Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 313. Pesona Sabrina.


__ADS_3

Dengan malas, Sabrina mengangkat sambungan telepon tersebut. "Halo?" ketus Sabrina.


"Hai, Sabrina," sapa William.


Sepertinya, aku kenal suara ini? Tapi siapa ya? Sabrina membatin ragu.


"Siapa?" kali ini suara Sabrina meninggi.


William terkekeh. "Aku, William. Apa aku bisa bertemu denganmu?" tanya William.


"Bertemu?" ulang Sabrina.


Apa dia sudah bertemu dengan papa? Secepat ini? Tapi apa yang dikatakan papa? Aku bahkan tak tahu apapun. Sabrina membatin bingung.


"Sabrina? Kau mendengarkanku?" William tak sabar.


"Oh. Kapan, Uncle?" tanya Sabrina gugup.


William berpikir sejenak. "Besok, bagaimana? Besok hari Minggu, kan?"


Aduh. Hari Minggu besok, aku harus berlatih. Bagaimana ya? Takutnya uncle curiga, kalau aku nggak datang. Sabrina meragu.


"Bisa, Uncle. Jam berapa dan dimana ya?" berondong Sabrina.

__ADS_1


"Aku chat japri saja. Okay, makasih, see you." William mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.


"Lah, dimatikan? Astaga! Aku yakin, papa sudah bergerak! Argh! Sialan! Hai, Paman Danar. Katakan padaku. Jika aku hari ini bergerak, apa besok aku bisa libur?" tanya Sabrina.


Kedua alis Danar menukik tajam. "Maksud Anda, hari ini Anda merapel latihan untuk besok?"


Sabrina menganggukkan kepala. "Benar! Kau harus membimbingku sekarang. Ayo, cepat. Besok aku ada janji, Paman Danar. Ayolah, ya? Mau ya?" Sabrina merengek.


"Baiklah. Untuk Minggu depan saja. Hari ini, berlatih sesuai porsi. Ayo, paman akan mengantarmu ke camp." Danar memutar tumitnya dan melangkahkan kaki.


Sabrina mengendikkan bahunya, lantas ia mengikuti Danar dari belakang. Entah bagaimana rupa camp baru mereka. Sudah lama, Sabrina tak bermain ke camp. Di sana, pemandangan yang luar biasa terjadi. Ketika Sabrina mengikuti Danar dari belakang, banyak sekali pasang mata yang mengintainya. Maklum, hanya Sabrina satu-satunya gadis disana.


"Tuan Danar, dia siapa?" celetuk seorang pria.


Danar menatap Sabrina. Gadis itu justru acuh. Tak ingin bersuara apapun. Ia lebih memilih, melihat-lihat keadaan sekitar. Saat Danar hendak membuka suara, justru Sabrina memekik lantang.


"Wah!" Sabrina berlari menuju satu tenda camp. Terlihat disana, ada banyak senjata api. Sepertinya para calon pasukan geng mafia Dark Knight, akan berlatih menembak.


"Paman Danar! Apakah ini senjata laras panjang tipe MG-42? Senjata baru?" cerocos Sabrina.


Para calon pasukan itu terperangah. Seorang gadis bisa mengetahui jenis senjata laras panjang? Sungguh benar-benar langka. Terlebih, Sabrina adalah gadis yang cantik. Siapa pula yang tidak akan jatuh hati kepadanya? Danar mulai mendekati Sabrina.


"Nona Muda tahu jenis senjata ini?" tunjuk Danar pada senjata laras panjang yang ada di depan mereka.

__ADS_1


Sabrina mengangguk. "Tahu. Bukankah, senjata ini juga disebut gergaji Hitler? Dimana senjata ini mampu menembakkan 1200 butir peluru?"


"'Anda dari mana tahu jenis senjata ini?" tanya Danar penasaran.


Sabrina berjalan mendekati Danar. "Paman, dengar ya. Sekarang itu zaman udah canggih. Tentu aku bisa tanya mbah google. Aku suka sekali, cari referensi."


"Referensi?" Dahi Danar berkerut.


"Benar. Aku ingin minta pada papa. Tapi sepertinya, akan terwujud sebentar lagi. Hehe." Sabrina terkekeh. Lantas,. ia tanpa sadar, ia melihat keadaan sekitar. Banyak sekali pasang mata, yang menatapnya dengan tajam. Gadis itu lalu menyembunyikan diri, di belakang Danar.


Danar mengendikkan bahu. Pria itu menarik tangan Sabrina. "Baiklah. Perkenalkan, dia adalah teman baru kalian. Saya harap, kalian bisa membantunya. Ingat, jangan ditindas! Jangan membuat saya malu! Kalian paham?"


"Paham!" sahut mereka dengan serentak.


"Oh iya, Tuan Danar. Dia akan bergabung dengan regu mana?" tanya salah satu dari mereka.


"Regu? Maaf, dia istimewa. Dia akan ada di bawah pengawasanku langsung. Kenapa kalian berada disini? Cepat pergi!" bentakan dari Danar, seketika membuyarkan mereka yang berkumpul. "Sabrina, ayo paman antar di tempat menembak. Paman ingin tahu, seberapa hebat pemahamanmu dalam menembak musuh." Danar menggiring Sabrina, untuk segera bergegas menuju arena pelatihan tembak menembak.


Astaga! Baru menjejakkan kaki kemari saja, aku harus sudah berlatih? Ah. Memang Paman Danar ini, tak berhati! Awas saja. Sepertinya, aku harus membuat rusuh sesekali. Sabrina menarik sudut bibirnya. Ia akan membalas dendam nantinya.


Danar menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh ke arah Sabrina. "Kenapa, Nona Muda? Apa Anda berniat untuk, menghancurkan tempat ini?" tebak Danar.


Kampret! Kenapa Paman Danar, bahkan sudah bisa menebakku dengan mudah? Sabrina membatin frustasi.

__ADS_1


__ADS_2