Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 305. Sabrina


__ADS_3

Sabrina menghela nafas lega saat dirinya telah menginjakkan kakinya di rumah. Jantungnya seakan hampir copot lantaran ketakutan akan sang mama. Sesekali gadis itu meneguk salivanya. Semoga saja mamanya tidak mengetahui kejadian hari ini.


"Sabrina," panggilan seorang wanita paruh baya menghentikan langkah kaki Sabrina. Kini jantungnya kian bertalu hebat karena sang mama justru memanggilnya. Wanita itu bernama Elena.


"I-iya, Ma," jawab Sabrina dengan gugup.


Gadis itu membalikkan tubuhnya dan mendapati sang mama tengah tersenyum lembut ke arahnya. Sabrina menghela nafas. Untung saja wajah sang mama seperti biasanya. Penuh kehangatan. Bukan wajah beringas ketika emosi melanda hatinya.


"Nanti malam akan ada tamu. Kenapa kau pulang sesore ini?" tanya Elena sembari mengulurkan tangannya. Sabrina pun mencium punggung tangan mamanya.


"Tamu? Terus kenapa dengan Brina? Lagian nggak ada sangkut pautnya sama Brina. Em, ta-tadi habis main sama temen, Ma. Maaf. Brina nggak pamit dulu," cicit Sabrina sembari menundukkan kepalanya.


Semoga mama tidak curiga. Sabrina berdo'a dalam hati.


"Papa kamu minta semuanya ikut makan malam. Mereka cukup dekat dengan papamu. Jangan salahin papamu, mama rasa ada baiknya kita juga menyambut kehadiran mereka, Nak. Persahabatan mereka cukup lama terjalin," kata Elena sembari mengusap lembut pucuk kepala Sabrina.


"Baiklah, Brina ke kamar dulu ya, Ma. Mau bersih-bersih badan. Sama siap-siap untuk nanti malam," pamit Sabrina.


"Iya, Sayang. Dandan yang cantik! Anaknya ganteng lo," ledek Elena.


"Mama!" Sabrina berseru lantang. Kedua pipinya merona merah jambu.


"Ha-ha-ha." Elena segera berlalu. Meninggalkan Sabrina yang mendengus kesal.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Coba ibu mana yang ingin anaknya cepat-cepat memiliki kekasih? Padahal ibu-ibu normal lainnya pasti akan memiliki ketakutan tersendiri akan sewaktu-waktu ditinggal anak gadisnya. Sedangkan mamanya? Mengapa rasanya seakan dirinya ingin ditendang dari rumah ini secepatnya.

__ADS_1


Malampun kian bergulir menyapa dunia. Tepat pukul 19:03 terdengar bell rumah berbunyi menandakan tamu telah datang. Elena dan Rendy Saputra Wijaya papa dari Sabrina segera berhambur menyambut tamu yang datang. Rendy dan tamu itu terlihat berpelukan satu sama lain. Melepas rindu sekian lama tak bersua.


"Astaga, kau mengapa masih sama sewaktu terakhir bertemu? Apa rahasianya?" tanya Rendy. Tamu itupun terkekeh.


"Aku kan masih 32 tahun. Tentu berbedalah. Aku ini masih muda dan gagah. Bukankah begitu, Nyonya?" tanya tamu itu dengan senyum menawan. "Kau juga nampaknya masih segar. Padahal usiamu sudah menginjak 40 tahun."


"Jangan membeberkan umurku dong! Gini-gini masih kuat!" bisik Rendy pada tamu tersebut.


"Kalau Anda masih muda dan tampan, aku rasa pasti sudah memiliki kekasih lagi bukan?" ledek Elena sembari mengulurkan tangannya.


"Haha jangan membahas itu lagi, Nyonya. Hidupku hanya untuk Artur," jawaban dari lelaki itu membuat hati Elena hangat. Jarang sekali ada lelaki yang begitu setia. Terlebih ketika istrinya meninggal sewaktu melahirkan buah hatinya.


"Ayo William, istriku sudah memasak banyak untukmu dan anakmu," timpal Rendy.


Keduanya pun memasuki ruang makan. Disana terhidang begitu banyak menu yang menggugah selera. Artur hanya diam mematung. Seumur hidupnya baru kali ini dia begitu iri dengan keluarga lain.


