
Sebuah rumah berdesain minimalis, kini ada di depan kedua mata Sabrina. Memang tidak sebesar rumah kediaman Rendy. Akan tetapi, kedua mata Sabrina menangkap sebuah taman kecil yang indah.
Mobil berhenti di depan pintu gerbang. Seorang pria paruh baya, tergopoh-gopoh membukakan pintu. Sepertinya, dia adalah satpam di rumah ini. Mobil mulai memasuki halaman rumah tersebut. Setelah itu, mobil berhenti di garasi.
Melihat William turun, Sabrina juga turun dari mobil. Gadis itu senantiasa mengekor, di belakang William. Tanpa kata, atau protes. William melirik Sabrina. Gadis itu masih saja asik, menikmati desain rumah minimalis itu.
"Bukankah rumah ini lebih kecil, dari kediamanmu?" tanya William.
Sabrina menoleh. "Iya." Gadis itu kembali mengalihkan pandangan. Meneliti setiap sudut rumah minimalis itu.
Hingga sampailah, mereka di lantai dua. William berjalan menuju sebuah kamar. Sabrina tetap mengekor di belakang tanpa protes sedikitpun.
"Ini kamarmu," kata William. Mereka berhenti di sebuah kamar. William membuka pintu kamar itu. "Kamarku ada di sebelah sana." William menunjuk sebuah pintu, di ujung sebrang.
"Kamar kita terpisah?" tanya Sabrina.
"Menurutmu? Apa kau berharap, kita berada di satu kamar yang sama?" ejek William.
Sabrina menggeleng dengan cepat. "Tidak. Tapi aku sedang bersyukur," ungkap Sabrina dengan cepat.
Apakah ini sebuah penghinaan? tanya Sabrina dalam hati.
"Baguslah. Nanti akan ada yang mengantar barang-barangmu. Kau istirahat dulu. Di rumah ini, ada dua pembantu. Satu orang bertugas memasak. Satu orang lagi, bertugas membersihkan rumah. Terkadang, mereka membersihkan rumah bersama. Jangan merepotkan," papar William.
Pria itu berjalan menjauh, meninggalkan Sabrina. Gadis itu menatap marah, ke arah punggung William yang menjauh. Sabrina menggelengkan kepalanya. Mencoba kembali menekan, amarah yang menggelora di dalam dada.
Sabrina berjalan masuk ke dalam kamar. Sangat kecil, akan tetapi Sabrina harus sadar diri. Ini adalah rumah barunya bersama William. Senyuman manis terbit di bibirnya. Setidaknya, itu adalah kenyataan. Bahkan, Artur saja tidak ada.
"Sabrina. Kau harus bertahan. Biarkan William mengerti, sebesar apa cintamu padanya."
Sabrina menggumam. Gadis itu berjalan menuju tembok kaca, yang tertutup sebuah gorden. Sabrina menyibak gorden tersebut. Ia mengulum senyuman.
__ADS_1
"Setidaknya, pemandangan disini indah."
Sabrina menikmati pemandangan, serta angin yang berhembus pelan. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk. Segera, Sabrina melangkah menuju pintu. Ia lalu membuka pintu tersebut. Hingga seorang wanita paruh baya, menyembul dari balik pintu.
"Nona, Anda belum sarapan bukan? Saya sudah menyiapkan sarapan, untuk Anda," ucap wanita itu.
Sabrina mengangguk paham. "Baiklah."
Gadis itu lalu mengekor di belakang wanita itu. Saat berada di ujung tangga, Sabrina menoleh ke arah pintu kamar William yang masih tertutup.
Menyadari Sabrina yang menghentikan langkah, wanita itu menghampiri Sabrina. "Apa Nona, menunggu Tuan? Sebaiknya jangan ditunggu, karena Tuan telah pergi," tukas wanita itu.
Dahi Sabrina mengerut. "Pergi?"
Wanita itu mengangguk. "Benar, Nona. Jadi, mari ikut saya. Tidak usah menunggu, Tuan William."
Jadi begitu. Ini benar-benar penghinaan, William! Kau masih tidak sadar diri rupanya! Sabrina mengepalkan kedua tangannya. Lalu mengekor di belakang wanita paruh baya itu.
"Ngomong-ngomong, siapa nama Bibi?" tanya Sabrina.
"Sabrina." Setelah itu, Sabrina bungkam kembali.
Sepiring nasi goreng seafood, telah terhidang di atas meja makan. Disini tidak ada ruang makan. Hanya meja makan, yang mepet bersama dapur. Beruntung, Sabrina bukan gadis yang rewel. Tatapan Sabrina mengunci pada sosoj gadis muda, yang nampak memegang pel-pelan.
