nak. Ayo bersihkan dirimu. Lalu tidur sama mama." Diusapnya pucuk kepala anaknya. Ditariknya senyum hangat untuk putrinya itu.


"Ya udah kalau gitu intan mandi dulu ya ma." Dipeluknya tubuh mamanya. Menghirup dalam dalam aroma tubuh mamanya. Sosok hangat yang slalu berdiri dibelakangnya.


"Mama mau panggil bibi dulu buat beresin ini."


Intan mengangguk lalu sejurus kemudian beranjak dari tempatnya. Lili memanggil bibi pelayan di rumahnya. Untuk membersihkan kamar intan yang sudah seperti kapal pecah itu.


------


"Apa? Apa maksud papa sama Mama?"


"Kamu sudah dewasa. Kemarin kamu berulah. Papa sudah ambil keputusan." Ucap Leonardo. Biasanya dipanggil Leon. Papa Dion.


"Pa. ... Dion udah dewasa. Kenapa papa tiba-tiba bahas ini sih?!"


"Tuhkan. Kamu sadar diri kalau kamu sudah dewasa. Sana temui calon mantu mama." Seloroh mama Melinda.


"Perjodohan konyol!!! Enggak. Kenapa Dion harus nurut sama papa dan mama?"


"Hah ini sudah menjadi janji papa sama pak Sebastian kamu harus nurut Dion. Jangan bikin malu papa."


"Ini gila !!!" Dion mengusap wajah kasar. Kelemahannya adalah orang tuanya. Senakal-nakalnya dia. Dia masih memiliki hati untuk menjaga perasaan kedua orang tuanya.


Leonardo tahu apa yang terjadi kemarin malam. Dan itu sudah cukup untuknya memberikan pelajaran untuk anak semata wayangnya.


Kring kring..... Dering benda pipih milik Leon.


"Halo?" Suara diujung telpon membuka pembicaraan.


"Iya halo. Ada apa bas? Pagi-pagi nelfon. Bukannya acaranya nanti malam ya? Makan malam untuk mempertemukan Dion dan anakmu?" Tanya Leon.

__ADS_1


Tubuh Dion membeku. Sudah sejauh itu. Baru saja dia kemarin meledek Ardan. Dia benar-benar kena karmanya.


Sial sial sial.


"Anakku kabur Yon. Maaf aku juga gak tahu bakal kayak gini. Kayaknya acara makan malamnya kita tunda dulu ya."


"Hah yang benar saja kamu?" Leon bangkit dari duduknya.


Dion mengernyitkan dahinya. Mencoba mencari tahu apa yang papanya bicarakan.


"Iya tapi aku sudah blokir semua kartunya. Jadi dia bakalan secepatnya pulang kerumah mungkin."


"Kamu tahu dimana anakmu? Kenapa kamu tenang saja? Bas inget loh dia anak perempuan."


"Aku tahu. Tapi dia bisa jaga diri. Aku yakin itu. Dia memang keras kepala. Aku sudah memberikan foto Dion ke dia. Gak tahu paginya dia malah ilang gini. Aku malu sama kamu Yon."


"Kamu ngomong apa sih bas. Apa butuh bantuanku?" Leon berjalan menuju ruang kerjanya. Meninggalkan dua makhluk yang sedang bingung mencari jawabannya.


"Enggak. Ini masalahku. Aku salah didik dia jadi kayak gini. Tapi tenang saja dalam beberapa hari kedepan nanti aku bakalan nemuin dia kok."


"Hahahaha gak masalah menurutku. Mungkin anakmu ingin mandiri."


Benar juga Dion mengawali club' itu dengan tabungannya sendiri. Aku bahkan gak memberikan modal sepersen pun. Terus kalau dia ngurus club' gimana perusahaanku?


Ancur dong.


"Hahahaa mungkin aja. Tapi kita tetep terusin perjodohan ini kan?" Tanya Leon.


"Tentu saja. Anakku masih kuliah juga. Dia butuh banyak uang. Cepat atau lambat dia bakalan balik kerumah lagi kok. Maaf ya. Ya sudah aku tutup dulu telfonnya. Feona benar-benar nangis inget anaknya. Hah kepalaku pusing."


"Iya gak apa-apa masih banyak waktu kok. Yang penting perjodohan ini tetap berlangsung. Aku gak mau Dion jadi perjaka tua."

__ADS_1


"Hahaaha baiklah baiklah."


Sebastian memutuskan telfonnya.


"Hah ada aja masalah. Punya anak laki satu ribet. Udah ada perusahaanku malah sibuk ngurus club' udah gitu umurnya juga udah 28 tahun. Kapan kamu bikin papa tenang Dion !!!" Leon memijit-mijit pelipisnya. Kepalanya pusing. Anaknya terlalu liar. Sudah cukup itu baginya. Dia teringat istri dan anaknya yang menunggunya diruang keluarga.


Membuang nafas dalam-dalam kemudian beranjak ke ruang keluarga dimana anak dan istrinya berada.


"Lah... Kemana mereka. Apa Dion sudah pulang. Dasar anak bengek." Menggerutu kesal. Kemudian dibawanya kaki melangkah menuju ruang makan. Perutnya terasa lapar. Emosi membuat tenaganya terkuras.


"Kok lama pah?" Tanya Melinda menunggunya dengan duduk cantik di meja makan. Disampingnya ada anak laki-lakinya. Lemas. Begitu mendengar keputusan kedua orang tuanya. Menatap malas kearahnya. Kemudian memutar bola matanya. Anak bengek. Menurutnya.


"Hah anak Sebastian kabur." Leon membuang nafas kasar.


Seketika dua wajah itu terkejut. Menoleh secepat kilat untuk mendengar apa yang terjadi.


"Kenapa pa?" Tanya Dion. Tapi di dalam hatinya dia benar-benar bersyukur akan hal itu. Itu berarti calon gadisnya juga menolak perjodohan konyol ini.


"Apa? Kamu senang?" Sewot Leon.


"Apaan sih pa. Aku kan kaget aja. Syok gitu. Baru aja tadi pagi papa bilang mau jodohin Dion eh sekarang bilang calonnya kabur. Gimana gak syookkk akutu."


"Kabur kemana pa?" Baiklah pertanyaan terkonyol dilontarkan Melinda. Kalau tahu dimana gadis itu tentu saja bukan kabur namanya.


"Gak tahu ma. Bastian juga gak tahu. Tapi katanya gak perlu khawatir. Anaknya masih kuliah kok jadi bakalan secepatnya ketemu. Atau kalau dia kehabisan uang mungkin aja dia akan pulang."


Untung aja. Gak harus gue yang bertindak.


"Oh ya pa siapa namanya anaknya om Bastian?"tanya Dion. Oke pertanyaan terpenting bagi Dion. Dia harus tahu nama gadis calonnya itu.


Namun bagai tersambar petir si Leon.

__ADS_1


"Papa gak tahu namanya."


Brakkkkkkk


__ADS_2