
Dua minggu kini telah berlalu. Dengan rambut yang basah Sabrina segera mengeringkannya dengan hairdryer. Gadis itu masih saja bernyanyi dengan santainya. Tanpa menyadari dari balik buku seorang harimau sudah tak sabar ingin menerkamnya. Terlebih, orang itu telah berpuasa untuk waktu yang lama. Saat ini bisa diibaratkan ada seekor kucing yang sedang mengintai ikan asin.
Bugh!
"Honey! Apa-apaan kau? Lepaskan aku! Kau kenapa?" Sabrina berusaha memberontak. Kacau.
Ia lengah. Saat merasa tidak ada William, Sabrina lepas kendali. Gadis itu hanya memakai handuk kimono saja yang melekat di tubuhnya. Ia telah lupa, jika ada kucing kelaparan yang sedang menantikannya.
Dengan segera, William menarik dasinya lalu mengikat kedua tangan Sabrina di ujung ranjang. Membuat Sabrina tak mampu bergerak. Kedua tangan kekar milik Willam membuka paksa handuk kimono milik Sabrina. Kini terpampanglah dua gunung kembar yang begitu mempesona yang masih tertutup bra berwarna merah dengan renda-renda yang indah.
Sejenak William menatap tubuh Sabrina yang hanya mengenakan dalaman. Karena Sabrina terus saja memberontak dan berteriak, William segera mengambil lakban dan segera menutup mulut Sabrina. Gadis itu membulatkan kedua matanya. Alhasil raungan Sabrina perlahan menghilang. Sabrina memicingkan kedua matanya. Terlihat, kedua mata William memerah. Seperti sesuatu menguasai kesadaran pria itu.
"Aku ingin lihat. Setelah aku membuatmu hamil, apakah kau masih memiliki niatan untuk kabur dariku atau tidak. Lalu, Honey. Ingatlah aku telah berpuasa untuk waktu yang lama. Kini kau harus menerima hukuman dariku." Senyum menyeramkan terbit di wajah William. Membuat Sabrina menggelengkan kepalanya.
William mulai bergerak membuka cd milik Sabrina. Meskipun gadis itu menendang-nendang sekalipun, William pada akhirnya mampu melepaskannya. Kembali dengan sekali sentak, bra yang dikenakan oleh Sabrina telah terlepas dari dua buah gunung kembarnya.
Kini terpampanglah dengan sempurna penampakan yang sangat indah di mata William. Begitu pula dengan bagian bawah milik Sabrina. Berbulu tipis dan tampak menggoda bagi kejantanan William.
"Aku akan memuaskanmu hari ini. Agar kau tidak akan berani lagi memiliki niatan untuk membantahku." William mulai bersemangat. Pria itu seakan tidak akan memberikan ampun kepada Sabrina.
William bergerilnya mencumbu setiap inchi dari tubuh milik Sabrina. Entah mengapa tubuh mungil itu benar-benar membuatnya candu. William menggigit kulit seputih susu itu untuk meninggalkan tanda kepemilikan. Setelah puas dengan semua hasil karyanya kini dirinya mengecup ujung dua gunung kembar milik Sabrina. Sama dengan sebelumnya, William meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
Beberapa saat William membuka paha mulus milik Sabrina. Gadis itu semakin berontak. Tetapi entah mengapa bagi William justru menambah hasrat kelelakiannya. Dengan sigap William mengunci dua paha mulus itu hingga tak memberikan Sabrina kesempatan sedikitpun untuk memberontak. Yaitu dengan mengikat kedua kaki jenjang milik Sabrina.
"Aku akan bermain, Sayang. Aku benar-benar tak bisa lagi berada jauh darimu. Kau juga sudah membuatku puasa selama dua minggu lamanya," suara William terdengar serak. Tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, William memainkan lidahnya di bagian inti mahkota Sabrina. Sesekali William juga menghisapnya perlahan. Awalnya Sabrina memberontak. Tetapi entah bagaimana gadis itu mulai menggelinjang penuh kenikmatan.
William yang sudah tak sabar pada akhirnya mengeluarkan senjata keris miliknya yang telah tegak berdiri. Dengan secepat kilat, William segera memompa tubuh dari Sabrina secara perlahan. Awalnya William melakukannya pelan-pelan, namun seperkian detik berikutnya lelaki itu semakin mempercepat ritmenya. Sembari sesekali memberikan kecupan di wajah dan tubuh Sabrina.
Sabrina melirik jam di dinding saat William selesai menyusuri setiap inchi kulit miliknya. Masih jam 2 pagi dini hari? Meski dalam keadaan mengantuk, tetap saja membuat nafsu Sabrina semakin menggelora. Ingin mengelak, namun apalah daya. Keinginan Sabrina untuk mencapai puncak kenikmatan jauh lebih besar.
Begitu pula dengan William yang semakin berkeinginan memonopoli permainan. Gadis dibawah kungkungannya adalah hal yang sangat berarti untuknya. Karena gadis itulah yang membuatnya seperti jatuh cinta kembali saat ia masih muda. Baginya, Sabrina harus menjadi miliknya seutuhnya. Karena hanya Sabrina, yang saat ini selalu bisa memporak porandakan seluruh sendi kehidupannya.
