
"Amelia! Bersikaplah yang sopan!" seru Sabrina.
Bukannya menjawab, Amelia malah membuang wajah. Membuat William memaksakan sebuah senyuman. Tanpa sengaja, kedua iris mata abu-abu William menangkap sosok angkuh di ujung tangga. Senyum di bibir William lenyap digantikan wajah pias.
Pria yang masih berumur 25 an tahun itu menyorot tajam William. Dengan santai, pria muda nan tampan itu turun dari tangga tanpa melepaskan pandangannya ke arah William.
"Oh, kak Steward!" Sabrina melambaikan tangannya.
Nihil. Pria yang dipanggil Steward itu masih tanpa ekspresi apapun. Ia tetap menyorot William dengan tajam. Steward duduk di sebuah sofa di dekat Amelia. Masih dengan tatapan menghunus. Sabrina yang melihatnya, mencebikkan bibirnya. Sudah menduga, Steward akan bertingkah angkuh.
__ADS_1
"Apa ini pilihanmu, Sabrina?" tanya Steward.
"Benar." Sabrina tak mampu lagi berkata-kata. Tatapan mata Steward seperti mengulitinya.
"Duda dengan satu anak. Belum genap satu bulan, pernikahanmu tertimpa masalah? Ini bukan masalah sepele. Kau tahu seberapa besar kemungkinan dari mana musuhmu itu berasal?" ejek Steward.
Tubuh William menegang. Kata-kata dari putra sulung keluarga Rendy Saputra Wijaya, begitu tegas dan angkuh. Terlalu pedas dan menusuk hati. Terlebih, sorot mata Steward begitu nyalang. Menegaskan siapa Steward yang sesungguhnya. Pria tampan yang memiliki rahang yang kokoh dan tegas, ditambah dengan sikap angkuh dan dingin membuat sosok Steward benar-benar terdidik luar biasa.
"Steward." Rendy kali ini bersuara.
__ADS_1
Membuat semua orang menoleh ke arahnya. Rendy memperbaiki posisi duduknya di sofa tunggal. Elena yang memahami wajah serius Rendy, segera bangkit dari sofa panjang. Wanita berusia paruh baya itu menjatuhkan bokongnya, di pinggiran sofa yang ditempati oleh Rendy. Meski Elena mengukir senyuman, tapi senyuman itu terlihat sinis di kedua mata William.
"William, aku yakin kau bingung di situasi ini bukan?" tanya Rendy. William menganggukkan kepala dengan cepat. Lanjut Rendy, "Aku mendidik anak-anakku dengan keras. Mereka mendapatkan pengajaran yang berbeda dari anak kebanyakan. Aku sudah berulang kali mengatakan, Sabrina memiliki dua kunci. Aku tidak akan menjelaskan dua kunci secara terperinci itu. Akan tetapi, dua kunci di tangan Sabrina bisa menjadi bumerang untuk siapa saja musuhmu."
William terdiam. Pria itu dapat menyimpulkan jika dua kunci di tangan Sabrina adalah sesuatu yang besar yang bisa menyelamatkannya dari musuhnya saat ini.
"Tapi, Rendy. Aku tidak tahu siapa musuhku. Sabrina sudah mencarinya, dan tidak dapat menemukannya. Jasad dari korban kekejian orang asing itu, begitu mengerikan. Aku yakin dia memiliki kekuasaan yang besar," tutur William gelisah.
"Dua kunci di tangan Sabrina, memiliki kekuasaan yang lebih besar. Kedua anakku yang lainnya, bahkan tidak memilikinya. Gunakan dua kunci itu di saat genting. Lalu untuk kau, Amelia. Kuharap kau bisa membantu Sabrina untuk mencari tahu data musuh dari kakak iparmu. Bukankah itu sangat mudah untukmu, Amelia? Maka, bantulah saudaramu. Sedangkan untuk kau, Steward. Jangan membuat masalah. Kau sudah bebas dari beban yang seharusnya kau tanggung. Aku tidak mungkin menjelaskan beban apa itu bukan?" Rendy tersenyum menyeringai. Ia berhasil menohok hati putranya yang angkuh.
__ADS_1
"Aku menjadi malu pada Sabrina dan keluarga ini. Aku ini bukan siapa-siapa. Bocah kecil bernama Amelia, bahkan bisa menjadi IT terhebat saat ini. Padahal, Sabrina bagiku sudah terlalu hebat. Tak kusangka, di atas langit masih ada langit. Seharusnya aku sadar diri," batin William.