Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 378. Canggung


__ADS_3

Sabrina menggeliat pelan. Rasanya tubuh remuk redam, karena semalam. Mengingat semalam, mendadak wajah Sabrina memanas. Perlahan, Sabrina melirik sosok yang masih tidur di sebelahnya. 


Lagi, wajah Sabrina merona saat melihat banyak cakaran di tubuh William. Tubuh William yang telanjang. Begitu pula dengan tubuhnya sendiri. Sabrina pun bergerak. Ia harus segera membersihkan diri.


"Ini bukan salahku. Toh, dia yang mulai. Aduh, sakit semua badanku," lirih Sabrina.


Gadis itu perlahan bangkit. Sesekali Sabrina meringis saat bergerak. Pangkal pahanya terasa menyakitkan dan perih. Pertempuran tadi malam benar-benar membuat Sabrina melupakan rasa sakit itu. Padahal, itu adalah hal yang pertama baginya. Saat Sabrina hendak menurunkan kaki, tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya.


"Kya!" Sabrina terjatuh kembali ke atas ranjang.


"Em, kau mau kemana? Di sini sebentar," ucap William dengan kedua mata yang tertutup. 


Hal itu membuat darah Sabrina berdesir. Terlebih, William menggosok hidungnya ke pipi Sabrina. Membuat tubuh Sabrina membeku.


"Un-Uncle, aku harus segera mandi." Sabrina mencoba memberontak. Tetapi nihil. Karena tenaganya terkuras, Sabrina mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa membolos sehari saja? Ayolah, kau sudah membuatku mabuk. Masa kau tidak bertanggung jawab," rengek William.


"Tapi, kalau Artur tiba-tiba menggedor kamar ini bagaimana?" tanya Sabrina was-was.


Mendengar nama Artur disebut, kedua mata William terbuka lebar. Ditatapnya Sabrina dengan lekat. Seulas senyuman William sungging. Lalu mendaratkan beberapa kecupan di wajah Sabrina.


"Baiklah. Aku melepaskanmu kali ini. Em, nanti malam lagi ya?" William memainkan kedua alisnya.


"Ih, mesum!" seru Sabrina.


"Hei! Aku sudah berpuasa belasan tahun tahu! Wajar saja, jika aku mesum. Mana punya bini daun muda. Siapa yang tidak mesum?" William berteriak sambil menahan tawa.


Pria itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tersenyum bahagia, dengan kejadian semalam. Di mana ia sangat kepayahan dalam menerobos apa yang telah dijaga oleh Sabrina. Perlahan, William bangkit. Meraih asal boxer yang teronggok di lantai. Pria itu lalu melipat selimut tebalnya. Di atas sprei berwarna putih, terdapat noda darah yang William paham apa itu. Melihat itu, William mengukir senyuman.


"Terima kasih, aku menjadi yang pertama untukmu. Wow, ini di zaman modern. Sungguh langka!" lirih William.

__ADS_1


Artur menyipitkan kedua mata. Mendapati dua manusia yang baru saja turun dari lantai dua. Sang ayah yang tersenyum, bagai mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Tetapi yang satunya, seakan dunia terbalik. Sabrina memasang wajah kesal dan terlihat berantakan. Padahal, biasanya Sabrina selalu turun dalam keadaan rapi.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Artur.


"Diamlah! Makan sarapanmu. Kita harus segera berangkat!" tandas Sabrina.


"Kenapa moodnya buruk sekali pagi ini? Apa ayah melakukan sesuatu? Cemburu lagi? Yah, mau bagaimana pun ayahku ini kan cemburu tanpa alasan yang benar. Jelas sekali jika Sabrina marah." batin Artur.


Dalam perjalanan ke kampus, Sabrina maupun William sama-sama membisu. Begitu pula dengan Artur. Bibir Artur mengerucut. Entah situasi apa yang tercipta. Padahal, jarang sekali Sabrina marah dan merajuk seperti ini. Beruntung, situasi canggung itu berakhir dengan mobil yang telah sampai di depan kampus Sabrina dan Artur.


"Terima kasih," ucap Sabrina. 


Gadis itu berusaha membuka pintu. Tapi, William justru mengunci otomatis semua pintu mobil tersebut. Membuat Sabrina menoleh dengan bibir yang mengerucut ke depan. Sebelum Sabrina protes, tiba-tiba William menyodorkan tangannya.


"Salim dulu sama suami!" dengus William.

__ADS_1


__ADS_2