Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 25


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa ada di kota J?" Laki-laki itu memulai pembicaraannya.


"Bukan urusan kamu".


"Kau..!!!! Heh apa kau datang kesini karna kau masih mencintaiku?"


Hah? Kau gila kau itu si brengsek yang telah menghancurkan hidupku. Bagaimana mungkin aku masih bisa mencintaimu?


"Gak lihat aku disini bawa buku dan laptop?" Ani sudah geram mendengar laki-laki dihadapannya mengatakan bahwa dirinya masih mencintai laki-laki itu. Hanya orang bodoh yang mau mempertahankan cintanya yang jelas-jelas pasangannya seorang ******* seperti Johan itu. Ya ..... laki-laki itu Johan mantan suaminya 1 tahun yang lalu.


Terlihat laki-laki itu menautkan alisnya. Seakan menyelidik perempuan dihadapannya. Kini perempuan dihadapannya sudah tak seperti dulu lagi. Rambutnya tertata manis diikat keatas bersama dengan pita. Memakai celana jeans ketat warna biru dipadu dengan atasan yang sedikit girly. Kemudian sepatu kets berwarna putih. Jika orang lain yang melihatnya mungkin bisa mengira dia adalah seorang gadis. Karna meskipun dia telah melahirkan seorang putra tubuh Ani masih terlihat ramping. Ditambah wajah ayu serta kulit nan bersih.


Glekkk laki-laki itu menelan salivanya. Ternyata dia bahkan bisa lebih cantik dari pada intan. Cihhh. " Kamu nglanjutin kuliah? Disini?"


"Hem. Sudah ya aku gak akan ganggu hidup kamu lagi. Semoga kamu bahagia dengan intan. Permisi." Ani berlalu meninggalkan laki-laki itu.


Laki-laki itu masih menatap punggung Ani. Hingga menghilang diujung belokan.


"Aku yakin kamu masih mencintaiku." Kemudian senyum menghampirinya.

__ADS_1


Hari pertama di kampus berjalan lancar kini Ani mendapat teman baru.


"Kita tukeran whatsApp yuk". Monica teman barunya termasuk anak yang ceria. Dia melihat Ani pertama kali dan langsung bisa mengakrabkan diri dengannya. Ani memang pendiam jika tak ada yang menyapanya mungkin dia akan tetap diam.


"Boleh." Ani mengeluarkan iPhone miliknya.


"Wahhh ini kan keluaran terbaru." Ya Monica berasal dari keluarga yang biasa dia bisa masuk ke Universitas Gajah Mada karna dia lewat jalur beasiswa. Tentunya tak mudah melewati tes Uiversitas Gajah Mada karna kampus itu sangat terkenal dikota itu.


Jadi bisa dibilang Monica adalah gadis yang berprestasi. Selain berprestasi anaknya supel dan pandai bergaul. Maka dari itu begitu melihat Ani yang pendiam dia langsung menghampiri dan mengajaknya bicara. Mendengar perkataan Monica itu Ani hanya tersenyum pasalnya iPhone itu dibelikan oleh Ardan baru kemarin dia mengutak ngutik iPhone tersebut. Sekaligus dia tak begitu mengerti tentang iPhone. Jadi hanya bisa menjawab dengan tersenyum saja.


"Semoga kita terus bisa lebih dekat ya. Save nomorku. Jangan sampe gak disave."


" Iya. Makasih ya."


"Em... Udah mau jadi temenku."


Terdengar Monica menghembuskan nafas panjang.


"Kita bisa jadi sahabat. Kamu gak perlu bilang makasih karna gak ada yang aku lakuin buat kamu".

__ADS_1


"Tapi kamu mau temenan sama aku."


"Hahahaha kamu polos banget sih. Lagian cuma temenan gini kamu dari tadi bilang makasih."


"Karna kalau kamu gak ngajak aku ngomong mungkin aku bakalan gak ada temen bicara."


"Hmmmm iya deh ngeyel banget sih kamu. Eh habis ini gak ada jadwal lagi kan? Gimana kalau kita hangout. Yah itung\-itung buat ngrayain hari kita temenan." Monica tersenyum antusias.


"Tapi aku minta izin dulu ya? Kalau diizinin kita bisa pergi jalan-jalan".


"Oh oke." Monica mengangguk walaupun penasaran. Udah Segede ini masih harus minta izin sama bokap nyokapnya buat pergi bareng temen? Cara bicaranya juga masih kagok banyakan logat bahasa Jawa deh kalo gak salah mungkin karna itu temen - temen gak ada yang ngajakin dia gabung.


"Udah?" Tanya Monica pada Ani. Karna Ani tadi menelpon seseorang jadi agak menjauh saat menelfon.


"Katanya boleh." Ani tersenyum sembari mendekat kearah teman barunya.


"Yuk kita ke mall. Trus kita cabut ke cafe aja buat makan ya." Monica sangat bersemangat itu terlihat dari setiap tindakannya. Membuat Ani senang tentunya. Baru kali ini dia akan pergi jalan\-jalan bersama teman perempuannya.


Mereka berjalan beriringan. Keduanya berjalan Sambil bergandengan tangan. Seakan telah bersahabat lama. Senyum dan canda tawa tak lepas dari keduanya. Mungkin ini pertama kalinya bagi Ani semenjak tragedi itu. Dia baru bisa tersenyum dan tertawa lepas semua berkat teman barunya itu.

__ADS_1


"Hai ******...!!!!!"


 


__ADS_2