Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 164


__ADS_3

"Tidurlah nak. Semoga kamu sehat selalu. Bunda akan selalu menyayangimu," mengecup pucuk kepala Rendy.


"Sayang, Rendy sudah tidur?"


"Sudah mas, sepertinya dia lelah. Mas Ardan juga istirahatlah. Udah habis bakso chuankynya?" melirik mangkuk kosong diatas nakas.


"Sudah sayang. Rasanya lezat sekali, sekarang aku kenyang," mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


"Gimana nggak kenyang? Mas Ardan udah habis berapa mangkuk tadi?" ucap Ani menekankan kata berapa mangkuk.


"Hehe... entahlah sayang tadi punya Rendy juga habis. Sayang kalau nggak dihabisin. Padahal enak dan lezat," Ardan mengamati tubuh mungil istrinya. Raut wajah yang sendu itu menampakkan semburat lelah. Mungkin bawaan dari kehamilannya.


"Kenapa mas Ardan ngliatin aku kayak gitu?"


"Kamu cantik sayang," ucap Ardan sembari tersenyum. Rasanya kebahagiaannya kini lengkap sudah. Anak pertamanya beberapa bulan lagi akan hadir kedalam rumah tangganya. Rasanya sempurna sudah hidupnya karena memiliki seorang istri yang penuh kasih sayang. Ardan menatap lekat istrinya yang tengah menyantap chuanky miliknya. Padahal sudah dingin karena Rendy terlebih dahulu merengek karena mengantuk.

__ADS_1


"Apa sih mas,"


Kesederhanaan dan apa adanya. Itulah yang membuat Ardan jatuh cinta pada istrinya. Seorang wanita janda dengan satu anak. Membuatnya bertekuk lutut. Ardan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Kini dia bangkit mendekati istrinya, kemudian membisikkan sesuatu yang memberikan semburat merah muda dipipi istrinya.


"Aku kan mengatakan yang sebenarnya sayang. Makanlah... setelah ini aku yang akan memakanmu," bisikan Ardan mampun membuat istrinya tersenyum malu.


"Ada Rendy mas,"


"Apanya? Kan ada sofa," Ardan tersenyum licik.


"Kita kan bisa melakukannya disofa sayang. Kata dokter sudah boleh bukan kita melakukan hubungan suami istri? Aku sudah berpuasa lebih dari sebulan loh!"


"Di sofa?" kening Ani berkerut. Membayangkan sofa sesempit itu bagaimana bisa melakukannya?


"Kenapa? Sudahlah sayang habiskan itu dulu. Aku siapkan baju tidurmu," melenggang pergi menuju lemari pakaian istrinya.

__ADS_1


"Uhuk," Ani tau apa maksud dari baju tidur. Itu artinya kain transparant yang berenda.


"Mas...bisakah kita tunda dulu?" matanya mengamati sosok bocah yang kini tertidur diatas ranjang. Kemudian matanya berganti mengamati gerak-gerik suaminya.


"Ini sayang. Kenapa malah menatapku?" menyerahkan pakaian transparant nan tipis itu kepangkuan istrinya jangan lupakan renda yang menghiasi sisi-sisinya.


"Mas...ada Rendy,"


"Apa yang kamu takutkan? Kita kan bisa mematikan lampu sayang. Nggak mungkin juga nanti aku salah lubang. aku sudah hafal betul dengan lubangmu,"


Oh ya ampun! Kenapa suamiku gila begini? Aaahh mesum.


Ani meneguk salivanya. Matanya membulat melihat reaksi suaminya yang tengah senang menantikan jatahnya. Usia kandungannya yang sudah menginjak 3 bulan itu sempat membuat Ardan harus berpuasa selama satu bulan lebih. Entah kenapa Ani merasakan bahwa kini Ardan cenderung lebih mesum dari biasanya. Biasanya laki-laki yang saat ini tengah berumur 38 tahun itu memulai aksinya dengan sentuhan-sentuhan lembut. Tapi kali ini tidak, apa mungkin karena Ardan telah lama berpuasa membuatnya sedikit gesrek. Sekarang laki-laki itu bahkan berani mengatakan sesuatu yang kadang membuatnya risih. Seperti kali ini bahkan laki-laki itu berani mengatakan lubang. Dan apa katanya tadi? Tidak akan salah lubang karena sudah hafal lubang kenikmatan miliknya. Ah ya ampun tiba-tiba bulu romanya merinding.


"Sayang... segera habiskan makananmu bukankah kita harus memulai sesuatu yang indah? Bukankah ini saatnya kita berolahraga malam?"

__ADS_1


__ADS_2