"Hai," sapa Sabrina.
Gadis itu menoleh. Mematung di tempatnya. Membuat Sabrina diterpa kecanggungan. Bibi Rosi mendekat.
"Itu anak saya, Nona. Namanya Agni. Berumur 20 tahun. Maaf, Nona. Agni mungkin, kaget. Karena Nona Sabrina, tiba-tiba menyapa," jelas Bibi Rosi.
Sabrina menganggukkan kepala. "Kak Agni, kemarilah. Bi, apa masih ada nasi gorengnya?"
__ADS_1
"Masih, Nona Sabrina," jawab Bibi Rosi. Meskipun wanita paruh baya itu tak mengerti maksud perkataan Sabrina.
"Ambilkan satu porsi lagi, Bi. Biar Kak Agni menemaniku makan disini. Biasanya, aku selalu makan bersama keluargaku," kata Sabrina.
"Tapi, apa tidak apa-apa? Mak-maksud saya. Agni ini pekerjaannya, pembantu di rumah ini," pungkas Bibi Rosi.
"Apa hubungannya? Bukankah Kak Agni manusia, aku juga manusia? Hanya perbedaan strata sosial, apa harus aku menginjak status pembantu? Yang memnersihkan rumah ini, adalah Kak Agni. Bukankah itu artinya, aku ini membutuhkan bantuan tenaga dari Kak Agni? Kita sama-sama membutuhkan, mengapa harus membedakan sesama manuasia? Cepat kemari!" Intonasi Sabrina meninggi.
Bibi Rosi terharu mendengar penuturan dari Sabrina. Begitu pula dengan Agni. Gadis itu berjalan menuju meja makan, lalu mendudukkan bokongnya di hadapan Sabrina. Bibi Rosi lalu mengambil sepiring nasi goreng. Kemudian memberikannya untuk Agni.
"Apa di belakang masih ada lagi?" tanya Sabrina.
"Nasi goreng?" balas Bibi Santi heran.
Sabrina mengangguk. "Benar. Kalau masih, berikan untuk Pak Ujang, dan Bibi Rosi." Sabrina kemudian makan dengan santainya.
Sedangkan Bibi Rosi dan Agni, terharu mendengarnya. Sebenarnya, mereka adalah satu keluarga. Setidaknya dari ada bekerja di lain tempat, mereka bersyukur William mau menampung mereka. Memberikan penghidupan yang lebih baik.
Sabrina sendiri, memang hidup dalam gemerlap dunia. Gadis itu memang memiliki beberapa aset, yang diberikan oleh Ardan. Satu hotel mewah berbintang 5, dan perkebunan sawit sebanyak 30 hektar. Belum lama ini, satu pusat perbelanjaan besar beralih ke tangan Sabrina. Siapa lagi, jika bukan dari Rendy? Kemungkinan, itu juga akan bertambah lagi.
Mengingat Ardan, yang begitu mencintai cucu-cucunya. Terakhir, jangan lupakan dua geng mafia besar. Yang tak lama lagi, akan jatuh ke tangan Sabrina. Tetapi lihatlah. Sabrina tetap menjadi dirinya sendiri. Menikmati hidup, dan bersenang-senang menikmati masa mudanya. Terlebih, cinta yang begitu gila ini.
"Terima kasih, Bibi Rosi," ucap Sabrina. Ia telah menghabiskan sepiring nasi goreng seafood itu.
"Sama-sama, Nona Sabrina. Em, kalau boleh tahu, Nona Sabrina menghindari makanan apa? Mungkin, alergi? Takutnya, bibi salah memasak," kata Bibi Rosi.
"Tidak ada. Aku suka dan bisa menerima semuanya," sahut Sabrina. Ia menoleh kepada Agni. "Kak Agni, apa aku boleh minta nomor ponselmu?" Sabrina mengeluarkan ponselnya.
Agni mengeluarkan sesuatu dari kantong celemeknya. Dahi Sabrina mengerut. Ponsel? Memang terlihat seperti ponsel. Akan tetapi, itu adalah ponsel tanpa kamera.
"Nona Sabrina, nomor Nona saja yang saya simpan," ucap Agni.
__ADS_1
Dengan cepat, Sabrina menyambar ponsel di tangan Agni dan membuangnya ke lantai dengan kasar. Seketika Agni dan Bibi Rosi terperanjat kaget.
"Buang saja, ponsel itu. Ini jaman apa?" Sabrina lalu mengeluarkan SIM card, yang ada di dalam ponsel itu. "Ini! Pakai! Aku masih ada satu ponsel keluaran terbaru, yang belum aku pakai. Hadiah dari papaku. Barangku akan segera datang, tak usah risau."