Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 430. Emosi Sabrina


__ADS_3

"Ho-Honey?" William tergagap mendapati seseorang berdiri di ambang pintu. Terlihat dad*nya naik turun sedang menahan emosi.


"Julia! Seret ke bawah wanita jal*ng itu! Aku akan membuka kedua matanya! Siapa dia? Lalu apa posisinya di sini! Cepat!" Sabrina berbicara dengan lantang.


"Baik, Nona!" Julia merubah mimik wajahnya menjadi tak bersahabat. Gadis itu berjalan menuju Ara berada. Lalu Julia menarik rambut Ara dan menyeretnya dengan kasar.


"Argh! Sakit! Tuan William, tolong saya!" jerit Ara ketika Julia menarik rambutnya yang tergerai.


"Jangan coba-coba berbicara sepatah kata pun!" sentak Sabrina kepada William yang hendak berbicara.


Sabrina memutar tubuhnya mengikuti langkah kaki Julia dan Ara. Melihat situasi tak wajar, William memilih mengikuti Sabrina tanpa bersuara. Meski ingin sekali ia meminta Sabrina untuk sabar. Sepertinya itu hal yang mustahil. Di dalam lift, William melirik Sabrina yang terus bermain dengan jam tangannya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Sabrina. William tak bisa berkata-kata. Melihat emosi Sabrina tengah meledak

__ADS_1


"Julia! Lemparkan dia!" Sabrina membuka suara ketika mereka menjejakkan kakinya di lantai yang terdapat banyal karyawan.


Tentu saja kegaduhan ini membuat para karyawan tertarik untuk meliril kejadian gaduh itu. Terlebih Ara yang dilemparkan dengan kasar. Sehingga terjungkal di lantai marmer. Membuat rok sepaha itu menampakkan sesuatu berwarna merah berenda ketika kaki Ara terjengkang. Sabrina tersenyum sinis melihatnya. Bahkan Ara tak mengenakan celana savety. Di mana celana yang bisa menutupi sesuatu yang tabu untuk diperlihatkan di depan umum.


"Aku sudah memberikanmu peringatan sebelum ini. Tapi nyatanya kau tidak mendengarkanku. Menurutmu, aku harus bagaimana, Nona Ara?" Sabrina berbicara dengan angkuh. Tanpa senyum tetapi mimik wajah terlalu datar.


"Ciuh! Kau ini bocah kemarin sore! Apa hakmu melarangku untuk bersama presdir? Bukankah presdir diam saja? Kenapa kau yang kebakaran jenggot?" ketus Ara.


Sabrina tertawa keras. Membuat bingung semua orang yang ada di sana. "Maksudmu, kau mengatakan dengan jujur? Jika kau sedang menggoda presdir?"


William hendak bersuara. Namun, dengan cepat Sabrina mengangkat tangan. Sebagai isyarat agar William tak ikut campur. Lagi-lagi seringai licik terbit di bibir Sabrina. Gadis itu masih saja bersikap angkuh.

__ADS_1


"Secara terang-terangan kau mengatakan dirimu penggoda. Hmm, okay. Sepertinya kau juga merayu Tuan Ronald bukan? Presdir sebelum William. Oh aku baru ingat. Kau juga wanita yang ada di kamar hotel itu kan? Saat penggrebekan oleh istri saht Tuan Ronald. Kaulah wanita yang tidur di ranjang tanpa busana yang melekat di badan, Ara? Ara Zetty Vanlin. Benar?" Sabrina tersenyum penuh kemenangan mendapati wajah Ara yang pucat.


"Omong kosong!" Ara bangkit berdiri. Dengan mata yang nyalang ia menambahkan, "Kau jangan memfitnahku ya! Kau ini malah lebih parah. Masih kecil tapi menggoda pria dewasa. Bukannya kau malah cabe-cabean? Lebih parah siapa? Kalau begitu, aku akan memanggilmu jal*ng kecil!"


Sabrina memejamkan kedua matanya. Sabar telah lenyap. Kedua tangan terkepal. William hendak membantah, tapi lagi-lagi Sabrina meliriknya tajam. William urung. Memilih kembali membisu. Lantaran dari sorot mata Sabrina terlihat menyeramkan di kedua mata William.


"Jadi, menjadi jal*ng untuk suami sendiri aku berdosa? Aku bersalah? Di sebelah mana yang salah, Nona Ara?" Kata-kata Sabrina membuat semua orang melongo.


"Mak-maksudmu, kau istri presdir? Ha-ha-ha! Jangan mengada-ngada, Kau bocah!" Ara tergelak.


"Jadi maksudmu, kau masih belum percaya? Baiklah. Tanyakan satu hal pada Tuan William. Siapa yang menduduki posisi wakil presdir? Di mana wakil presdir yang selalu menyembunyikan diri itu? Perkenalkan, namaku Sabrina Azzahra Wijaya. Putri kedua dari Rendy Saputra Wijaya. Jika nama yang tertulis di papan nama wakil presdir benar seperti yang aku sebutkan. Maka itulah namaku. Tidak percaya? Datangi saja perusahaan Wijaya." Suara Sabrina terdengar lantang dan tegas.

__ADS_1


"Si*lan! Aku hampir keceplosan mengatakan istri William. Aku mempertaruhkan kebenaran identitasku sebagai wakil presdir. Semoga mereka lebih tertarik ke sana. Wakil presdir. Kendalikan amarahmu, Sabrina!" gerutu Sabrina dalam hati.


Semua orang melongo dan terkejut dengan apa yang mereka dengar. Seorang gadis ingusan menjadi wakil presdir? Cucu buyut dari keluarga Wijaya? Bukankah sangat tak terduga? Ara semakin syok mendengar kenyataan yang akan membuat hidupnya hancur.


__ADS_2