Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 412. Aksi


__ADS_3

Di sisi lain, Yanzi dan Nathan mendadak gelisah. Dua orang yang sangat irit berbicara itu hanya mengamati keadaan sekitar dengan perasaan yang entahlah. Dari semua mimik wajah kedua orang itu, Sabrina dapat menyimpulkan jika ada yang tengah mengganggu perasaan mereka.


"Nathan, aku gelisah sekali. Apa terjadi sesuatu di rumah itu?" bisik Yanzi.


"Aku lihat ponselku dulu," lirih Nathan.


Pria itu lalu membuka ponselnya. Benar saja, ada pesan yang mengisyaratkan keadaan di rumah sedang tak kondusif. Terjadi penyerangan tiba-tiba. Seketika mimik wajah Nathan berubah pias. Rasa gelisah itu ternyata berasal dari rumah yang tidak beres.


"Sepertinya kita harus pulang," bisik Nathan.


Dua pria itu berjalan mendekati Lexi yang sedang berbicara dengan Sabrina. Sekalipun gadis itu hanya menanggapi kata-kata Lexi dengan acuh, tetapi Lexi tak mempermasalahkannya.


"Lexi, aku dan Yanzi pulang dulu. Maaf ya, kami tidak bisa lama berada di sini," kata Nathan. Pria itu melirik ke arah Sabrina. Gadis itu tersenyum sinis ke arah Nathan. Seketika membuat Nathan mengepalkan kedua tangannya.


"Kenapa kalian terburu-buru?" tanya Lexi heran. "Ini acaraku lo. Acara penting. Kenapa pulang mendadak? Bahkan acara belum selesai."


"Maaf, Lexi. Tapi kami harus pulang segera. Ada masalah sedikit di rumah," sela Yanzi.


"Masalah di rumah? Kenapa mendadak? Em, apa di rumah sedang berantakan?" ejek Sabrina.

__ADS_1


Mendengar kata-kata dari Sabrina Yanzi dan Nathan menatap tajam sosok Sabrina. Mereka berdua mulai curiga jika itu adalah ulah Sabrina.


"Mamaku sedang sakit, Lexi. Mungkin, ia terlalu lelah. Maaf, ya. Aku pulang dulu," pamit Nathan kepada Lexi. Mengabaikan kata-kata Sabrina yang berbicara dengan ketus.


Sabrina yang sudah tak tahan lagi, segera melepas rok panjang menjuntai hingga ke lantai. Terlihat Nathan dan Yanzi mulai beranjak dari tempat mereka berdiri. Lexi dan Artur melebarkan kedua mata saat mendapati ulah Sabrina. Gadis itu berjalan cepat ke arah Yanzi dan Nathan. Segera melayangkan satu kaki yang masih mengenakan hells runcing. Entah bagaimana, tetapi Yanzi segera menepis kaki Sabrina dengan sigap. Menimbulkan seringai licik di bibir Sabrina.


"Kenapa kau menyerang kami?" tanya Yanzi dengan angkuh.


Sabrina tak menjawab. Melainkan melayangkan tinjuan ke arah perut Yanzi. Tanpa disadari Sabrina, Nathan juga melayangkan satu tinjuan ke arah Sabrina. Beruntung Artur tepat waktu. Dia menarik perut Sabrina ke belakang. Sehingga pukulan Nathan hanya mengenai udara. Sedangkan Yanzi terjungkal karena pukulan Sabrina


"Sabrina, Artur, ada apa dengan kalian?" teriak Lexi.


"Sabrina, jangan ngaco kamu! Mereka temanku!" kilah Lexi.


"Rumahmu sudah kami jarah. Sekarang, kita saling menyerang atau kalian berdua memilih untuk mati?" Suara Sabrina terdengar mengerikan di telinga para orang awam. 


Artur mulai mengeluarkan senjata api revolver berkaliber 22 memberikannya kepada Sabrina, begitu pula dengan Sabrina. Gadis itu mengeluarkan senjata api dari balik roknya yang tersembunyi di paha mulusnya. Kini di kedua tangan Sabrina terdapat dua senjata api. Tampaknya, Yanzi dan Nathan juga mulai terprovokasi. Dua orang itu mulai mengeluarkan senjata api. Membuat semua para tamu undangan panik seketika. Begitu pula dengan Lexi. 


Ia tak menyangka, jika Sabrina dan Artur sudah mengincar dua orang temannya. Yang lebih menyejutkan, Artur melepaskan jas mahal miliknya dan menampilkan di punggung Artur terdapat senjata laras panjang. Pantas saja tubuh Artur sedikit aneh. Begitu pikirnya.

__ADS_1


Suasana kembali menegang. Yanzi dan Nathan mulai menarik pelatuk senjata api mereka. Begitu pula dengan Sabrina dan Artur. Mereka mulai beradu tembak dengan Yanzi dan Nathan. Semakin memperkeruh suasana yang ada.


Dari barisan para tamu, Julia telah bersiap. Ia mengevakuasi para tamu undangan agar tak menjadi korban dalam kejadian baku tembak tersebut. Begitu pula dengan para bodyguard Lexi. Mereka mengamankan Lexi sang pewaris perusahaan Dirgantara ke tempat yang aman. Para tamu undangan dikumpulkan di suatu tempat. Begitu pula dengan Lexi yang juga memasuki ruangan tersebut.


"Kau siapa?" tanya Lexi. 


Ia mendapati satu gadis dengan ekspresi datar. Ditambah dengan satu senjata api laras panjang di tangannya. Tak hanya itu, gadis itu memakai celana hotpants sepaha berwarna hitam dipadu dengan kaos hitam bermodel crop yang menampakkan perutnya yang putih dan bersih. Rambutnya yang panjang ia kuncir kuda. Begitu menawan di kedua mata Lexi. Rasanya ia melihat sosok Sabrina dalam wajah yang lain.


"Aku ditugaskan oleh Nona Sabrina untuk menjaga kalian. Sekalipun aku harus mati. Itu tidak masalah untukku. Jadi mohon kerjasamanya, Tuan. Jangan membuatku gagal dalam bertugas. Jika kalian menurut padaku, aku bisa memastikan keselamatan kalian," papar Julia.


"Em, begitu?" Lexi melirik wajah yang datar itu. Pria itu mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya. Lanjut Lexi, "Namamu siapa, Nona?"


Hening. Gadis itu masih menatap Lexi dengan wajah yang datar. Seolah enggan untuk menjawab. Gadis bernama Julia itu hanya mengedipkan kedua matanya berulang kali. Terlihat Lexi mengalihkan pandangan karena kecewa. Sungguh itu adalah suatu penghinaan untuknya.


"Tidak Sabrina, tidak gadis itu. Mengapa mereka berdua sangat berbeda dengan para gadis pada umumnya?" Lexi membatin kesal.


"Nama saya Julia. Jika Anda tak percaya padaku, silahkan Anda bertanya kepada Nona Sabrina. Saya tak berbohong," tandas Julia.


Diam-diam sudut bibir Lexi tertarik. Cukup mengesankan di kedua mata Lexi. Tapi senyuman itu menghilang. Bersamaan dengan pikirannya yang kini tertuju kepada Sabrina.

__ADS_1


"Sabrina, bagaimana keadaanmu? Kuharap kau baik-baik saja. Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi di sini. Tapi, kuharap kau kembali dengan selamat," batin Lexi.


__ADS_2