"Aku benar-benar gila! Dia hanya gadis muda. Mengapa aku selalu ingin dan ingin untuk terus meminta kepuasan darinya? William, kau gila! Tapi terserahlah. Aku benar-benar ingin Sabrina menjadi istriku seutuhnya. Batin William dalam hati. Sejenak William menghentikan kegiatannya. Dilihatnya wajah Sabrina yang nafasnya mulai tersengal.
Setelah puas bermain, William berpindah posisi. Kali ini mengobrak-abrik bagian bawah milik Sabrina. Sekian lama, permainan kian panas dan menggila. William membuka bagian tengah dua paha milik Sabrina yang mulus. Kemudian menelusupkan masuk dua jari miliknya. Memaju mundurkan penuh dengan ritme dan irama yang semakin lama, semakin cepat.
"Ah. Honey, lebih cepat lagi!" tanpa Sabrina sadari, dia sudah meracau sedemikian rupa. Gadis itu telah meruntuhkan gengsinya. Keahlian William telah memperdaya Sabrina.
"Siap, Honey," kata William dengan sebuah senyum di bibirnya. Lelaki itu mempercepat ritme gerakan jarinya.
Pelepasan pertama telah Sabrina dapatkan. Belum sempat Sabrina mengatur nafasnya, William menghujam milik Sabrina dengan keris miliknya.
"Ah, Honey!" Pekik Sabrina sekali lagi.
"Aku akan memuaskanmu, Honey. Malam ini adalah malam yang panjang untuk kita berdua," ucap William dengan senyum seringai di bibirnya. Setelah keris miliknya telah masuk sempurna, lelaki itu mulai memaju mundurkan di inti milik Sabrina secara perlahan.
"Aah, Honey. Kumohon teruskan," desah Sabrina..
"Tenang saja, Sayang. Kau hanya perlu menikmatinya. Biarkan aku bermain. Ooohhh Sayang, milikmu sungguh enak. Kau masih sangat sempit." William meracau saat mendapatkan himpitan sempurna dari liang milik Sabrina.
__ADS_1
"Ah, Honey, kau orang pertama yang menyentuhku. Jelas saja ini masih sempit. Kau juga orang pertama yang membuatku gila, Honey," dengus Sabrina. Gadis itu bahkan memejamkan kedua matanya. Menikmati setiap hujaman dari keris William yang semakin lama semakin membuat Sabrina terbuai.
Gerakan William semakin lama semakin cepat. Lelaki itu tanpa lelah terus memompa tubuh dibawah kungkungannya. Mencoba menikmati surga dunia yang tak terbantahkan.
"Ohh, Honey, aku hampir sampai!" Sabrina menarik sprei putih saat dirinya mencapai puncak kenikmatan.
"Tunggu sebentar, Sayang! Sedikit lagi, ohh." lengkingan suara William menginterupsi. Pria itu bahkan memejamkan kedua matanya
Cairan kenikmatan milik William dan Sabrina kian menyembur di rahim milik Sabrina. Setelahnya William menjatuhkan dirinya di samping tubuh Sabrina. Kemudian William menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polos dirinya dan Sabrina. Keringat keduanya seolah membanjir.
Malam kian beranjak. Sang dewi malam semakin merangkak. Hawa dingin mulai terasa menembus tulang. Terkecuali dua sosok di sebuah kamar itu terus bergerilya melakukan kegiatan panas yang tiada henti. Seolah tiada hari untuk esok. Deru napas yang kian tak beraturan, peluh semakin membanjir tubuh keduanya. Seakan tak menjadi penghalang untuk menghentikan gelora hasrat yang kian membara.
Setelah puas melepaskan cairan hasrat, kedua netra biru milik Sabrina melebar seketika. Pasalnya William mengeluarkan cairan kenikmatan itu di dalam miliknya. Bisa saja membuat dirinya hamil. Namun dirinya bisa apa? Dirinya tak mampu menghentikan William yang terus bergerilya atas tubuhnya.
"Maaf, aku buka sekarang." William membuka semua ikatan yang membuat Sabrina terjerat. Hingga melepaskan lakban yang menutup mulut Sabrina untuk berbicara.
"Kenapa kau mengeluarkannya di dalam?" Isak tangis mulai terdengar dari bibir ranum milik Sabrina. Gadis itu meluapkan kekecewaannya yang mendalam.
"Ini semua karena kau mencurangiku," ucap William semakin membuat Sabrina terpojok. "Kau sudah sembuh dari beberapa waktu yang lalu. Tapi kau tidak mengatakannya kepadaku."
"Ho-Honey?" Saat Sabrina hendak mengatakan sesuatu, William segera memotong kalimat Sabrina.
"Kau tidurlah. Atau kau ingin menggodaku untuk melakukannya sekali lagi?" goda William yang membuat Sabrina mengerucutkan bibirnya.
"Tidak!" Segera Sabrina membalikkan badannya dan menutup tubuhnya dengan selimut bahkan mencapai ujung rambutnya. William tersenyum, di matanya sungguh Sabrina adalah gadis yang menggemaskan.
__ADS_1
"Tidurlah Honey, aku yakin kau lelah. Maafkan aku yang telah berlaku kasar kepadamu. Aku terlalu takut. Semoga saja benih itu segera tumbuh di dalam perutmu. Tak sabar aku, untuk segera memiliki anak darimu." William menggumam. Sebelum akhirnya pria itu juga membaringkan tubuhnya di samping Sabrina.
"Istirahatlah. Aku yakin kau lelah, Sabrina," kata William sembari memberikan kecupan di keningnya.