Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 448. Sabrina vs Anggi


__ADS_3

Sabrina mengatakannya dengan wajah datar. Gadis itu dilanda rasa kesal yang luar biasa. Ingin sekali Sabrina memaki Anggi. Sayangnya Sabrina tak melakukannya. Mengingat di sini ada Dante dan juga Ardi.


"Will, nggak baik lo biarin tamu di sini sendirian. Mending, biar dia cari makan sama anak kamu deh. Kita kan ada yang sedang dibahas. Untuk anak kecil macam dia mana ngerti tentang perusahaan?" Kata-kata bernada sindiran dan ejekan dari Anggi sukses membuat hati Sabrina dongkol.


Sabrina masuk ke ruangan tanpa bersuara apapun. Membuat William dan Artur sedikit dilanda panik. Gadis itu lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesaran milik William bersedekap di dada dan matanya menatap tajam ke arah semua orang.


"Lah ngapain di situ? Bukannya cari makan. Sok-sokan jadi boss. Harusnya kamu menikah dengan wanita yang memiliki karir, Wil. Siapa tahu suatu saat bisa membantumu di kala perusahaanmu ada masalah. Sedangkan anak kecil itu, dia bisa apa?" Anggi tersenyum sinis ke arah Sabrina yang masih berekspresi datar.


"Artur." Sabrina memanggil Artur. Membuat remaja itu berjalan ke tempat Sabrina berada.


"Ada apa?"


"Pesan makanan. Pizza, ayam geprek, salad dan jus. Kita makan di sini. Sisanya pesan sesukamu." Sabrina berbicara dengan nada ketus.


"Oke." Artur lalu menarik satu kursi. Remaja itu duduk di depan Sabrina. Melihat tingkah Sabrina, William berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Honey, ada apa?" tanya William. "Kenapa wajahmu pucat?" lanjutnya.


"Berikan laporan mengenai Xander Grup yang tempo hari terkena teror. Aku ingin lihat, sejauh mana persiapannya." Ucapan Sabrina dijawab anggukan kepala oleh William. Pria itu berjalan menuju rak di mana ia menyimpan berkas-berkasnya.


"Sok-sokan minta laporan perusahaan. Yakin bisa menganalisa?" ejek Anggi.


Sabrina menatap sekilas wajah Anggi. William pun menyerahkan berkas-berkas perusahaan utama Xander Grup. Sabrina menerimanya lalu membaca dengan seksama.


Tanpa menoleh, Sabrina berkata, "Panggil Julia kemari."


"Artur, bisa minta tolong?" pinta William.


"Ada apa, Nyonya?" Julia pun bertanya setelah ia berada tepat di depan Sabrina.


Mendengar suara Julia, Sabrina mengangkat wajah. "Apa ada yang mencurigakan dari semua investor perusahaan Xander Grup yang utama?"

__ADS_1


"Semua berjalan dengan semestinya, Nyonya." Julia menjawab dengan tegas.


Mendengarnya Sabrina menganggukkan kepala. "Jika ada yang berusaha membobol data perusahaan, kirim alamat email mereka padaku. Aku akan melacaknya. Kau boleh pergi."


Julia mengangguk. Gadis itu berjalan tegap keluar dari ruangan direktur. Hingga sebuah suara membuyarkan lamunan Sabrina. "Lucu banget sih. Ada orang yang sok berkuasa. Padahal dia hanya ingin diakui sebagai wanita karir. Huu, sendirinya bocah. Berlagak." Tanpa menatap ke arah sumber suara, Sabrina bisa memastikannya jika itu adalah suara Anggi. Sabrina pun menatap Anggi, Dante dan Ardi yang menyunggingkan sebuah senyuman.


Sabrina enggan menjawab kata-kata culas dari Anggi. Percuma saja jika diladeni. Toh orang yang memiliki hati busuk tidak akan bisa berpikir positif terhadap orang lain.


"Di mana dokumen-dokumen yang harus aku tanda tangani?" Sabrina mengulurkan tangannya.


William kembali bangkit dari duduknya. Pria itu lalu mengambil setumpuk berkas-berkas yang memang harus melewati tangan Sabrina. Hanya beberapa hari semenjak Alm. Ardan Wijaya meninggal dunia, Sabrina tak lagi menghandle pekerjaannya.


Sabrina mengamati semua berkas dari perusahaan yang dua bulan lalu mendapat teror. Kalian masih ingat bukan? Sebelum perusahaan itu beroperasi kembali, Sabrina harus memastikan semuanya bisa berjalan seperti biasa. Meskipun sangat jauh dari kata sempurna, setidaknya mereka tak akan mengalami hambatan yang berarti.


"Will, aku rasa seorang gadis belia tidak akan bisa menghandle sebuah perusahaan yang hampir bangkrut." Dante berbicara dengan nada meremehkan.

__ADS_1


William tersenyum. Ia lalu berkata, "Benar. Perusahaanku yang lama hampir bangkrut, sedangkan di sisi lain aku bisa mengakusisi dua perusahaan baru. Itu berlangsung dalam kurun waktu yang pendek, bukan? Menurutmu, siapa wanita hebat yang mendampingiku hingga aku bisa melebarkan Xander Grup?"


Sabrina melirik tiga orang yang wajahnya terlihat menegang. Artur sendiri memilih bangkit ketika Julia telah mengantarkan pesanannya.


__ADS_2