Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 153


__ADS_3

Mereka semua membisu. Smith, Ardan, Ani dan Monica. Riana sudah dipindahkan dari ICU (Intensive Care Unit) ke ruangan HCU (Hight Care Unit).


Ani dan Monica memandang lekat kearah Smith. Seolah memberikan singgungan atas tindakannya kepada Rianna.


Smith menatap nanar langit-langit koridor rumah sakit itu. Seakan penyesalan menghantam hatinya bertubi-tubi. Gadis cantik itu memang sudah lolos dari ambang kematiannya. Namun, dia harus tetap diawasi oleh dokter.


Ardan hanya membisu. Tak ingin menceritakan apa yang terjadi. Walaupun dia tahu jika Smith menghentikan pertempuran ini karena anak kandungnya terluka. Benih yang dia tanam diperut wanita yang dicintainya itu ternyata dipertahankan. Benih yang dia kira telah digugurkan oleh mantan kekasihnya itu, justru hidup dan tumbuh dengan perjalanan hidup yang tidak mudah.


Aku tau Rosita, kau telah berjuang mempertahankannya. Tapi tak kusangka. Dulu kau mendebatku segera menikah hanya untuk membebaskan mu dari belenggu perjodohan kedua orangtuamu. Sungguh, aku laki-laki hina. Kau tahu, hukuman ini benar-benar membuat hatiku hancur. Harta dan tahta membutakan hatiku. Kupikir kau akan menungguku. Tak ku sangka kau malah menikah dengan laki-laki lain saat kau tengah hamil anakku. Alasan kenapa hingga saat ini aku belum menikah. Aku masih mencintaimu Rosita. Hingga detik ini.


Pintu terbuka terlihat Nico dan Gretha dengan mata yang sembab. Bagaimana tidak, tentu mereka kaget dan panik begitu mendengar kabar kalau Rianna terluka. Tetapi Ardan tidak mengatakan kalau Rianna terkena luka tembak. Begitu sampai dirumah sakit. Barulah Ardan mengatakan yang sebenarnya.


Smith langsung tersadar dari lamunannya. Tatapan sendu ia lemparkan kearah Gretha, namun Gretha dengan segera mengalihkan pandangannya. Ani dan Monica hanya mampu membisu. Mereka bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


"Ardan, bagaimana tadi kata dokter?" Nico memecah kesunyian.


"Kata dokter, kita harus menunggu hingga besok Pi. Karena pengaruh obat bius. Semoga Rianna segera membaik kondisinya,"


"Aminn," semua mengamini.


"Pergilah nggak ada gunanya kamu disini!" Kau sudah menghancurkan hidup keluargaku. Seharusnya kau tau itu, Smith!" tandas Gretha. Kembali air mata menganak sungai dipipinya. Rianna, gadis yang malang. Baru saja sembuh dari kehidupannya yang gelap, kini dia harus berjuang antara hidup dan mati.


"Maafkan aku, kak," Smith menundukkan kepalanya. Berharap ia tidak diusir oleh kakaknya. Ia ingin sekali menyapa putri kandungnya itu. Ingin mencurahkan segala hal disisa waktunya.


"Kak, tolong maafkan aku. Jangan usir aku," Smith menangkupkan kedua tangannya. Memohon agar tidak diusir. "Ardan, tolong paman,"


"Maaf paman. Ardan nggak bisa bantu. Karena memang kenyataannya begitu. Rianna tidak bersalah. Tapi harus menerima dua tembakan ditubuhnya. Dia hanya gadis yang lemah. Tapi paman tega memperlakukannya dengan begitu tragis," sarkas Ardan.

__ADS_1


"Paman tau, paman bersalah Ardan. Tapi jujur saja paman benar-benar menyesal,"


"Menyesal kamu bilang? Dia hampir mati! Anak gadisku hampir mati! Dia baru saja berumur dua puluh tahun, Smith. Masa depan yang panjang tengah menantinya. Dimana otakmu itu! Hanya harta saja yang kau pikirkan! Silahkan kau pergi dari sini Smith! Kehadiranmu tidak diinginkan!" Gretha semakin emosi.


Smith luruh. Kini ia bertumpu pada kedua lututnya. Air mata terlihat menggenang dikedua sudut matanya. Menangkupkan kedua tangannya, memohon.


"Aku mohon kak, aku ingin disini. Tolong jangan usir aku. Aku minta maaf. Aku akan menyerahkan diri kepada polisi jika anakku sudah baik-baik saja,"


"Anak?" Gretha dan Nico saling memandang. Sedangkan Ani dan Monica membulatkan matanya. Memastikan apakah mereka benar-benar salah dengar atau tidak.


"Aku mohon kak, jangan usir aku. Aku ingin menyapa anakku,"


"Anak? Siapa maksudmu? Jangan bercanda!" Nico mengeraskan rahangnya. Tubuhnya menegang. Siap meluapkan emosi yang berkecamuk didadanya.

__ADS_1


"Paman tidak bercanda, Rianna anak kandung paman dengan tante Rosita," ucapan tegas yang dilontarkan Ardan, membuat semuanya terkesiap kaget.


Bagaimana mungkin dunia sangat sempit begini?


__ADS_2