
"Tergantung, jika keadaan memaksaku kembali kemasa laluku maka aku akan kembali. Jika tidak ya tidak," ucap Ardan begitu santainya. Padahal laki-laki dihadapannya sedang menahan amarah. Karena anak kesayangannya lebih memilih untuk keluar dari rumah dan menjadi seorang yang biasa. Tanpa embel-embel Anggara dibelakang namanya.
Sebastian menghela nafas berat. Seakan permasalahannya selama ini belum menemukan titik terang.
"Anakku bersikeras untuk tetap berada disamping istrimu,"
"Aku tau . Anda tenang saja aku akan memastikan dia baik-baik saja. Lagi pula istriku benar-benar menyukai Agnes. Aku tak akan mempermasalahkannya,"
Tiba-tiba Bastian teringat sesuatu. "Apa kamu punya teman bernama Dion?"
Ardan menautkan kedua alisnya. Ekspresi bingung menghiasi wajahnya.
"Aku tak tau yang anda maksud Dion siapa? Yang jelas sahabatku Dion Leonardo."
"Ternyata dunia sempit sekali ya?" Ucap Bastian kemudian suara tawa yang nyaring terdengar sangat jelas. Sedangkan Ardan masih kebingungan tanpa tau jawabannya
💞💞💞
"Nona muda kenapa?" Tanya Agnes.
"Entahlah tiba-tiba kepalaku pusing. Apa kelihatan sejelas itu?"
"Wajah anda pucat nona," dengan cepat Agnes segera memapah nona mudanya. " Pak Surya kita kerumah sakit ya,"
"Baik nona," pak Surya segera mengemudikan mobilnya. Mobil segera melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota yang saat ini tengah padat lalu lintas. Sesekali matanya melirik nona mudanya di belakang. Wajah pucat nan letih itu hanya pasrah. Biasanya dia akan menolak. Dan Agnes duduk dengan setia disampingnya tanpa sepatah katapun.
Kini mobil memasuki halaman rumah sakit terbesar dikota J. Dengan segera Agnes membuka pintu mobil setelah mobil itu berhenti. Memapah Ani dengan sangat hati-hati.
"Pak Surya jangan bilang mas Ardan dulu ya. Takutnya dia masih sibuk. Nanti kalau aku ada apa-apa aku bakalan kasih kabar dengan segera kok. Aku takut nanti malah mas Ardan tambah khawatir sama aku terus ninggalin kerjaannya," kata Ani memberikan instruksi.
"Baik nona muda," kembali membungkukkan setengah badannya. Agnes kembali menggiring nona mudanya memasuki rumah sakit. Raut muka Agnes nampak gelisah dan cemas. Inilah pertama kalinya Ani melihat ekspresi dari gadis dingin itu.
__ADS_1
"Kenapa nona muda tersenyum? Apa ada yang salah dari wajah saya?"
"Haha bukan. Ternyata kamu bisa cemas juga ya,"
"Tolong nona perhatikan diri anda sendiri dulu. Saya bahkan sangat takut nona muda kenapa-napa,"
"Baiklah.... maaf ya aku sudah bikin kamu dan pak Surya khawatir,"
Memasuki ruang pemeriksaan dokter umum. Begitu namanya sudah dipanggil. Segera Ani mendudukkan bokongnya dihadapan dokter muda itu.
"Permisi, selamat siang. Dengan nyonya Ani?"
"Benar dok," Ani melirik hanstag name "Joy Adinata".
"Baiklah. Apa keluhan anda nyonya?"
"Saya tiba-tiba pusing dok,"
"Tidak dok. Tapi akhir-akhir ini badan saya sering banget capek,"
"Baiklah saya akan periksa nyonya. Silahkan berbaring,"
Beberapa saat kemudian......
"Sepertinya nyonya tak perlu khawatir," ucap dokter Joy.
"Ada apa dengan nona muda saya dokter?" tanya Agnes. Dokter Joy tersenyum.
"Ini kabar bahagia kok. Selamat nona anda hamil !! Usia kandungan anda memasuki empat Minggu,"
"Hah? Alhamdulillah," mata Ani berbinar-binar. Kebahagiaannya kini lengkaplah sudah. Begitu pula dengan Agnes. Diapun segera memeluk nona mudanya.
__ADS_1
"Selamat nona !! Anda akan memiliki anak lagi. Rumah pasti akan sangat ramai,"
"Terima kasih Agnes, terima kasih,"
"Baiklah saya akan memberikan vitamin untuk anda nyonya. Agar janin yang anda kandung semakin sehat,"
"Tapi saya heran dokter kenapa saya gak mual? Dan lagi saya gak ngidam,"
"Benarkah? Apa suami anda yang mengalami ngidam?"
"Maksud dokter?"
"Begini nyonya terkadang kalau istri yang hamil bisa saja suami anda yang mengalami ngidam. Jika anda memang tak mengalami ngidam,
"Saya tak tahu pak tapi yang jelas suami saya sikapnya aneh belakangan ini. Suka nempel-nempel nyium bau rambut saya padahal kami memakai shampoo yang sama,"
"Nah itu termasuk nyonya, silahkan nyonya resepnya. Silahkan anda tebus di bagian administrasi dan menyelesaikan pembayarannya,"
"Terima kasih dokter,"
Ani dan Agnes pun beranjak keluar dari ruangan dokter itu.
"Nona tunggu disini saja biar saya membayar dulu,"
"Gak apa-apa aku ikut kamu juga,"
"Tapi wajah nona muda benar-benar pucat loh. Sudah nona jangan membantah oke?"
Ani menganggukkan kepalanya, kemudian Agnes segera berlalu.
"Ya Allah.... terima kasih sudah memberiku kebahagiaan ini. Rendy, kamu sebentar lagi punya adik," Ani mengusap perutnya yang masih rata. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan muncul. Dengan cepat membungkam mulutnya dengan sapu tangan.
__ADS_1
"Mmmmm emmm," matanya melotot begitu melihat sosok yang tak dikenalnya. Dan seketika itu juga dia pingsan.