Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 444. Aretha dan Rasa


__ADS_3

"Sebenarnya, aku lelah. Seharian aku harus terkurung di satu ruangan yang selalu membuatku tak nyaman. Jujur, aku tak ingin berada di sini. Nyonya Elena, mama Sabrina yang begitu lembut dan tulus. Aku menyayanginya. Ingin berada di tengah-tengah mereka. Tapi, aku merasa tak pantas. Aku benar-benar iri dengan Sabrina. Dia memiliki kehidupan yang sempurna. Di mana semua orang ingin berada di posisinya saat ini." Aretha membatin.


Gadis itu kini menatap kosong di luar jendela. Ia merasai setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Sesekali ia memejamkan kedua mata. Hujan saat ini tengah mengguyur bumi. Di saat seperti ini, rasanya Aretha dalam suasana hati yang risau. Hingga suara pintu yang dibuka membuat Aretha menoleh.


"Halo, Sayang." Seorang wanita paruh baya yang baru saja dia pikirkan kini hadir di depan matanya.


Senyum merekah di bibir Aretha. "Tante!"


Elena memeluk Aretha. Lagi-lagi Aretha dengan antusias membalas pelukannya. Sekali lagi, Aretha berharap ini adalah pelukan yang diberikan keluarganya.


"Dokter bilang, keadaanmu sudah lebih baik?" tanya Elena. Dia melepaskan pelukannya.


"Iya, Tante. Kok Tante ke sini? Di luar kan hujan?" Aretha menunjuk suasana di luar jendela yang sedang hujan.


Elena tersenyum. "Pakai mobil juga tidak kehujanan. Em, Aretha rindu Sabrina tidak?"


Dengan cepat Aretha menganggukkan kepala, "Tentu saja. Tapi, Sabrina tidak menjengukku."

__ADS_1


"Iya. Sabrina sedang sibuk. Kamu mau ikut tante nggak?" Elena menawarkan diri.


"Ikut Tante? Maksudnya?" Kedua alis Aretha menukik tajam.


"Ikut tante keluar dari sini. Kamu tinggal dengan saudara tante. Oh sebentar. Alana?" Elena memanggil Alana. Saudara angkat Elena.


"Hai, Elena. Maaf, aku terlambat sekali. Anak laki-lakiku entah kenapa manja sekali hari ini," keluh Alana. Wanita paruh baya itu mendekat. "Oh, ini gadis yang kau ceritakan? Cantik sekali. Mau aku bawa pulang jadi anak mantuku boleh?"


"Hei!" Elena menepuk lengan Alana. Membuat wanita paruh baya itu meringis.


"Kata dokter sudah boleh dibawa pulang. Sisanya, bisa dirawat jalan. Jadi bisa keluar dari sini. Yah setidaknya dia tidak akan jenuh. Aretha?" Kini pandangan Elena beralih kepada Aretha.


"Mau, Tante. Ka-kalau dibolehkan." Kedua mata Aretha berkaca-kaca.


Setelah drama, Aretha kini diboyong Alana. Sosok yang tidak memiliki ikatan apapun dengan keluarga Wijaya. Tentu saja Elena memiliki niat agar nantinya bisa dijodohkan dengan kelusrga Wijaya. Siapa yang tidak mengenal sosok Alana alias Lady? Sosok yang mendampingi Elena sejak kecil di dunia kegelapan. Sama seperti Elena, Alana juga sudah menikah dengan sosok Erzi. Anak buah Rendy Saputra Wijaya di geng mafia Dark Knight.


"Aduh, aku punya anak perempuan. Ayo, pulang ke kediamanku." Alana tampak antusias.

__ADS_1


Aretha tak membawa apapun. Hanya membawa diri yang sudah berganti dengan pakaian indah. Senyum Aretha mengembang. Seumur hidupnya ia tak pernah mengenakan baju yang indah.


"Tante Alana, terima kasih." Aretha membungkukkan badannya. Seulas senyuman kini mengembang di bibirnya. Imbuhnya, "Sa-saya tinggal di mana? Apa akan kembali ke panti itu?"


"Siapa yang bilang? Kamu mau kan jadi anak angkat tante? Kamu akan memiliki seorang kakak laki-laki. Dia bisa menjagamu. Kau mau kan?" tanya Alana.


"Tapi, aku tak pernah mengenal Tante Alana sama sekali." Aretha menggumam lirih.


"Tante Alana berasal dari keluarga Winata. Kamu ingin kembali berkumpul dengan Sabrina kan? Maka dari itu, ikutlah Tante Alana. Dia berasal dari keluarga Winata. Kamu tahu keluarga itu kan?" Elena meyakinkan Aretha. Tampak gadis itu berpikir sejenak dan menganggukkan kepala. Imbuh Elena, "Mamanya Sabrina ini berasal dari keluarga Winata. Oh, papa dan mama sudah tahu kan rencanamu mengadopsi anak ini?"


Alana mengangguk. "Sudah. Mereka bilang, rumah pasti akan ramai. Karena cucu-cucuku sebelum inu tidak ada yang kemari. Lumayan, menambah satu cucu setiap satu minggu sekali harus menginap. Tahu kan? Mama Monica bagaimana? Kamu sih. Anak banyak nggak ada yang nginap ke sana sesekali. Anakku laki-laki ya gitu lah."


"Setelah ini, Ergi pasti cepat mengurus surat adopsi yang sah. Mengingat kehebatannya di dunia politik. Begitu kan Nyonya Bupati yang terhormat?" Elena menyindir Alana.


"Jangan menggangguku begitu. Ayo, kita ke rumahku." Alana bangkit berdiri. Sedangkan Aretha masih sja mematung di tempatnya. Aretha bahkan terus menatap wajah Alana dengan takut-takut.


"Ya Allah, aku pasrah. Jika memang Tante Alana ingin mengadopsiku sebagai anak, kumohon agar ia amanah. Aku ... Ingin sekali hidup normal dan bahagia bersama keluarga yang mencintaiku." Aretha membatin.

__ADS_1


__ADS_2