Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 317. Topik.


__ADS_3

"Seperti yang aku bilang, bagaimana dengan tawaranku? Kesempatan hanya datang 1x saja. Aku tidak main-main, dengan apa yang aku katakan." Rendy mengatakan inti dari pertemuan malam ini.


Dasar, Papa. Dia benar-benar, tak bisa diajak basa-basi. Sabrina membatin.


"Iya. Sepertinya, aku juga tidak bisa mundur." William melirik ke arah Sabrina.


Lagi, Sabrina mengacuhkan keberadaan William. Di sampingnya, Artur membisu. Bocah remaja itu, menatap lekat pada Sabrina yang bersedekap di dada.


"Bagus. Kita akan melaksanakan akad, satu bulan lagi," ucap Rendy.


"Satu bulan lagi? Ren, ini kayaknya terlalu cepat. Aku dan Sabrina, bahkan belum saling mengenal! Jngan konyol, Ren. Lebih lagi, memangnya ada orangtua yang menginginkan anak gadis mereka menikah dengan duda. Jangan konyol, kita pikirin lagi saja," tolak William dengan halus.


"William. Kamu tahu posisimu saat ini? Kau bukan berada di pihak yang bisa menolak. Bagiku ketika kau bersedia menerima bantuanku, itu berarti kau sudah mengiyakan segala resikonya." Rendy menatap William dengan raut yang berbeda, dari biasanya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan, Nyonya? Apa Anda setuju, menikahkan saya dengan Sabrina?" tanya William.


Kalau aku tidak setuju, maka pasukanku juga tidak ada yang memimpin! Sialan! Aku sudah mentah-mentah menolak, keputusan Rendy. Sayangnya aku benar-benar pasrah. Ketika Rendy mengatakan, hanya Sabrina yang pantas menggantikan kursi ketua mafiaku yang kosong. Memang sih. Sebagai ibu rumah tangga, aku tidak ada waktu untuk terjun mengurus para pasukanku yang kehilangan arah. Tapi, sebagai ibu aku juga ingin Sabrina hidup seperti gadis kebanyakan. Bukan sebagai ketua mafia, yang hidupnya bisa terenggut kapan saja. Elena melamun. Pikirannya tertuju pada perdebatannya, dengan Rendy kala itu.


"Nyonya?" panggil William. Hal itu membuat Elena, tersadar kembali. "Kenapa Anda melamun?"


"Aku setuju. Maka dari itu, sesuai dengan rencana dari suamiku saja. Bulan depan," timpal Elena.


Sabrina menoleh. "Bu-bulan depan? Secepat itu? Apa tidak bisa, diundur sampai aku lulus sekolah? Rasanya lucu, aku masih sekolah tetapi sudah menikah." Sabrina memprotes.


William menghela napas. Pria itu menggelengkan kepala. "Tidak ada."


Artur memandang Sabrina lagi. Kali ini dengan tatapan, yang sulit diartikan. Bocah remaja itu, menyadari kekuasaan papa Sabrina. Bahkan sang ayah saja, bisa ditekan.

__ADS_1


"Baiklah, kau akan terima beres saja. Ayo kita makan malam." Rendy bangkit. Disusul oleh Elena.


Sabrina melakukan hal yang sama. Ia berjalan dengan langkah lebar-lebar. Menghindari tatapan membunuh, dari William. Sabrina mengekor di belakang Rendy dan Elena, menuju meja makan. Begitu pula dengan Artur dan William. Mengikuti mereka dalam diam.


Seminggupun berlalu. Tepat hari Sabtu, Sabrina menjejakkan kaki mtepat di camp pelatihan calon pasukan. Seperti biasa, Danar telah menunggu kedatangan Sabrina.


"Selamat datang, Nona Sabrina," sambut Danar.



Danar mengedarkan pandangan. Para calon pasukan itu, memang menantikan kedatangan Sabrina. Seperti satu Minggu yang lalu, hari ini Sabrina menjadi pusat perhatian. Terlebih, Sabrina mengenakan pakaian serba hitam. Dimana Sabrina menjadi elegant dan juga penuh pesona.


Sabrina melakukan pemanasan. "Paman, memangnya hari kini kita berlatih apa?"

__ADS_1


"Fisik. Aku ingin tahu, seberapa hebatnya kemampuan ilmu beladiri campuran milikmu. Ingatlah, posisimu nantinya adalah yang tertunggi dari kami semua. Apa tidak malu, jika kemampuanmu berada di bawah kami?" sindir Danar.


"Paman Danar, mau aku ledakkan tempat ini?" balas Sabrina.


__ADS_2