
Brakkkkkk
Dion menggebrak meja. Gila!!
"Papa gimana sih calon mantu sendiri gak tahu namanya. Lalu kenapa nyuruh Dion Nerima perjodohan ini. Papa aja gak tahu namanya !!!"
"Dion yang sopan sama papa!!" Teriak Leon. Tapi tak bisa dipungkiri. Dia benar-benar bodoh. Malu.
Brakkkkk
Kembali meja makan digebrak kali ini Melinda yang memulai. Kedua pria itu terlonjak kaget. Gemetar-gemetar gemas Melinda mendengar dua pria berharga dalam hidupnya itu berdebat. Leon menggelengkan kepalanya.
"Sudah ayo makan." Ajak Leon mengakhiri perdebatan.
----
"Mas Ardan.... Gak kerja?" Tanya Ani.
"Hem...." Kembali meringkuk didalam selimut. Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Sudah waktunya bagi Ardan mandi sarapan dan kemudian berangkat ke kantor.
"Ayo mas.... Sudah siang...." Menarik selimut yang dipakai Ardan. Kembali tubuh itu meringkuk tanpa selimut setelah menggeliat pelan. Ani menggelengkan kepalanya.
"Mas Ardan !!!" Teriak Ani. Seketika Ardan bangun dari tidurnya. Mengucek pelan matanya. Mengumpulkan nyawa. Dilihatnya sosok wanita yang dicintainya. Memasang mode galak. Ditariknya seulas senyum. Merentangkan tangannya.
"Apaan sih mas cepetan bangun !!! Aku udah bikin sarapan buat kamu."
Ditinggalkannya Ardan begitu saja. Ardan berdecak kesal. Kemudian perlahan berjalan menuju kamar mandi.
Ani bergegas menuju ruang makan. Menata kotak bekal makan siang untuknya dan Monica. Sudah menjadi kebiasaannya. Sembari menunggu suaminya. Tak sengaja matanya menangkap seorang pelayan barunya. Gadis yang berwajah cantik. Berperawakan menarik. Dia ditempatkan khusus untuk mengurusnya. Segala keperluannya. Namun siapa sangka ternyata dia juga kuliah. Dia kagum pada sosok itu. Kemudian diambilnya kotak bekal yang lainnya, mengisinya.
"Agnes.... Ini bekal makan siang untukmu."
Agnes kaget. Dia hanya seorang pelayan. Pikirnya.
__ADS_1
"Saya ... Saya.... Tak pantas nona."
"Apanya? Ini buatmu aku buat banyak tadi."
"Tetap saja nona. Saya tak pantas." Menolak lagi secara halus.
"Terima saja. Bakalan lama nanti." Ardan membuka suaranya. Begitu mendapati perbedebatan kecil itu. Dia tahu siapa Agnes. Tak terkecuali. Memang ya orang berkuasa.
"Te... Terima kasih tuan nona." Gadis itu beranjak pergi. Terburu-buru. Dia sudah berpamitan sejak tadi. Sewaktu dia akan membangunkan Ardan.
"Nanti pulang jam berapa sayang?"
"Hem? Hanya ada satu mata kuliah saja mas. Nanti aku dan Monica bikin tugas setelahnya."
"Baiklah sayang. Nanti aku banyak kerjaan di kantor mungkin pulang agak malam."
"Iya mas aku gak bakalan nunggu kalau gitu."
Mereka makan dengan hening.
"Enggak mas nanti mas kelamaan kan muter jalannya sama kantor mas."
Diciumnya gemas bibir sensual istrinya.
"Nanti malam ya." Bisiknya.
"Apaan sih mas. Jangan aneh-aneh." Mencubit perut Ardan.
"Aku gak aneh sayang. Kamu itu suami sendiri dibilang aneh. Kualat Lo kamu."
"Hah.... Udah sana mas berangkat kerja. Aku nanti telat loh."
Kembali diciumnya bibir istrinya kali ini lebih lama. Dasar Ardan gak tahu tempat. Padahal banyak pelayan yang berada disana. Apalagi ada BI Inah dan pak Surya dia lebih malu lagi. Namun bagaimana lagi. Itu adalah kebiasaan rutinnya Ardan setiap pagi sebelum berangkat kerja.
__ADS_1
"Baiklah aku pergi dulu sayang. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam mas." Diciumnya punggung tangan milik suaminya itu. Dia tetap tenang menunggu mobil Ardan tak menampakkan bayangannya lagi. Setelahnya.....
"Astaga !!! Bakalan telat aku. Ayo pak Surya. Cepetan."
Sudah menjadi rutinitasnya. Gara-gara Ardan dia selalu akan terburu-buru pada akhirnya.
Semoga gak telat. Huh mas Ardan. Manjanya gak ketulungan. Tapi kalau sama orang lain waduh seremnya minta ampun. Kayak singa.
Ani bergidik ngeri membayangkan drama tadi malam. Benar-benar memalukan. Pikirnya.
Begitu mobil sampai di parkiran kampusnya. Ani kembali menangkap pemandangan membahagiakan didepan matanya. Ditariknya seulas senyum.
Monic aku berbahagia untukmu.
Sesaat dia melangkah kan kakinya. Kemudian sejurus kemudian langkahnya terhenti. Senyum yang beberapa detik yang lalu menghiasi bibirnya kini lenyap seketika.
Johan. Batinnya kesal. Menggeram marah.
"Ani. Kenapa melihatku kau tak senang begitu?" Sorot matanya pria itu sendu.
Lagi. Tanpa ekspresi. Pemandangan itu tak sekali dua kali didapatnya. Johan hafal betul sosok didepannya itu.
Memutar bola matanya. Jengah. Sapaan tak penting itu benar-benar membuatnya mual. Apa mengganggunya kini menjadi hobi baru untuk Johan.
"Apa lagi?" Tanyanya sinis.
"Ani.... Minta maaf."
Mencoba menangkap sepatah kalimat yang dilontarkan Johan. Apa lagi maksudnya.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku minta maaf untuk sikapku yang dulu."
"Apa alasanmu? Sudahlah. Jangan menggangguku."