
"Rendy ..." panggil dengan lirih Monica. Rendy kemudian menatap wajah gelisah dari Monica dan Kevin. Begitu pula dengan ayah dan bundanya.
"Ada apa?" tanya Rendy dengan dingin.
"Mana Elena? A-aku ingin tau bagaimana dia? Aku berharap itu adalah Elenaku," ucap Monica tak sabar.
"Aunty ... Belum tentu dia adalah Elena yang kita cari. Ibarat kata 1:1000 nama Elena ada begitu banyak di negeri ini. Bahkan juga negeri yang lain. Sementara kalian bersabarlah dulu," tutur Rendy dengan tenang.
"Bagaimana aku bisa bersabar? Anakku hilang selama belasan tahun. Hari ini aku mendengar gadis bernama Elena ada di sini. Tentu saja aku sangat berharap dia adalah anakku. Sekarang, bagaimana jika kita lakukan tes DNA? Bi-bisakan kita melakukannya? Cepat Rendy suruh dia turun sekarang." Monica terlihat begitu kacau.
"Aunty ... Kita bisa saja melakukan tes DNA itu tanpa sepengetahuannya. Tapi kita semua tidak ada yang mengetahui bagaimana kehidupannya setelah diculik. Jika dia Elena kita, pasti dia akan mengingat wajah-wajah kita orang yang dikenalnya dengan dekat bukan?" tanya Rendy.
"Apa yang dikatakan oleh Rendy benar Sayang. Sudahlah, biarkan Rendy yang mencari tahu tentang Elena. Semoga dia Elena yang kita cari." Kevin merengkuh pundak Monica. Namun dengan kasar Monica menepisnya.
"Kita bisa melakukan tes DNA sekarang! Mengapa harus diam-diam? Rendy, ayo panggil Elena kemari. Aku ingin lihat anakku. Aku ingin lihat dia seperti apa sekarang. Setelah ini kita harus ke rumah sakit sekarang. Untuk melakukan tes DNA huhuhu." Monicapun berjongkok. Menangis histeris.
"Anu ..." sebuah suara yang begitu lembut menyapa mereka semua. Membuat semuanya menoleh kearah sumber suara. "Maaf Bunda ... Aku bangun kesiangan. Tapi ... Ada apa ini?" tanya Elena bingung.
__ADS_1
"Uncle Kevin bawa aunty Monica ke tempat yang lain. Jangan sampai ... " Sejenak Rendy tak lagi mampu meneruskan kata-katanya. Lantaran saat ini Monica malah justru berlari memeluk Elena.
"Anakku ..." panggil Monica dengan derai air mata. Elena mematung. Kedua iris abu-abu itu menatap Rendy mencoba meminta penjelasan.
"Hehe ... Apa aku disambut hangat selalu, jika aku datang kerumah ini?" tanya Elena dengan canggung.
"Aunty ... Mundurlah, jangan buat Elena tidak nyaman," kata Rendy.
"Tapi ..."
"Sayang kemarilah." Kevin mendekat. Lelaki itu segera merengkuh bahu milik istrinya. "Maaf membuatmu tak nyaman. Rendy, ajak tamumu untuk makan siang. Aku yakin dia pasti lapar."
****
"Paman, siapa mereka? Mengapa dia memanggilku anaknya?" tanya Elena penasaran.
"Elena diam dan makanlah. Jangan banyak bicara atau aku akan melemparmu ke jalanan." Rendy mendengus kesal. Kemudian menatap tajam Elena.
__ADS_1
"Oke Paman. Aku cantik aku diam." Elena mulai menyendokkan sesuap nasi di mulutnya. Terlihat gadis itu makan dengan rapi. Tetapi, jauh dilubuk hatinya dia merasa ada yang salah. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rendy.
Aku akan mencari tau sendiri.
****
"Mas Kevin! Apa mas Kevin tidak melihat kalung Elena? Itu adalah kalung yang sama dengan yang aku pakai ini! Kita tidak mungkin salah lagi Mas! Ayo Mas kita bawa Elena kita pulang."
"Monica tenanglah! Semua tidak semudah yang kamu fikirkan." Kevin mencoba untuk mengajak Monica berbicara. Kini mereka berempat berada di kamar milik Mariani dan Ardan.
"Kita hanya perlu melakukan tes DNA apa yang susah Mas!" teriak Monica.
"Aku rasa memang semua tidak semudah yang kita fikirkan, Monica. Kita semua tidak tau apa yang dia jalani. Bagaimana kehidupannya diluar sana. Melihat penampilannya, aku bisa membaca dia dibesarkan oleh keluarga yang mampu dan menyayanginya. Aku pikir sebaiknya kita jangan gegabah, Monica," ungkap Ardan menyampaikan pendapatnya.
"Tapi aku ibu kandungnya! Aku yang melahirkannya, Tuan Ardan. Bagaimana dia bisa menolakku?" keluh Monica.
"Lalu alasan apa yang akan kau berikan padanya? Mengapa kau yang menjadi ibu kandungnya justru terpisah darinya? Mengapa setelah sekian lama kau baru bisa mengakui dia anakmu? Ini sudah belasan tahun Monica. Jangan naif. Mungkin dia juga memiliki keluarga yang dia cintai. Keluarga yang membesarkannya. Terlebih lagi, Elena tidak mengenali kita semua. Jadi aku yakin ada banyak hal yang melatarbelakangi ini semua. Yakinlah pada Rendy. Aku yakin dia sudah mempersiapkan semuanya. Monica, jika kau ingin kembali berkumpul bersamamu, maka biarkan Rendy bersama rencananya. Jangan mengusik gadis itu terlebih dahulu. Kau mau mendengarkan aku dan Rendy bukan?" Ardan menghela nafas panjangnya. Dia mengerti betul perasaan dari Monica dan Kevin. Tetapi mengingat respon dari Rendy, Ardan yakin ada alasan besar dibaliknya.
__ADS_1
"Baiklah ... Aku akan bersabar sedikit lagi," ucap Monica dengan sendu.