Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 158


__ADS_3

"Kenapa paman sepagi ini sudah disini?"


"Maaf Ardan kudengar Rianna sudah bangun, jadi paman segera kemari," Smith mengatakannya dengan sangat berhati-hati.


"Kau..." belum sempat Ardan meneruskan kata-katanya perutnya sudah diaduk. Dengan cepat dia segera berlari menuju kamar mandi. Seperti biasa morning shickness kembali menderanya kala pagi hari menyapa.


Smith menatap kepergian Ardan. Setelahnya dia menatap tubuh seorang gadis yang tergolek lemah di ranjang pasien. Gadis itu masih dengan mata yang terpejam. Namun tidak ada alat yang membantunya. Sepertinya keadaannya lebih baik dari dua hari yang lalu. Smith berjalan mendekati ranjang pesakitan itu. Tangannya bergerak ingin membelai wajah anaknya yang penuh dengan lebam. Hatinya sakit, bila mana mengingat semua itu karena ulah tangannya yang lepas kendali.


Saat tangan Smith sudah di udara. Terlihat kedua kelopak mata Rianna bergerak. Seolah gadis itu mulai terusik dengan cahaya sinar mentari dari balik jendela kaca di ruangannya. Saat kedua mata itu terbuka sempurna, kedua matanya menangkap sosok yang membuat tubuhnya bergetar hebat. Matanya melebar. Tubuhnya mulai mengejang. Smith tersenyum melihat anak gadisnya mulai membaik.


Rianna yang melihat sebuah tangan hendak menyentuhnya, dengan segera dia menepis tangan itu dengan kasar. Senyuman di bibir Smith lenyap. Berganti perasaan bingung dan mulai resah mendapati penolakan Rianna.


"Pergi!" nafasnya tiba-tiba sesak. Jangan lupakan dadanya yang mulai naik turun. Semakin lama semakin parah. Keringat dingin mulai menetes. Tubuh Riana memberikan reaksi yang berlebihan. Smith mulai panik tak kala melihat tubuh Rianna mengejang.


"Pergi! Papi mami! Tolong aku takut," teriakan Rianna membuat semua orang segera membuka mata. Nico panik dengan segera mendekat kearah Rianna. Melihat tubuh Rianna yang mengejang.

__ADS_1


"Papi! Aku takut," Rianna semakin menjadi. Tangannya sesekali menjambak rambutnya. Rianna menunjuk Smith dengan jari telunjuknya. Membuat Nico segera mengarahkan pandangannya kearah Smith. Laki-laki itu juga sama paniknya dengan dirinya.


"Pergi!! Jangan ganggu aku!" air mata kini mulai membanjiri wajahnya.


"Ri, kamu kenapa?" Monica dan Ani mendekati ranjang pesakitan Rianna. Masih sama Rianna kejang. Tapi mulutnya tak berhenti meminta Smith untuk pergi.


Monica segera memencet tombol darurat. Gretha semakin kalut. Dia teringat keadaan Rianna di masa lalu.


Tolong jangan terjadi lagi. ucap Gretha dalam hati. Air mata Gretha semakin mengalir deras. Fikirannya melayang akan masa lalu Rianna yang sudah tertutup rapat.


"Apa yang terjadi?" tanya Ardan.


"Entahlah!"


"Tidak! Sakit..huhuhu sakit mi. Keluar kamu! Jangan. Tolong! A.aaaa mana kalung liontin ku! Kembalikan!"

__ADS_1


"Ri, tenang dulu oke?" Ardan mengusap lembut puncak ubun-ubun Rianna.


"Kak! Dia mengambil kalungku. Pencuri itu. Dia mengambil kalung liontin batu rubyku," tangan Rianna kembali menunjuk Smith. Wajah laki-laki itu mengejang.


Ya Allah...sungguh berdosanya aku. Kenapa dulu aku sempat cemburu dengan Rianna. Ani semakin tak tega melihat keadaan Rianna.


Apa yang terjadi? Kenapa Rianna histeris begini? Kalung? Kalung apa? Monica menatap wajah Kevin. Laki-laki itu tak mengeluarkan sepatah katapun.


Rianna semakin histeris. Nico,Gretha, Ani dan Monica memegangi tubuh Rianna. Gadis itu mulai berontak. Tubuhnya menggeliat kasar di ranjang pesakitan.


Beberapa menit kemudian dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan Rianna.


"Tolong kalian keluar dulu,"


Mereka semua segera keluar. Ardan menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu. Kepalanya dia sandar ke tembok sebagai sandaran. Matanya terpejam. Mengingat kembali masa lalu kelam Rianna.

__ADS_1


__ADS_2