Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Chapter Bonus. Sebuah Hukuman.


__ADS_3

"Rendy," panggil lirih Johan. Lelaki itu mendesah. Air mata telah menganak sungai di kedua pipinya. Jika ia mampu memutar waktu, mungkin dia akan melakukannya untuk kembali ke masa muda dulu. Saat dirinya masih hidup bahagia bersama Mariani. Sosok seorang istri yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Namun, dirinya dibutakan akan cemburu buta. Tanpa tau kebenarannya, dirinya menuduh Mariani berselingkuh. Gara-gara Intan, wanita yang dulu menginginkannya. Johan menutup kedua matanya. Percuma, karena inilah dimana dia menanggung karma atas apa yang pernah ia lakukan. Rendy, dulu ia tolak hanya karena meragu entah itu anaknya atau bukan. Dirinya begitu dibutakan oleh ego yang tinggi.


"Bagaimana Ayah? Katakan tentang laki-laki ini. Aku sudah menunggu sangat lama untuk hal ini," desak Rendy dengan ekspresi yang datar. Sedangkan Johan, hanya mampu duduk bersimpuh di lantai dengan hati yang hancur.

__ADS_1


"Huft, kau benar Nak. Aku adalah ayah sambungmu. Lelaki itu ayah kandungmu. Tapi yakinlah Rendy, ayah sangat mencintaimu dan menyayangimu seperti anak ayah sendiri. Tak ada bedanya kau dengan adik-adikmu, Nak," kata Ardan dengan hati-hati. Kedua matanya berkaca-kaca. Takut, jika Rendy akan emosi dan marah padanya karena menyembunyikan hal ini selama bertahun-tahun.


"Aku hanya ingin mendengar hal itu darimu, Ayah. Dan kau?" Rendy berganti menatap Johan. "Kemana kau dulu? Kau bahkan tak mengakuiku sebagai anakmu sedikitpun. Lalu setelah puluhan tahun kau baru datang dan melemparkan dirimu kepadaku. Kemudian mengaku-ngaku sebagai ayahku? Sungguh, aku ingin membuang darahmu yang mengalir ditubuhku. Aku merasa hina memiliki seorang ayah sepertimu!"

__ADS_1


"Aku tak mengerti padamu. Kau bisa menjalani hidupmu tanpa beban. Sedangkan aku? Aku dan ibundaku menderita karena kemiskinan dan ibundaku harus berjuang untuk mendapatkan haknya. Sayangnya, hukum tumpul keatas dan tajam kebawah. KDRT yang kau lakukan, hanya membuatmu dipenjara 1 bulan lamanya! Sedangkan ibundaku harus berjuang hidup dan mati karena luka sayatan di punggungnya! Apa kau tidak pernah berfikir? Apa yang kau lakukan itu membekas hingga detik ini!" teriak Rendy.


Seketika Johan segera mendongakkan wajahnya menatap Mariani. Wanita itu masih sama, terkesan ayu dan anggun. Bahkan aura keibuannya jauh melekat padanya. Sungguh, Johan begitu terkesima melihat mantan istrinya. Wanita itu seakan tak menua dimakan usia. Menyesal? Jangan ditanya lagi. Bahkan hatinya kini hancur. Mendapati keadaan yang berbanding terbalik dengan masa lalu. Kini dirinya berada dititik paling bawah. Sedangkan Mariani, berada dititik paling atas.

__ADS_1


"Ampuni aku, Rendy. Aku menyesal. Aku hanya ingin pengakuanmu Nak. Jika kau tak ingin mengakuiku sebagai ayahmu, tak apa Nak. Ini hukuman untukku karena telah menelantarkanmu. Ini juga hukuman untukku karena dulu aku meragukanmu. Maafkan aku, Nak. Paling tidak, saat ini kau telah mengetahui kebenarannya. Tak apa jika ini merupakan sebuah hukuman untukku," kata Johan dengan nada yang lesu. Lelaki itu telah menyerah. Tak mampu menghancurkan tembok besar yang dibangun oleh Rendy untuk membentengi hatinya.


__ADS_2