
Baca Sampai Akhir
Di bawah sebuah bangunan yang tak terpakai, seorang gadis nampak berdiri angkuh di bagian rooftoop. Memakai pakaian serba hitam, dengan setangkai bunga mawar hitam. Di depannya menghampar lautan api beserta dengan tubuh-tubuh manusia yang tergeletak tak bernyawa. Bahkan banyak di antaranya, mati dengan mengenaskan.
Sudut bibir gadis itu terangkat. Menjadi senyuman sinis yang mengerikan. Sosok wajahnya yang mempesona, berbanding terbalik dengan apa yang telah ia lakukan. Meluluhlantakkan semua bangunan yang ada di depan matanya.
"Nona Sabrina, semua telah selesai. Misi Anda, telah berhasil," kata salah seorang pria dengan pakaian serba hitamnya.
"Baiklah. Bawa kembali semua senjata yang tersisa. Bukankah ini menyenangkan? Membunuh dengan sekali serangan." Sabrina berdiri angkuh dengan senyuman sinis.
Pekerjaannya telah selesai. Para ******* itu telah menjadi seonggok mayat. Sabrina memutar tumitnya, berlalu meninggalkan tempatnya semula berdiri. Jangan sampai ia ditemukan oleh para abdi negara.
Tak lama kemudian, sebuah mobil telah berhenti tepat di depan Sabrina. Setelah gadis itu masuk ke dalam mobil, dengan cepat sang supir menginjak pedal gas membuat mobil melaju membelah jalanan yang kian mengerikan di malam larut.
Sekitar dua jam, mobil yang ditumpangi Sabrina berhenti tepat di sebuah tanah lapang. Di mana ada sebuah helikopter, yang tengah menunggu Sabrina. Meskipun lelah, Sabrina tetap masuk ke dalam helikopter. Setelahnya, terbang mengudara. Dari atas sana, Sabrina kembali menarik sudut bibirnya.
"Hukuman untuk orang jahat. Beraninya mereka berbuat keji, kepada warga sipil yang tidak berdosa. Hanya demi kekuasaan, mereka tanpa belas kasih meledakkan penjuru kota. Tapi lihatlah, ketika ada yang memiliki kekuatan yang sama dengan kalian. Nyatanya kalian bagai bangkai hewan yang tidak memiliki nilai. Aku akan datang kembali, dengan beberapa bom baruku tentunya," ucap Sabrina dengan senyum yang sulit diartikan.
Helikopter kembali turun di sebuah tanah lapang yang lebih luas setelah terbang sekitar 2 jam lamanya. Kali ini, sebuah pesawat jet pribadi akan menjadi kendaraan terakhir Sabrina menuju Indonesia.
__ADS_1
"Uncle William, apa kau merasa kehilangan? Aku pergi selama satu minggu. Apa kau tidak terusik sedikitpun?" tanya Sabrina dalam hati.
Sabrina memilih memejamkan kedua matanya. Seluruh persendiannya terasa remuk. Mengingat perjuangannya sampai di titik perbatasan. Sang dewi mimpi membelai lembut Sabrina yang tengah lelah.
Di belahan bumi yang lain, seorang pria berusia 32 tahun nampak semakin gelisah. Tak mendapati istri di atas kertasnya pulang ke rumah, lebih dari satu minggu lamanya. William begitu kalut. Di tambah dengan tekanan dari Rendy yang semakin membuat William tak bisa bergerak sembarangan.
"Sabrina, kau kemana?" gumam William. Bahkan nyaris tak terdengar.
"Tuan," panggil Ryu.
"Apa? Kau tidak lihat aku sedang pusing? Batalkan saja, jika ada meeting yang tidak penting. Sekalipun aku hadir meeting, pikiranku tidak akan bisa fokus!" sentak William.
William menoleh. Pria itu mengerutkan dahi. Mencoba mencerna kata-kata dari bawahannya yang setia. "Apa maksudmu, Ryu? Cepat katakan! Jangan membuatku mati penasaran," timpal William.
"Kata Kadir, Nona Sabrina telah pulang ke rumah," kata Ryu dengan nada tenang.
Mendengar hal itu, William bangkit. "Kita pulang sekarang juga." Pria itu melangkahkan kakinya. Kini tujuannya ke rumah.
Dengan perasaan aneh, William berjalan dengan tergesa. Pikiran William juga tak menentu. Apa yang akan ia katakan kepada Sabrina? Memarahinya atau mengabaikannya? Sedangkan perasaan William sendiri juga khawatir terhadap gadis yang tergila-gila padanya itu.
__ADS_1
"Ryu! Kau tidak bisa lebih cepat ha? Ayolah, kita harus segera sampai di rumah!" bentak William.
Ryu tak menjawab. Pria itu memilih bergeming tanpa menunjukkan kekesalannya terhadap sang tuan majikan. Selama dalam perjalanan, William tak henti-hentinya memaki Ryu dan mengumpat. Terik matahari memang cukup menyengat. Seperti hati William yang seolah sedang tersengat. Panas membara.
"Apa yang harus aku katakan pada Sabrina? Sebenarnya kemana gadis itu menghilang? Rendy juga seperti menyembunyikan sesuatu. Lalu alasan apa yang membuat Sabrina nekat minggat dari rumah?" William terus bertanya dalam hati.
"Tuan William, kita telah sampai di rumah." Kata-kata dari Ryu membuat William segera keluar dari mobil. Membuat Ryu hanya bisa mematung di tempatnya. "Ada apa?" tanya Ryu. Bahkan Ryu belum sempat membukakan pintu untuk sang majikan. Tetapi William bahkan telah berlari masuk ke dalam rumah.
William tak sabar untuk segera mendapatkan keberadaan Sabrina. Pria itu masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Hingga tiba di ruang tamu, William mendapati sosok gadis yang membuat hatinya tak tenang. Gadis belia dengan sejuta pesonanya yang ada. Kedatangannya yang tergesa, menimbulkan suara. Membuat sosok gadis yang dia nantikan menoleh ke arahnya. Sontak saja, William membeku di tempatnya berdiri. Tatapan William dan Sabrina bertabrakan. Entah mengapa menimbulkan sesuatu yang aneh di hati William.
"Hai, Uncle. Bukankah ini masih di jam kerja?" tanya Sabrina. Gadis itu melirik ke arah jam dinding yang menempel di tembok.
----
Para pembacaku yang setia, januari aku balik ke Noveltoon Satu bulan, targetku dapat tamat *Mutiara Kasih Sayang* dan *Rianna*
Bagi kalian pembaca setiaku, nanti bakalan ada 3 pembaca setia yang mendapatkan satu novelku berjudul *Elegi Buana* versi cetak serta Kapten Rojali, I Love You! 😍😍 caranya gampang, hanya perlu komen setiap saya update ya. Rianna, Mutiara Kasih Sayang, lalu Modern God Of War.
__ADS_1