
Kedua pasang muda mudi itu melepaskan ciuman panasnya. Dengan nafas yang tersengal-sengal Rendy menatap nyalang pada Elena.
"Kau! Mengapa berani keluar kamar tidak memakai bra?" tanya Rendy tanpa basa-basi.
"Me-memangnya aku tau tangan nakalmu itu masuk kesana?"
Elena berpaling. Mencoba menyembunyikan rona merah muda yang menyembul di kedua pipinya. Lagi-lagi tingkah Elena begitu menggemaskan. Membuat Rendy mengurungkan niatnya. Lelaki itu justru kini menjatuhkan tubuhnya disamping tubuh Elena. Menatap langit-langit kamarnya.
"Aku ada sedikit masalah. Maaf, membuatmu khawatir," kata Rendy.
"Lain kali jangan membuat orang rumah khawatir. Aku yang tidak tau apa-apa menjadi bulan-bulanan ayahmu yang memberondongiku dengan banyak pertanyaan. Aku rasa kau tau bagaimana ayahmu."
__ADS_1
"Aku tau. Tapi aku ada sesuatu yang harus kulakukan saat itu. Jadi tak sempat memberikan kabar sedikitpun."
"Baiklah. Karena kau sudah lebih baik sekarang, maka aku akan kembali ke kamarku. Selamat malam Paman." Elena segera bangkit. "Aku juga sudah ngantuk. Bye."
Saat kaki Elena baru saja menjejakkan kakinya di lantai, Rendy secepat kilat menyambar tubuh Elena. Kembali menjatuhkan tubuh Elena diatas ranjang. Kedua pasang mata itu saling beradu pandang. Degup jantung yang seolah kembali lari maraton membuncah bak air yang mengalir. Keduanya saling mengunci tatapan mata itu. Membiarkan nada-nada cinta mulai bersemi diantara keduanya.
"Pa-paman," panggil Elena dengan lirih. Tenggorokannya terasa tercekat. Kembali Rendy mencondongkan tubuhnya dan segera menempelkan kembali bibirnya di bibir ranum milik Elena. Untuk sejenak Elena tersentak. Namun pada akhirnya gadis itu mulai terhanyut pada ciuman Rendy yang lembut. Tak lagi ada penolakan. Bhkan selanjutnya Elena mulai memejamkan kedua matanya. Mencoba meresapi rasa yang disalurkan oleh ciuman itu. Setelah dirasa cukup lama, akhirnya Rendy melepaskan agutan lembut itu. Kemudian Rendy kembali memjatuhkan tubuhnya disamping Elena.
"Tidak bisa Paman. Nanti ayah dan bundamu mencekikku. Kita berdua belum menikah bukan? Jadi lebih baik aku kembali ke kamarku." Elena hendak bangkit. Lagi-lagi gadis itu terkesiap kaget saat Rendy memeluknya dari belakang.
"Tidurlah disini malam ini. Mereka seharusnya sudah tidur. Hanya malam ini saja. Aku berjanji tidak akan macam-macam."
__ADS_1
"Paman … Hari ini kau aneh sekali. Apa kau salah makan? Apa kepalamu sedikit terbentur? Apa kau sakit? Sehingga membuatmu sedikit merengek seperti ini?" tanya Elena bingung.
"Tidak! Ku hanya ingin kau menemaniku saja." Rendy semakin mengeratkan pelukannya.
"Baiklah. Aku akan menemaniku kali ini. Minggir, kau membuatku sesak nafas."
Elena dan Rendy pada akhirnya membaringkan kembali tubuh mereka. Sejenak keduanya serentak saling membisu. Menatap langit-langit kamar yang entah sejak kapan begitu menarik dipandang untuk keduanya. Keheningan yang terjadi dan malam yang kian merangkak naik, membuat kedua mata Elena berat. Untuk kesekian kalinya Elena menguap dan mencoba untuk tetap membuka kedua matanya. Sayangnya, hal itu hanya untuk beberapa detik saja. Detik berikutnya, gadis itu justru telah bermimpi indah.
Kita lihat besok. Apa kau benar Elena teman masa kecilku? Tetapi jika bukan, aku akan menendangmu keluar. Tak kusangka kau menyembunyikan hal begitu besar di belakangku. Kita lihat, apa tujuanmu masuk ke dalam hidupku.
Rendy menarik tiga helai rambut milik Elena. Elena meringis, swgera Rendy menutup kedua matanya. Saat merasa tak ada pergerakan apapun, Rendy segera bangkit berdiri dan menyimpannya kedalam sebuah plastik.
__ADS_1
Mari kita terus menyelidiki semua hal tentangmu, Queen.