
"Bunga Belladona? Di dalam bunga ini terkandung racun tropane alkoids dan atropine yang dapat menyebabkan gangguan sistem saraf. Belladonna adalah tanaman yang berbahaya karena sangat beracun yang masuk di dalam keluarga nightshade. Jadi, Sabrina kau dari mana tahu ada lambang bunga jenis ini?" tanya Amelia di ujung telepon.
"Benar. Bisakah kau mendeteksi, di mana saja pembunuh bayaran itu tersebar?" Sabrina mulai tak sabar.
"Apa ada yang mengusikmu, Sabrina? Sehingga kau meminta bantuanku? Setahuku papa dan mama telah meratakan markas mereka seperti tanah. Mereka tak bersisa lagi, Sabrina," ucap Amelia. Ia seolah tak percaya dengan kata-kata dari Sabrina.
Sabrina memutar bola mata kesal. "Oh ayolah, Amelia. Aku tidak akan mendesakmu jika aku tak menemukan sesuatu yang janggal. Lebih parahnya lagi, temanku saat ini disandera oleh mereka. Lalu yang saat ini menjelma temanku itu justru pembunuh bayaran itu sendiri! Aku baru saja mengetahuinya. Aku juga ceroboh hampir melewatkan petunjuk itu."
Mendadak Amelia membisu di ujung telepon. Seolah gadis itu tengah berfikir. Baiklah. Aku akan mencari tahu. Tenanglah, tapi maaf. Aku juga butuh waktu. Kau bisa sedikit bersabar?"
"Kumohon, jika kau bisa mempercepatnya usahakan ya? Ada nyawa temanku yang sedang dipertaruhkan," tukas Sabrina dengan cemas.
__ADS_1
"Aku rasa, kau paham siapa aku , Kakakku tercinta. Kita dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda. Jadi, jangan khawatirkan apapun. Sudah dulu!" Amelia menutup sambungan telepon secara sepihak. Membuat Sabrina mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jika saja tidak ada nyawa yang dipertaruhkan, aku masih bisa sedikit bersabar. Masalahnya, Aretha yang polos dan tertutup justru dijadikan sandera. Pasti Aretha yang asli sedang ketakutan atau tengah disiksa," batin Sabrina semakin bertambah kalut.
"Honey, kenapa kau terlihat gelisah?" tegur William. Pria itu menyodorkan segelas coklat hangat untuk istri tercintanya.
Sabrina menerimanya dengan senang hati. Lalu menyeruputnya sedikit. Setidaknya, hatinya tak sekalut sebelumnya. "Terima kasih, Honey."
Sejenak Sabrina menatap lekat William. Sedikit ragu saat ia ingin mengeluarkan keluh kesahnya kepada sang suami. Sabrina menghembuskan napas panjang. "Artur, sedang latihan bukan? Paman Danar sepertinya memiliki mainan baru yang akan membuatnya senang."
William menatap tajam Sabrina. Seolah tak percaya jika hanya hal itu yang sedang dipikirkannya. "Honey, kenapa berbohong lagi?"
__ADS_1
"Berbohong?" Sabrina menggelengkan kepala dengan pelan, imbuhnya, "Tidak. Aku merasa seperti pembawa si*l yang menyeretmu dan Artur untuk meninggalkan kehidupan kalian yang sangat biasa. Lalu berkutat pada jam latihan yang tinggi. Bahkan bisa membuat nyawa melayang kapan saja," tutur Sabrina.
"Honey! Berhentilah berkata-kata aneh. Nyatanya aku dan Artur santai saja dengan pilihan yang kami ambil. Kami berdua tahu konsekuensi dari jalan yang kami, Honey. Tapi, aku juga senang. Karena sekarang Artur menjadi pribadi yang lebih baik. Sudah, Honey. Jangan berfikiran yang aneh-aneh lagi." William mengusap kedua bahu Sabrina dengan pelan.
Sabrina mematung di tempatnya. Pikirannya bukan lagi hal yang dia bahas dengan William. Tapi lagi-lagi pikiran Sabrina tertumpu pada musuh yang menyandera Aretha. Pikiran buruk selalu sja menyergap hatinya.
"Honey! Kau melamun lagi? Kau sedang memikirkan sesuatu yang besar kan?" desak William.
Sabrina menggelengkan kepala dengan pelan. "Honey, kita tidur saja yuk. Ini sudah malam, Honey."
William menyerah. Ia tahu jika Sabrina menyembunyikan hal yang besar. Pria itu memilih tak lagi protes. Lalu ia menggiring Sabrina menuju kamar utama.
__ADS_1