Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 360. Ahli Racun


__ADS_3

Tenggorokan William terasa tercekat. Melihat pemandangan yang ada di layar monitor, William tak lagi mampu menopang tubuhnya. Dengan kedua matanya sendiri, ia bisa melihat Sabrina tanpa merasa takut membunuh musuh-musuh mereka. Bukankah negara ini memiliki aparat negara? Apa ia tidak takut akan dipenjara? Deru napas William memburu.


"Ini … Seperti mimpi," lirihnya.


Di sisi lain, Sabrina meninggalkan musuh yang tewas. Dalam diri mereka, sudah tidak bisa diandalkan. Gadis itu melajukan skateboard menuju ke tempat sebelumnya. Di mana dua penyusup itu Sabrina biarkan masih bernapas. Akan tetapi, wajah Sabrina memucat tatkala mendapati dua sosok itu telah terkapar dengan mulut yang berbusa.


"Aku tidak salah memberikan jarum untuk mereka. Jarum akupuntur untuk mereka ujungnya telah aku lumuri dengan obat bius. Aku menempatkan dua jarum yang bertolak belakang itu di kantung yang berbeda." Sabrina mengamati dua tubuh yang teronggok di lantai.


Hidung Sabrina mengendus campuran racun yang menguar dari mulut mereka yang berbusa. Bau racun itu sedikit berbeda dengan miliknya. Tentu saja karena miliknya obat bius. Sabrina mencoba menajamkan hidungnya. Lalu Sabrina mengeluarkan sarung tangan. Memakainya dan menggunakannya untuk dua orang yang terkena racun.


"Benar-benar organisasi terorganisir. Mereka berani membunuh diri mereka sendiri." Sabrina menghembuskan napas berat. 


Merasa sia-sia, ia pun bangkit. Kemudian Sabrina meutkan kembali tali rock climbing ke harness body yang masih menempel di badannya. Dinilai aman, Sabrina bangkit dan melompat keluar jendela. Membiarkan dua tubuh yang tak berguna itu begitu saja. Nanti akan ada beberapa anak buahnya yang akan membawa dua tubuh itu untuk menjadi makanan singa dan harimau milik Rendy.

__ADS_1


Sabrina terus berjalan menyusuri dinding perusahaan. Roki mengerti tali yang digunakan Sabrina telah bergerak, menandakan Sabrina telah kembali. Roki melirik William yang terpaku di tempatnya dengan wajah yang pucat pasi. Mengerti William syok, Roki menarik tali yang digunakan oleh Sabrina menggunakan mesin. Sehingga tak lama kemudian, Sabrina telah sampai di rooftop.


Roki menatap Sabrina dengan tajam. Lalu melirik ke arah William yang masih syok. Julia telah melepaskan harness body yang dikenakan oleh Sabrina. Gadis itu segera mendekat ke arah William.


"Uncle kaget?" Suara Sabrina menyentak William. 


Pria itu berdiri dengan raut wajah yang tak bisa Sabrina mengerti. William menganggukkan kepala. Masih dengan kebisuan, William menatap Sabrina seolah meminta jawaban.


"Kenapa harus aku dan Artur?" suara William terdengar serak di telinga Sabrina. "Kau membunuh mereka.


"Ya. Itu sudah biasa. Atau, kau merelakan dirimu terkubur di perusahaanmu ini? Lalu masa depan Artur? Anak dari perjuangan istrimu yang bahkan tak memperdulikan nyawanya melayang. Ini bukan salahmu ataupun aku. Ini adalah hukum di dunia kegelapan. Musuh bukan orang biasa." Sabrina menghentikan kata-katanya.


"Roki, benar dugaan kita. Mereka bukan dari kalangan organinsasi biasa. Akan tetapi organisasi hitam yang bergerak sebagai pembunuh bayaran. Enam orang kapten itu telah mengurus mayat musuh. Kirim satu orang kepercayaanmu, untuk mendeteksi jenis racun ini." Sabrina menyodorkan satu plastik sample racun yang didapatnya dari tubuh musuh.

__ADS_1


"Racun?" Roki menatap Sabrina bingung.


Sabrina mengangguk. "Dua orang yang hanya kubius, mereka memilih bunuh diri dengan menggigit racun yang mereka sembunyikan di dalam mulut mereka. Bukankah itu terlalu keji? Jika mereka gagal melaksanakan tugas, maka mereka harus membunuh diri mereka sendiri."


William tersentak kaget. Mendapati kenyataan musuh sangat kejam. Pria itu mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Menelisik Sabrina yang tengah terdiam seolah sedang berpikir.


"Apa Anda tak bisa menebaknya? Bukankah, Anda juga ahli racun?" Suara Julia yang tiba-tiba ikut bergabung.


Sabrina mengendikkan kedua bahunya. "Ada banyak definisi racun di dunia ini. Aku hanya melihat separuhnya. Sedangkan di dunia ini, ada banyak jenis racun yang tersebar di berbagai belahan dunia."


Roki menghela napas. "Kapan Anda kembali ke markas? Bukankah seharusnya Anda memperkenalkan diri Anda kepada para pasukan?"


Sabrina mendelik ke arah Roki. Di depan mereka ada William yang juga tengah mendengarkan pembicaraan. Bagaimana jika William bertanya tentang pasukan itu? Sabrina panik luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2