Andai mama masih hidup. Apa aku juga bisa bermanja seperti itu? Tuhan, bolehkah aku iri sekali saja? Bolehkah aku iri dengan keluarga didepanku ini? Mereka memiliki segalanya. Bukan tahta. Melainkan kehangatan keluarga. Aku tak butuh semua fasitlitas apapun. Aku hanya rindu mama. Rindu sekali. Artur menundukkan kepalanya.


Di sisi lain, Sabrina yang malas pada akhirnya mulai beranjak dari ranjangnya. Ia memang telah usai mandi sedari tadi. Akan tetapi ia enggan untuk beranjak dari zona nyamannya. Sabrina melirik paperbag yang tadi diberikan Eleora padanya. Setelah Sabrina memaku diri, ia kemudian meraih paper bag tersebut dan mengeluarkannya. Entah kenapa tiba-tiba matanya begitu sakit melihat gaun merah menyala yang telah disiapkan oleh mamanya.


"What? Bukannya mama udah tau warn kesukaanku hitam? Kenapa beliin warna merah? Keterlaluan! Udah maksa-maksa buat ikut, baju juga udah disiapin. Tapi aku yakin, ini merusak mata!" Sabrina mengabaikan paperbag tersebut dan meletakkan kembali diatas nakas.


Sabrina lalu melesat ke arah walk in closet miliknya. Rata-rata gaun yang ia miliki berwarna hitam. Mungkin itu sebabnya Elena terkadang membelikan gaun dengan warna yang lain. Setelah menjatuhkan pilihan, Sabrina segera mengganti bajunya.


Gaun berwarna hitam selutut tanpa lengan dan bermodel kemben menampilkan leher dan pundaknya yang putih nan jenjang. Sabrina menggerai rambutnya yang lurus alami sepanjang pinggangnya. Kemudian sebuah kalung yang melekat erat di lehernya berwarna hitam dengan sebuah bandul permata yang juga berwarna hitam.

__ADS_1


Lalu sepasang anting yang berbentuk bunga mekar menambah kesan mempesona. Ditambah ia mengenakan sarung tangan transparan hingga siku berwarna senada dengan gaun hitamnya. Terakhir sebuah high heel dengan ujung runcing dan berwarna hitam.


Penampilannya yang menawan menyembunyikan usianya yang sebenarnya. Pesona bak bunga mawar hitam melekat sempurna pada Sabrina. Dengan berat hati ia segera beranjak turun. Kemungkinan besar mamanya sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Tap! Tap! Tap! Sabrina segera mendatangi dimana mereka semua berada. Tanpa ia sadari dirinya terpana pada seseorang yang tadi pagi mencuri perhatiannya. Oppa tampan.


"Sabrina!" panggil Elena. Panggilan halus dari sang mama membuat Sabrina mencebik kesal. Segera Sabrina merubah ekspresi wajahnya. Ia segera mengulum senyuman manisnya.


"Mama! Maaf aku terlambat!" teriak Sabrina. Tak hanya itu Sabrina juga mendaratkan banyak kecupan di wajah Elena. Kemudian memeluk Elena dengan posesifnya.


"Cewek uler," gumaman Artur membuat Sabrina menoleh. Tak urung, gadis itu terlonjak kaget.


"Heh playboy!" desis Sabrina.


"Loh, bukannya kamu gadis yang berada di ruangan BP?" tanya William. Seketika kembali membuat Sabrina jantungan. Mamanya sudah menatapnya tajam. Tidak! Lebih tepatnya mendelik!


"Ehm, i-iya Oppa!" seketika semuanya menatapnya dengan mata yang membulat. Sabrina yng menyadari hal itu buru-buru memperbaiki ucapannya. "Maksudku, Om. Maaf lidahku kepleset."


Kenapa dunia ini sempit sekali. Cicit Sabrina dalam hati.


"Memangnya apa yang kau lakukan, Brina? Apakah itu alasan mengapa kau pulang begitu sore?" tanya Elena dengan nada yang mengintimidasi.


Tatapannya pun setajam elang. Membuat Sabrina menundukkan kepalanya. William yang melihat gadis tertunduk itu merasa iba. Bukankah ini gara-gara anaknya yang nakal?


Sabrina semakin tak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Begitu pula dengan keringatnya yang mulai membasahi tubuhnya. Jangan lupakan detak jantung yang bertalu-talu.

__ADS_1


__ADS_2